McLaren Senna merupakan salah satu mobil jalan raya paling ekstrem yang pernah dibuat McLaren Automotive. Mobil ini diperkenalkan pada akhir 2017 sebagai bagian dari keluarga Ultimate Series dan sejak awal dikembangkan dengan satu sasaran utama, yaitu mengejar performa setinggi mungkin di sirkuit tanpa kehilangan status legal untuk digunakan di jalan umum. Pendekatan tersebut membuat bentuk, bobot, aerodinamika, mesin, rem, hingga kabinnya hampir seluruhnya diarahkan untuk kecepatan.
Nama Senna tentu membawa tanggung jawab besar. McLaren memilih nama Ayrton Senna, juara dunia Formula 1 tiga kali yang memiliki hubungan sangat kuat dengan tim asal Woking tersebut. Senna memenangkan ketiga gelar dunianya bersama McLaren pada 1988, 1990, dan 1991. Mobil ini kemudian dirancang untuk membawa karakter yang identik dengan pembalap Brasil itu, terutama fokus kepada pengemudi, ketepatan, kecepatan, dan kemampuan mengejar waktu putaran.
Nama Ayrton Senna Tidak Dipasang Sekadar untuk Menarik Perhatian
Menggunakan nama Ayrton Senna pada sebuah mobil bukan keputusan ringan. Hubungan Senna dengan McLaren termasuk salah satu bagian paling terkenal dalam sejarah Formula 1. Bersama tim tersebut, ia meraih tiga gelar juara dunia dan mencatat banyak kemenangan yang membuat namanya terus dikaitkan dengan McLaren.
Bruno Senna, keponakan Ayrton Senna sekaligus pembalap dan duta McLaren, pernah menjelaskan bahwa mobil tersebut dianggap sesuai membawa nama pamannya karena seluruh pengembangannya berpusat pada pengemudi serta hubungan langsung antara manusia dan kendaraan. Filosofi tersebut terlihat pada kemudi, posisi duduk, pedal, visibilitas, serta respons mobil ketika dikendalikan.
McLaren juga tidak mencoba menjadikan Senna sebagai grand tourer mewah yang sekaligus cepat. Kenyamanan bukan prioritas tertinggi. Kecepatan putaran menjadi pertimbangan yang lebih besar dibanding kehalusan berkendara atau ruang bagasi.
Menurut penulis, keberanian McLaren menggunakan nama Senna terasa lebih masuk akal karena mobil ini tidak dibuat sebagai produk mewah yang hanya mengandalkan nama besar seorang legenda.
Keputusan tersebut kemudian menghasilkan sebuah mobil yang terlihat sangat berbeda dibanding McLaren P1. Jika P1 berusaha menggabungkan kemampuan jalan raya dan sirkuit dalam satu paket, Senna lebih terang terangan memilih sisi sirkuit.
Mesin V8 4,0 Liter Menghasilkan Tenaga 800 PS
Di balik kabin terdapat mesin V8 berkapasitas 3.994 cc dengan dua turbocharger. Mesin tersebut menghasilkan tenaga maksimum 800 PS atau sekitar 789 bhp dan torsi 800 Nm.
Angka tersebut mungkin terlihat lebih rendah dibanding beberapa hypercar hybrid yang sudah melampaui 1.000 PS. Namun Senna tidak mengejar angka tenaga semata. McLaren menggabungkan mesin tersebut dengan bodi yang sangat ringan sehingga rasio tenaga terhadap bobotnya mencapai sekitar 668 PS per ton.
Tenaga disalurkan menuju roda belakang. Karakter mesinnya juga dibuat sangat responsif untuk memenuhi kebutuhan penggunaan di lintasan.
Tidak adanya sistem hybrid seperti pada McLaren P1 ikut membantu mengurangi kompleksitas dan berat kendaraan. Pendekatan tersebut membuat hubungan antara pedal gas dan mesin terasa lebih langsung.
McLaren tidak mencoba mengejar kecepatan tertinggi sebagai satu satunya ukuran kemampuan. Perusahaan justru lebih tertarik pada akselerasi, pengereman, perubahan arah, dan kestabilan ketika mobil memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi.
Akselerasi 0 Sampai 100 Km Per Jam Hanya 2,8 Detik
Dengan tenaga 800 PS dan bobot rendah, kemampuan akselerasi McLaren Senna berada di tingkat yang sangat tinggi. McLaren mencatat akselerasi dari posisi diam hingga 100 km per jam dapat diselesaikan dalam 2,8 detik.
Kecepatan 200 km per jam dapat dicapai dalam 6,8 detik. Sementara kecepatan tertinggi resminya mencapai 335 km per jam.
Menariknya, angka 335 km per jam bukan bagian yang paling menonjol dari Senna. Beberapa hypercar memiliki kecepatan tertinggi lebih tinggi, termasuk McLaren F1 klasik.
Senna memang sengaja membawa hambatan udara yang lebih besar karena sistem aerodinamikanya dirancang menghasilkan tekanan ke bawah sangat tinggi.
Di lintasan lurus panjang, hambatan udara dapat sedikit membatasi kecepatan maksimum. Namun ketika memasuki tikungan, tekanan tersebut membantu ban mempertahankan hubungan dengan permukaan lintasan.
Inilah alasan mengapa Senna tidak bisa dinilai hanya berdasarkan kecepatan tertinggi. Mobil tersebut dibuat untuk mendapatkan waktu putaran, bukan memenangkan perbandingan angka kecepatan maksimum.
Aerodinamika Menjadi Senjata Utama McLaren Senna
Melihat McLaren Senna untuk pertama kali, perhatian biasanya langsung tertuju pada sayap belakang berukuran sangat besar. Bentuknya mungkin tidak memiliki kehalusan seperti beberapa supercar Italia, tetapi hampir setiap bagian mempunyai fungsi aerodinamika.
Pada kecepatan tinggi, Senna mampu menghasilkan tekanan ke bawah hingga sekitar 800 kg. Angka tersebut berada jauh di atas banyak mobil jalan raya lain dan memperlihatkan seberapa serius McLaren mengejar kemampuan menikung.
Sayap belakang bekerja secara aktif.
Sudutnya dapat berubah mengikuti kondisi kendaraan. Ketika membutuhkan tekanan lebih besar di tikungan, sistem dapat menyesuaikan posisinya. Ketika mobil melaju sangat cepat di lintasan lurus, sudut dapat berubah untuk mengurangi hambatan.
Saat pengereman, sayap tersebut juga dapat membantu menjaga stabilitas kendaraan.
Menariknya, bagian bawah sayap justru memiliki peranan besar menghasilkan tekanan ke bawah. Oleh karena itu, penyangga sayap dipasang dari sisi atas agar aliran udara pada bagian bawah tetap bersih.
Bagian depan juga memiliki elemen aerodinamika aktif yang bekerja bersama sayap belakang untuk mengatur keseimbangan kendaraan.
Sayap Belakang Hanya Berbobot Sekitar 4,89 Kg
Ukuran sayap belakang Senna dapat memberikan kesan bahwa komponen tersebut sangat berat. Kenyataannya justru sebaliknya.
Sayap berbahan serat karbon tersebut hanya mempunyai bobot sekitar 4,89 kg. Walaupun ringan, strukturnya mampu menangani beban yang besarnya lebih dari seratus kali bobot sayap itu sendiri.
Hal tersebut memperlihatkan seberapa jauh McLaren mengejar pengurangan berat.
Tidak cukup hanya menggunakan serat karbon untuk panel besar. Setiap komponen dipelajari untuk mengetahui apakah bobotnya masih dapat dikurangi tanpa mengorbankan kekuatan.
Bahkan mekanisme pintu dan kursi ikut menjadi bagian dari program tersebut.
Satu pintu Senna mempunyai bobot sekitar 9 kg, hampir setengah berat pintu McLaren 720S. Rangka kursinya bahkan hanya sekitar 3 kg. Beberapa bagian panel bodi juga dibuat sangat tipis.
Pendekatan seperti inilah yang akhirnya menghasilkan berat kering hanya 1.198 kg.
Berat 1.198 Kg Membuat Senna Sangat Ringan untuk Kelasnya
Angka 1.198 kg sangat rendah untuk sebuah hypercar modern dengan mesin V8 twin turbo 800 PS.
Sebagai perbandingan, banyak mobil performa tinggi modern mempunyai bobot lebih dari 1.500 kg karena membawa baterai besar, motor elektrik, sistem kenyamanan, dan perlengkapan tambahan.
Senna memilih arah berbeda.
McLaren menyatakan mobil tersebut menjadi McLaren jalan raya paling ringan sejak McLaren F1 pada saat diperkenalkan. Berat DIN yang sudah memperhitungkan cairan tertentu berada sekitar 1.309 kg.
Bobot rendah memberikan keuntungan pada hampir seluruh aspek berkendara.
Mobil lebih cepat berubah arah, rem tidak perlu menahan massa terlalu besar, suspensi dapat bekerja lebih efektif, dan mesin tidak harus mendorong kendaraan yang berat.
Karena itu, kemampuan Senna tidak berasal dari satu komponen tertentu. Mesin, bobot, aerodinamika, rem, dan suspensi saling bekerja untuk menciptakan mobil yang sangat fokus.
Pengereman Bisa Lebih Mengejutkan daripada Akselerasinya
Hypercar biasanya mendapatkan perhatian besar karena kemampuan akselerasinya. Pada Senna, kemampuan berhenti justru menjadi salah satu bagian yang paling ekstrem.
McLaren mencatat Senna dapat berhenti dari 100 km per jam dalam jarak sekitar 29,5 meter. Dari 200 km per jam hingga berhenti sepenuhnya, jaraknya sekitar 100 meter.
Angka tersebut diperoleh melalui perpaduan sistem pengereman berkemampuan tinggi, bobot rendah, ban performa, dan bantuan aerodinamika aktif.
Ketika pengemudi melakukan pengereman keras dari kecepatan tinggi, sayap belakang ikut mengubah posisi dan membantu mobil menjaga kestabilan.
Kemampuan pengereman Senna sangat ekstrem sehingga pengemudi perlu menyesuaikan titik pengereman ketika berada di lintasan. Mobil dapat mempertahankan kecepatan lebih lama sebelum pedal rem ditekan mendekati tikungan.
Kemampuan seperti ini sangat penting dalam mengejar waktu putaran. Mobil yang dapat melakukan pengereman lebih dekat menuju tikungan mempunyai kesempatan mempertahankan kecepatan lebih lama di lintasan lurus.
Bentuk Eksterior Mengutamakan Fungsi daripada Kecantikan
Ketika pertama diperlihatkan kepada publik, desain McLaren Senna langsung memunculkan perdebatan.
Beberapa orang menganggapnya terlalu rumit. Bagian depan dipenuhi saluran udara. Sisi bodi mempunyai lubang besar. Sayap belakangnya sangat tinggi. Diffuser belakang terlihat seperti komponen mobil balap.
Namun McLaren sejak awal tidak menjadikan kecantikan konvensional sebagai prioritas.
Aliran udara menentukan banyak bagian bodi. Udara diarahkan menuju radiator, mesin, rem, bagian bawah kendaraan, serta perangkat aerodinamika lainnya.
Seluruh detail dibuat dengan alasan tertentu, termasuk celah pada sekitar pilar depan yang membantu mengarahkan udara menuju lubang masuk besar di sisi kendaraan.
Hasilnya memang tidak menyerupai supercar dengan garis bodi sederhana.
Namun ketika mobil melaju cepat di sirkuit, bentuk tersebut mulai menjelaskan tujuannya.
Menurut penulis, Senna justru menarik karena McLaren berani menerima desain yang kontroversial demi mendapatkan kemampuan aerodinamika yang diinginkan.
Pintu Kaca Memberikan Pengalaman yang Tidak Biasa
Salah satu elemen Senna yang paling mudah dikenali adalah pintu dihedral dengan panel transparan pada bagian bawah.
Ketika pengemudi duduk di dalam mobil, bagian kaca tersebut memungkinkan permukaan jalan terlihat dari samping.
Visibilitas tersebut dapat membantu pengemudi melihat posisi kendaraan ketika mencari garis balap di lintasan.
Pintu dibuka ke arah atas sebagaimana banyak model McLaren lainnya, tetapi bentuk dan konstruksinya dibuat khusus untuk Senna.
Kabinnya juga mempertahankan pendekatan minimalis.
Serat karbon terlihat pada banyak bagian. Kursinya sangat ringan dan dirancang memegang tubuh pengemudi dengan kuat ketika kendaraan menghasilkan gaya lateral tinggi.
Perlengkapan yang tidak memberikan keuntungan terhadap aktivitas mengemudi dikurangi sebanyak mungkin.
Bahkan Senna hampir tidak menyediakan ruang bagasi seperti mobil jalan raya pada umumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu kompromi yang harus diterima pemilik.
Hanya 500 Unit Dibuat dan Semuanya Terjual
Eksklusivitas Senna semakin tinggi karena produksinya dibatasi hanya 500 unit.
Setiap mobil dirakit secara manual di McLaren Production Centre di Woking, Surrey, Inggris. Proses perakitan setiap kendaraan membutuhkan waktu yang panjang karena banyak komponen dikerjakan dengan perhatian tinggi.
Harga awal di Inggris ditetapkan sekitar 750.000 pound sterling termasuk pajak.
Jumlah tersebut belum memperhitungkan berbagai pilihan personalisasi dari McLaren Special Operations.
Menariknya, seluruh alokasi sudah memiliki pembeli bahkan sebelum produksinya berjalan penuh. Model terbatas tersebut langsung terjual habis ketika diperkenalkan.
Unit produksi terakhir bahkan dilelang pada acara pribadi McLaren pada Desember 2017 dengan nilai jauh melebihi harga dasar.
Kelangkaan ini membuat Senna tidak hanya menjadi hypercar performa tinggi, tetapi juga kendaraan koleksi.
McLaren Senna Berbeda Jauh dari P1
P1 dan Senna sama sama berada dalam keluarga Ultimate Series, tetapi tujuan keduanya cukup berbeda.
McLaren P1 menggunakan sistem hybrid dengan mesin V8 twin turbo yang digabungkan motor elektrik. Mobil tersebut dirancang untuk menawarkan performa sangat tinggi sekaligus tetap mempunyai kemampuan penggunaan jalan raya yang lebih luas.
Senna tidak memakai motor listrik.
Tenaganya memang lebih rendah daripada P1, tetapi bobotnya jauh lebih ringan dan tekanan aerodinamikanya sangat besar.
Senna menghasilkan sekitar 800 kg tekanan ke bawah pada kecepatan tinggi, angka yang jauh melampaui kemampuan banyak mobil jalan raya lain.
Perbedaan filosofi tersebut membuat P1 dan Senna tidak benar benar bersaing untuk peran yang sama.
P1 menunjukkan bagaimana teknologi hybrid dapat menghasilkan performa ekstrem. Senna menunjukkan seberapa jauh mobil legal jalan raya dapat diarahkan menuju karakter mobil sirkuit.
Suspensi Aktif Menjaga Mobil Tetap Stabil di Kecepatan Tinggi
Kinerja aerodinamika Senna harus didukung oleh suspensi yang mampu mengendalikan perubahan beban sangat cepat.
McLaren menggunakan sistem suspensi aktif yang dirancang bekerja bersama perangkat aerodinamikanya. Sistem tersebut dapat menyesuaikan respons kendaraan berdasarkan kondisi berkendara.
Damper adaptifnya saling terhubung secara hidraulis dan mampu melakukan perubahan strategi dalam waktu sangat singkat. Tujuannya menjaga bodi tetap terkendali ketika kendaraan mengerem, berbelok, atau berakselerasi.
Pada mobil yang mampu menghasilkan tekanan ke bawah ratusan kilogram, pengendalian ketinggian bodi menjadi sangat penting.
Jika posisi kendaraan berubah terlalu banyak, aliran udara di bawah mobil juga dapat berubah. Sistem suspensi harus menjaga posisi yang sesuai agar diffuser, splitter, serta komponen aerodinamika tetap bekerja efektif.
Pengendalian inilah yang membuat Senna dapat mempertahankan kestabilan luar biasa ketika berada pada kecepatan yang biasanya sudah sangat sulit ditangani oleh mobil jalan raya.
Senna GTR Membawa Kemampuan Sirkuit ke Tingkat Lebih Tinggi
Setelah Senna versi jalan raya, McLaren membuat Senna GTR yang dirancang khusus untuk lintasan dan tidak dibatasi kebutuhan homologasi jalan raya.
Mesin V8 4,0 liternya ditingkatkan menjadi sekitar 825 bhp. Torsi tetap berada di sekitar 800 Nm, tetapi pengiriman tenaga dapat dipertahankan lebih lama pada putaran tinggi.
Senna GTR juga mendapatkan perubahan besar pada aerodinamika.
Karena tidak harus memenuhi aturan kendaraan jalan raya, splitter dapat dibuat lebih besar, posisi sayap dapat diubah, dan berbagai tambahan aerodinamika dapat digunakan secara lebih agresif.
Tekanan ke bawah yang dihasilkan mampu melampaui satu ton pada kecepatan tinggi. Berat keringnya sekitar 1.188 kg, hanya sedikit lebih ringan dibanding Senna standar, tetapi kemampuan menikungnya meningkat berkat aerodinamika serta komponen suspensi yang lebih dekat dengan mobil balap.
Perbedaan antara Senna biasa dan GTR sekaligus memperlihatkan betapa ekstremnya versi jalan raya sejak awal. Senna standar sudah menghasilkan tekanan ke bawah sekitar 800 kg, memakai sayap aktif besar, bobot di bawah 1,2 ton dalam kondisi kering, serta memiliki kemampuan pengereman yang membuat pengemudi perlu menyesuaikan kembali titik pengereman mereka ketika berada di sirkuit.


Comment