oleh

Zikir Di Puncak

ZIKIR umumnya diartikan menyebut dan mengingat. Di saat seseorang menyebut sesuatu maka saat itu pula ia mengingat sesuatu itu.

Begitu pula ketika seseorang menyebut nama Allah, maka saat itu dia sedang mengingat Allah.

Demikian pula sebaliknya, di saat seseorang mengingat Allah biasanya diikuti dengan menyebut nama-Nya.

Zikir seyogyanya dilakukan kapan dan dimana saja. Tidak mengkhususkan waktu dan tempat. Tidak juga mengkhususkan momen tertentu dan kesempatan tertentu.

Zikir dilakukan di saat seseorang berada di puncak senang dan bahagia. Karena saat itulah, Allah juga memberi nikmat secara maksimal.

Sebaliknya, zikir juga dilakukan pada saat kita berada di puncak derita. Padahal kejadian yang kerap terjadi, baru pada saat seseorang berada di puncak derita, baru pula saat itu dia memperbanyak zikir kepada Allah.

Zikir juga acap kali dilakukan pada saat seseorang berada di puncak sedih dan duka. Saat itu dia benar-benar berada di puncak pengharapan kepada pertolongan Allah swt. Allah-lah satu-satunya tempat mengadu dan mencurahkan isi hati atas gundah dan lara yang sedang melanda.

Momen itu dia merasa sangat dekat dengan Allah. Nyaris tidak ada hijab antara dia dengan Allah. Sungguh sangat diharap zikir di puncak gundah gulana itu juga diwujudkan di puncak gembira dan suka. Adalah sikap yang amat disukai oleh Allah ketika seseorang mampu berzikir di saat gembira dan suka mencapai puncaknya.

Zikir kala itu merupakan bukti ekspresi rasa terima kasih dan syukur yang tak terhingga kepada Allah.

Dalam kenyataan kehidupan kita, hampir setiap orang melakukan zikir di saat dia berada dalam keadaan tak kuasa sama sekali.

Segala kelebihan dan kehebatan yang dimiliki raib dari genggamannya. Kekuasaan tak lagi disandangnya, penghormatan dari para bekas bawahannya tidak ada lagi, dan kursi singgasananya pun sudah berpindah kepada orang lain.

Karena itulah sering kali diingatkan dari para penganjur Islam dan pendakwah agar tetap berzikir di saat berada di puncak kuasa. Justru saat berada di puncak kuasa itulah zikir dimaksimalkan; baik dalam bentuk lisan maupun tindakan.

Kekuasaan yang sedang dalam genggaman adalah kesempatan untuk menciptakan kebaikan sebanyak mungkin. Semakin banyak kebaikan yang kita ciptakan, maka semakin banyak pula investasi kebaikan yang kelak kita akan nikmati.

Pemandangan yang nyaris sama kita biasa saksikan yaitu banyak orang baru bersungguh-sungguh berzikir pada saat dia berada di puncak lemah. Barulah dia sangat mengharap bantuan dari Allah saat dia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Mulai kekuasaan, harta, pisik, dan kemampuan semua sudah berada di titik nadir lemah.

Karenanya, kencangkan dan maksimalkanlah zikir saat berada di puncak kuat. Di puncak manapun kita berada, zikir tetap dan terus menerus dilakukan. (***)

Komentar

News Feed