oleh

Warga Tolak Tambang Pasir Laut

PASANGKAYU – Pesisir pantai Desa Bambakoro Kecamatan Lariang, Pasangkayu, menarik minat pemodal untuk dijadikan area tambang galian C.

Belum lama berselang, dilakukan pertemuan antara warga dengan pihak pemodal. Pertemuan difasilitasi pemerintah desa, membahas rencana pengerukan pasir laut.

“Sudah satu kali pihak perusahaan datang bermusyawarah dengan warga, di kediaman kepala desa, agar diizinkan menambang pasir laut. Namun, beberapa tokoh masyarakat menolak secara tegas rencana tersebut,” tutur seorang tokoh pemuda Desa Bambakoro, Subhan, saat ditemui di kediamannya, Minggu 21 Juni.

Luas area yang rencananya akan dikelola pihak perusahaan yakni 1.500 hektar. “Jika tetap dipaksakan beroperasi, bukan hanya abrasi yang mengancam. Terumbu karang serta mata pencaharian warga desa Bambakoro yang semuanya adalah nelayan juga akan hilang,” sebut Subhan.

Lebih jauh Subhan menjelaskan, perusahaan galian C di Desa Bambakoro ada tujuh. Namun yang aktif beroperasi hanya sekira tiga. Tapi, itu sudah banyak merusak lingkungan, mulai dari abrasi hingga banjir.

Ia menuding, bencana itu karena ulah perusahaan penambang. Warga sekitar pantai pun semakin terancam, dengan terbentuknya satu muara sungai yang baru, pasca banjir.

“Di sebelah Timur Sungai Lariang mengancam, sebelah selatan sungai yang baru terbentuk setelah banjir juga mengancam karena sudah ada rumah yang rusak. Sementara di baratnya, ombak mengancam karena mengakibatkan abrasi,” keluhnya.

Menurut Subhan, sebelum perusahaan-perusahaan penambang masuk, dirinya sudah mengingatkan kepada pemerintah desa akan dampaknya. Namun tak direspon dengan baik.

“Kepala desa menampik dan meyakinkan, tidak akan erosi dan abrasi. Alasannya, setiap enam bulan sekali beroperasi, ketika terjadi masalah atau dampak lingkungan akan dievaluasi oleh pemerintah kabupaten. Tapi pada faktanya, kerusakan ini sudah kami rasakan sejak tiga tahun terakhir,” pungkasnya. (r3/dir)

Komentar

News Feed