oleh

Warga Dua Dusun Merasa Ditelantarkan

MAMUJU – Relokasi kampung akibat gempa di Majene belum juga terealisasi. Warga dari dua dusun terdampak kini telantar di pengungsian.

Desa Mekatta Kecamatan Malunda merupakan salah satu daerah paling parah, nyaris hilang akibat longsor saat gempa bumi 14-15 Januari, lalu.
Kondisi terkini warga dari Dusun Aholeang dan Dusun Rui di Desa Mekatta, Malunda seperti tak terurus.

Begitu disampaikan Dicky, salah satu relawan yang melakukan pendampingan, mewakili keluhan penyintas gempa di dua dusun tersebut.
Dicky menyebutkan, tiga pekan lalu terakhir kali pihaknya bersama aparat desa melakukan komunikasi bersama Pemdan Majene.

Informasi yang didapatkan bahwa ada 15 dusun yang akan disurvei untuk melihat layak atau tidak untuk direlokasi. Termasuk Aholeang dan Rui.
Hanya saja, hingga Jumat 11 Maret kemarin, baik tim survei apalagi Pemda belum juga berkunjung, baik ke dua dusun itu maupun ke lokasi warga dusun mengungsi.

“Itu jawaban dari tiga minggu lalu, tapi saat ini belum juga muncul, apalagi yang disebut tim surveinya,” beber Dicky, Jumat 11 Maret 2021 lalu.

Kata dia, kondisi pengungsi di dua dusun itu sangat memprihatinkan, karenanya langkah pemerintah dalam melakukan percepatan pemulihan bencana gempa bumi sangat dibutuhkan.

Menurutnya, wacana tentang percepatan pemulihan kini sekadar jadi slogan yang dibesar-besarkan. Kenyataannya berjalan santai. Sementara masyarakat kata dia, kian menderita.

“Kondisi disini, khusus di dua dusun yang kami dampingi, mereka masih di pengungsian, di lahan tetangga kampung mereka. Mereka belum berani ke rumah, apalagi melihat kondisi kampung mereka, timbunan longsor dan kerusakan rumah mereka. Berbeda pengungsi di dusun lainnya, sudah kembali ke rumah mereka membangun tenda di depan rumah,” urai Dicky.

Ia kemudian membeberkan masalah lainnya; “Satu persatu masyarakat menjual harta-benda mereka. Bahkan jual ternak mereka untuk membeli lahan secara mandiri,” sambung Dicky dari Relawan CK-CK di Majene.
Bertahan di Pengungsian salah satu jalan yang ditempuh, hanya saja kondisi saat ini cuaca semakin tidak mendukung.

“Saat ini musim hujan, banyak sakit-sakitan, belum lagi sampah yang tidak ada tempat pembuangan akhir. Kami bingung mau dibuang kemana. Pemerintah seharusnya hadir mengatasi masalah yang dihadapi dua dusun ini,” harap Dicky.

Dia pun mengaku, belum lama ini melakukan komunikasi dengan pihak Dinas Sosial Majene, hanya saja pihaknya belum mendapat kejelasan, apalagi jawaban pasti.

Radar Sulbar mencoba mengonfirmasi Kepala Dinas Sosial Majene, Jafar pada Jumat 11 Maret. Sayang, yang bersangkutan tak berkenan memberikan keterangan via telepon.

Berdasarkan data Bidang Data, Informasi dan Humas Sulbar, per 7 Maret, total penyintas gempa bumi Majene-Mamuju yang masih bertahan di pengungsian tersisa 14. 431 jiwa. Tersebar di 62 titik.

Khusus di Majene tersisa 1.003 pengungsi di tiga titik yakni 237 jiwa di Desa Kabiraan, Kecamataan Ulumanda, sementara di Kecamatan Malunda menyisakan dua titik yakni 536 jiwa di Desa Mekatta, dan 230 jiwa di Desa Lombang Timur.

Dua pekan lalu, Pos Komando Transisi Darurat Pemprov Sulbar bersama Bupati Majene melakukan rapat membahas membahas rencana relokasi korban gempa Sulbar, di Rujab Sekprov Sulbar.

Rapat di Rujab Sekprov Sulbar, 26 Februari ini, juga dihadiri tim dari Kementerian PUPR sebagai ujung tombak aksi melakukan relokasi di Majene.
Dipaparkan bahwa 15 dusun menjadi sasaran relokasi di dua kecamatan, Ulumanda dan Malunda, namun hingga selesainya rapat itu jumlahnya berkurang menjadi 10 dusun. Termasuk di dalamnya yang menjadi sasaran adalah Dusun Aholaeng dan Dusun Rui, Desa Mekatta.

Namun jumlah itu masih dalam kajian dan bisa saja berkurang setelah dilakukan survei. Relokasi merujuk studi geologi bahwa kampung tersebut harus dipindahkan lantaran memiliki potensi longsor susulan. (***)

Komentar

News Feed