oleh

Tongkrongi Warkop Demi Daya dan Akses

BERSYUKUR ada smartphone, bisa ikut belajar daring. Tapi, kebutuhan kuota masih jadi kekhawatiran sendiri. Warung kopi pun jadi target pelajar.

Laporan: Imran Jafar, Mamuju-Sulbar

Pandemi korona memaksa pembatasan di seluruh lini kehidupan. Tak terkecuali proses belajar mengajar di sekolah-sekolah.

Menyiasatinya, pemerintah menerapkan sistem online atau virtual tanpa tatap muka langsung.

Belajar secara daring menjadi atlternatif selama pandemi masih mengancam. Hanya saja, kebutuhan kuota yang belum tertutupi membuat beberapa pelajar mengaku harus tongkrongi Warkop biar dapat akses internet.

Begitu pengalaman Yuli (17). Siswa yang kini duduk di bangku kelas II SMA Tapango, Polewali Mandar.

Belakangan, pemilik nama lengkap Yulianti ini dilirik setelah tenar di dunia maya, soal cita-cita ingin menjadi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).

Berangkat dari cita-citanya itu, setiap pagi ia meluangkan waktu melakukan olah raga lari menempuh hingga ratusan meter di sepanjang setapak Desa Tapango.

Soal cita-citanya tentu bisa ditempuh setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Dan itu butuh modal besar. Apalagi di tengah pandemi, setiap siswa harus menggenggam smartphone.

Beruntung, pemerintah setempat memberikan perhatian. Saat ditemui di Rumahnya, Desa Tapango, akhir pekan kemarin, dengan bangga perempuan berjilbab itu sedang menunjukkan smartphone miliknya. Bantuan Pemda setempat.

Yuli mengaku sangat bersyukur bisa menggeggam barang mewah ditengah kondisi lingkungannya yang begitu memprihatinkan.

Smartphone itu dimaksudkan membantunya mendapatkan akses belajar daring. Hanya saja, masih butuh daya, dan tentu saja pulsa.

Daya dan pulsa yang mudah saja bagi pelajar mapan, tanpa beban kehidupan seperti Yuli yang kini hanya tinggal bersama ibunya.

Ayahnya bisa di bilang sudah tiada. Bukan meninggal, tapi pergi dan lupa jalan pulang. Rumah berukuran 6X6,5 meter persegi adalah hasil keringat dari Yuli dan ibunya. Untung, tempat bernaung tersebut telah tersentuh program bedah rumah.

Sebelumnya, Yuli dan ibunya harus mengencangkan urat nadi menarik gerobak, mengakut material untuk membangun rumah sendiri. Begitupun soal makanan, harus banting tulang mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Namun sang ibu, Damayanti (45) kerap berpesan agar Yuli jangan mengeluh. Karena pesan itulah, Yuli tetap mengikuti belajar daring meski harus rela menongkrongi warung kopi. Itu untuk mendapatkan daya listrik dan akses internet.

“Bayar dua ribu di warkop, bisa sambung listrik sama akses internet gratis,” kata Damayanti.

Mendengar hal itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, Yohanis Piterson didampingi Staf Ahli Gubernur Sulbar M Daniel memberikan solusi; kuota internet 15 GB per bulan.

Bahkan Yohanis langsung memberikan nomor kontak kepada Yuli. “Jika kehabisan kuota internet langsung hubungi saja,” kata pria yang akrab disapa pak Piter itu.

Piterson berjanji tidak akan membiarkan anak-anak terlantar dan terkendala akses pendidikan, apalagi dengan kondisi saat ini, pandemi, proses pembelajaran mengharuskan siswa mulai beralih dengan digitalisasi proses belajar.

Di tempat sama Piter juga menemukan fakta lain, soal sertifikat tanah yang di atasnya kini berdiri rumah Yuli. Padahal Pemprov Sulbar memerintahkan kepada camat setempat agar menyelesaikan urusan tersebut.

Hal itulah yang membuat piter tak berpikir panjang, langsung menegur aparat camat agar bekerja lebih serius. Bersungguh-sungguh mengawal kebijakan pimpinan. Apalagi jika menyangkut kebutuhan masyarakat kecil.

Pesan Piter kepada Yuli, fokus belajar hingga mewujudkan cita-citanya.
Berbicara soal pendidikan, belajar daring sepertinya masih akan menjadi opsi proses belajar mengajar di Sulbar.

Akhir 2020 lalu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, Gufran Darma merencanakan adaptasi. Dari belajar daring jadi tatap muka di awal 2021.

Beberapa hari belakangan, grafik pandemi belum juga surut. Pak Kadis sepertinya berpikir kembali.

Tak ingin mengambil risiko, sehingga harus menunda kebijakan pembelajaran tatap muka.

Yuli dan siswa lainnya pun harus banyak bersabar. Belajar daring masih berlaku hingga waktu yang belum ditetapkan.

Kabar baiknya, stok paket kini sudah tersedia. Yuli tak perlu lagi menunggui Warkop. (***)

Komentar

News Feed