oleh

Tetap Waspada, Cuaca di Sulbar Masih Ekstrim

MAJENE — Dua hari terakhir, gelombang laut meningkat. Kondisi ini menimbulkan banjir rob di beberapa daerah pesisir. Di sisi lain, curah hujan masih tinggi membuat air menggenangi sejumlah wilayah. Belum lagi, angin kencang yang sangat menghantui warga.

Kondisi ini telah diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Bahkan, BMKG Majene telah mengeluarkan imbauan agar seluruh masyarakat di Sulbar meningkatkan kewaspadaan.

Prakirwan Cuaca dan Iklim BMKG Majene Arman menyebutkan, banjir rob dapat disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, dorongan air (tinggi gelombang) yang tinggi akibat adanya angin kencang di wilayah laut ataupun pesisir pantai. “Tinggi gelombang ini terjadi 6 hingga 8 Desember,” ungkapnya.

Olehnya, kepada seluruh masyarakat, khususnya yang tinggal wilayah sekitar pesisir pantai Sulbar, diimbau waspada terhadap gelombang tinggi. Kata dia, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,25-2,5 meter. “Semua masyarakat harus waspada, khususnya para nelayan yang hendak melaut,” ungkapnya.

Ruas Jalan Tergenang Air

Hujan lebat mengguyur sebagian wilayah Kota Majene, Senin 6 Desember. Hujan yang berlangsung mulai subuh hingga sore membuat sejumlah ruas jalan utama di Kota Majene digenangi air.

Arus lalu lintas di sebagian wilayah pun macet. Sehingga, petugas Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Majene, membantu para pengendara yang terhenti di jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.

Akibat genangan air di ruas-ruas jalan tersebut, sejumlah sepeda motor warga mengalami mogok. Anggota Satlantas pun ikut membantu mendorong sepeda motor warga. “Genangan air terdapat di Jalan Hasanuddin Poros Majene Kelurahan Lembang. Di titik ini kita turunkan anggota untuk mengurai kemacetan. Selain itu, anggota juga membantu mendorong kendaraan warga yang mogok,” ungkap Kasat Lantas Polres Majene Iptu I Gede Yoga Eka Pranata, Senin 6 Desember.

Kata dia, ketinggian air di titik jalan utama sekitar 40-50 centimeter. Sehingga bagi kendaraan roda dua, cukup sulit melintas. Pengendara pun harus berhati-hati agar mesin kendaraan tidak terendam air. Pengendara pun diminta bersabar dan berhati-hati karena jalan licin.

“Kami sebisa mungkin tetap melakukan pengaturan serta membantu masyarakat yang mengalami kendala kendaraan diakibatkan hujan lebat ini,” ujar Kasat Lantas.

Salah seorang warga, Waris, mengaku setiap kali hujan deras Jalan Sultan Hasanuddin tergenang banjir. Selain itu, ada juga sebagian rumah warga di lokasi tersebut ikut tergenang air.

Dia mengatakan, banjir yang terdapat di sejumlah badan jalan di kota Majene sampai saat ini belum teratasi oleh pemerintah. Sehingga, hal ini menjadi keluhan bagi masyarakat. “Kadang hujan cuma sebentar saja, tapi ada juga jalan yang digenangi air. Barangkali drainase tak maksimal menampung debit air,” ujar Waris

Ungkapan yang sama disampaikan salah seorang pengendara sepeda motor, Usman. Ia mengatakan, air yang tergenang di badan jalan ini seringkali membuat kemacetan dan kendaraan mogok. “Macetnya parah kalau banjir sampai ke jalan. Saya harap masalah ini segera diatasi oleh pemerintah,” harapnya.

Bencana Mengintai, Jangan Panik

Bencana alam mengintai akibat cuaca yang tidak menentu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polewali Mandar (Polman) minta warga waspada dan tak panik menghadapi cuaca buruk.

Kepala Pelaksana BPBD Polman Andi Afandi Rahman menyampaikan, saat ini kondisi cuaca buruk diprediksi akan berlangsung sampai 8 Desember. Kondisi tersebut ditambah dengan banjir rob yang juga mengancam pemukiman penduduk di sepanjang pesisir pantai.

Kalaksa BPBD Polman Andi Afandi Rahman menyatakan, Lingkungan Mangeramba Kelurahan Alli-alli terdampak banjir rob. Begitu pun beberapa daerah lain seperti Binangaliu Kelurahan Manding dan Desa Tangnga-tangnga Kecamatan Tinambung.

Ia mengimbau masyarakat tetap waspada, dan bagi para nelayan diimbau tidak melakukan aktivitas melaut sementara, dan menunggu hingga aman atau ada pemberitahuan resmi dari BMKG.

Sedangkan akibat curah hujan tinggi, ada lima kecamatan di Polman mengamai banjir. yakni Kecamatan Alu, Limboro, Tinambung, Campalagian, Luyo dan Polewali. “Ketinggian air saat ini mencapai 20-30 cm hingga setinggi pinggang orang dewasa. Namun rata-rata warga masih tetap bertahan di rumah mereka karena rumah panggung,” jelas Andi Afandi.

Andi Afandi juga menyampaikan, seorang warga Desa Karama yang dilaporkan hilang saat melaut sudah ditemukan pada pukul 13.00 wita siang kemarin dalam kondisi selamat.

Diduga Terjadi Penurunan Tanah

Gempa berkekuatan 6,2, yang terjadi pertengahan Januari lalu, diduga mengakibatkan penurunan permukaan tanah di Mamuju. Hal tersebut dikatakan Plt Kepala BPBD Mamuju, Muhammad Taslim, merespon fenomena banjir rob atau banjir yang terjadi akibat naiknya permukaan air laut di Mamuju, belakangan ini.

Kendati demikian, hal tersebut belum bisa dibuktikan lantaran belum ada penelitian lebih jauh. “Menurut pantauan memang ada penurunan permukaan tanah pasca gempa. Namun hal itu butuh penelitian lebih jauh. Apakah tanah turun atau memang volume gelombang pasangnya meningkat akibat fenomena La Nina. Banjir rob sudah dua kali di tahun ini, dan memang hanya daerah-daerah dataran rendah yang kena dampak,” kata Taslim.

Taslim pun memastikan personelnya tetap siaga 1×24 jam, selama status peringatan dini terkait cuaca dikeluarkan BMKG. Jika ada hal-hal yang sifatnya urgent, bakal langsung menurunkan personel ke lokasi kejadian. Posko dipusatkan di Kantor BPBD Mamuju.

Minggu 5 Desember, Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi meninjau langsung dampak bencana banjir rob dan abrasi di Dusun Malolo dan Kayumate di Desa Kalukku Barat. Sutinah berjanji akan memberikan solusi atas kondisi tersebut.

“Saya telah memantau sendiri kondisi di dua dusun ini dan ternyata memang cukup memprihatinkan dan harus segera dibenahi. Tahun depan kita akan membuat tanggul sepanjang 50 meter dan pemecah ombak sekalian. Mudah-mudahan ini akan membantu menyelesaikan masalah di dua dusun ini,” sebut Sutinah.

Desa Kalukku Barat menjadi salah satu daerah terparah terdampak banjir rob. Pemkab Mamuju juga telah menyalurkan beberapa bantuan kebutuhan pokok, berupa sembako dan keperluan sehari-hari.

Waspada Fenomena La Nina

Pemkab Mamasa pun tak ketinggalan mengeluarkan imbauan, agar masyarakat terus waspada. Sebab, fenomena La Nina terjadi karena mendinginnya lautan atlantik. Sehingga masuk ke iklim tropis di Indonesia yang dihempaskan melalui curah hujan.

Kepala BPBD Mamasa, Labora Tandipuang meminta masyarakat untuk waspada terhadap cuaca ekstrim. Memasuki Desember, terjadi puncak dari La Nina, mengakibatkan tingginya curah hujan. “Perlu kewaspadaan dini masyarakat terhadap ancaman tanah longsor dan banjir bandang,” terangnya kepada Radar Sulbar, Senin 6 Desember, melalui sambungan telepon seluler.

Mengantasipasi kemungkinan yang terjadi, pihaknya terus aktif mengimbau dan melakukan sosialisasi. “Utamanya masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan lereng gunung,” ujarnya. (r2-ajs-arf-mkb/dir)

Komentar

News Feed