oleh

Tentang Gempa di Makassar (1820) dan Mandar (1915)

-Stories-4.695 views

SULAWESI Selatan dan Sulawesi Barat masuk dalam kawasan cincin api, yaitu rangkaian sabuk sepanjang 40.000 km yang mengelilingi cekungan di Samudera Pasifik.

Tentang Gempa di Makassar (1820) dan Mandar (1915)Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Tentang Gempa di Makassar (1820) dan Mandar (1915)

Disebut cincin api (ring of fire) karena di situ ada banyak gunung api dan gempa bumi. Sebagian besar gempa yang terjadi di planet Bumi berlangsung di cincin api. Kenyataan yang harus diterima, kampung kita terukir di cincin api; kita berada di lokasi gempa.

Catatan tertua di media modern, dalam hal ini koran atau media cetak, tentang gempa di daerah kita bisa dilacak hingga lebih 100 tahun lalu, yakni di koran “Bataviasche Courant “ untuk gempa bumi dan tsunami di Bulukumba dan sekitarnya, dan “Het Vaderland” untuk gempa di Mandar.

Gempa besar terjadi di ujung paling bawah Pulau Sulawesi pada 29 Desember 1820. Dalam artikel pendek di halaman pertama (dari 10 halaman) koran berbahasa Belanda “Bataviasche Courant “ yang terbit 28 April 1821, tertulis (saya terjemahkan dengan beberapa penyesuaian), “Batavia 25 April.

Laporan yang diterima dari Makassar antara lain pada tanggal 29 Desember tahun, pukul 10 sebelum tengah hari, terjadi gempa bumi dahsyat yang berlangsung setiap 2 1/2 menit.

Gempa bumi menyebabkan kerusakan besar di sepanjang pantai selatan Sulawesi, terutama di Bulukumba, di mana laut beberapa kali mencapai ketinggian yang mencengangkan, dan dengan kecepatan luar biasa, menjangkau desa-desa sampai ke pedalaman.

Bagian barat Bantaeng sampai timur Bulukumba hancur. Ratusan orang tewas, termasuk tiga tentara Eropa. Banyak tanaman padi siap panen rusak. Benteng di Bulukumba lebih rusak parah dibanding Bantaeng. Goncangan bumi-dan-laut begitu dahsyat. Dalam ingatan masyarakat setempat, tidak pernah ada bencana sebesar itu.

Pada sore hari tanggal 4 Januari 1821, pukul seperempat sampai pukul sepuluh, kembali terjadi gempa bumi. Sejauh yang diketahui pada saat laporan dikirimkan, tidak ada kerusakan berarti.”

Menurut penjelasan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration, lembaga semacam BMKG-nya Amerika Serikat), yang merangkum beberapa informasi (dari berbagai pustaka) tentang kejadian gempa 29 Desember 1820, gempa berlokasi di Laut Flores, 14 km selatan Kepulauan Sabalana atau 212 km dari Kota Makassar. Durasi gempa yang berkekuatan 7.,5 magnitudo tersebut lebih dua menit. Juga dirasakan di tempat lain di Pulau Sulawesi.

Gempa tersebut diikuti oleh gelombang pasang, yang kemudian berulang. Tsunami terkuat di pantai dari Bantaen di barat hingga Bulukumba di timur; disini banyak pemukiman pesisir hancur dan banyak orang meninggal.

Gempa bumi dimulai dengan getaran lemah, tetapi secara bertahap meningkatkan getaran. Rumah komandan benteng bergoyang ke segala arah. Senjata di benteng berjatuhan. Gempa bumi berlangsung selama 4-5 menit.

Awalnya dikiran tembakan meriam dari arah barat. Sekoci yang dikirim untuk mengintai tak melihat ada kapal yang menembakkan, hingga kemudian gelombang setinggi 20-25 m tiba. Diikuti suara gemuruh menggelegar, gelombang pasang 300 sampai 400 meter menghantam daratan, menghancurkan barak benteng dan Desa Nipa-nipa dan Terang-terang. Empat hingga lima ratus orang tenggelam. Kapal-kapal di lepas pantai terdampar di sawah-sawah sawah.

Hampir 100 tahun kemudian, tepatnya 1915 kembali terjadi gempa besar. Kali ini beberapa ratus kilometer ke arah utara, terjadi di pesisir Mandar (sekarang Sulawesi Barat), dimuat di media cetak berbahasa Belanda “Het Vaderland” edisi 23 Desember 1915, halaman 10 (dari 12 halaman koran). Beritanya hanya berupa artikel pendek di rubrik “Van Hier en Daar” yang kira-kira berarti ‘dari sana sini’. Judulnya “AARDBEVINGEN” atau gempa bumi.

Artikelnya, “Pada tanggal 12 Agustus sekitar pukul 3.30 sore, gempa bumi terpantau di Luwu, Mandar, Bone dan Parepare. Di Mandar guncangan paling besar beberapa kali. Gempa susulan terasa di Mandar dan Parepare hingga pukul 9.30 malam. Getaran berlangsung 1/2 dan 1/4 menit. Terjadi kerusakan di lampu suar Cape William dan rumah kontroller di Mamuju. Gempa ringan terasa sampai tanggal 20 Agustus.”

Berbeda dengan yang terjadi bulan lalu (gempa Malunda Kabupaten Mejene 14 dan 15 Januari 2021), pemberitaannya ke masyarakat sampai ke belahan bumi terjauh, terjadi dalam hitungan menit. Bandingkan dengan dua gempa “kuno” di atas, yang kabarnya di media cetak rata-rata empat bulan kemudian: kejadian 29 Desember 1820 tapi di media cetak 28 April 1821; dan kejadian 12 Agustus 1915 tetapi dimuat di koran 23 Desember 1915.

Tidak ada catatan tentang berapa kekuatan gempa yang terjadi di Mandar, dalam database NOAA tidak ada titik lokasi atau informasi lain prihal gempa 1915. Tidak ada informasi tentang adanya tsunami atau korban jiwa. Yang rusak pun adalah bangunan yang menggunakan konstruksi batu atau rentan rusak karena getaran gempa, seperti di lampu suar di Tanjung Rangas yang nama klasiknya Cape William dan rumah pejabat Belanda (controller) di Mamuju. (*)

Komentar

News Feed