oleh

Tantangan IPM untuk Pemkab Majene

-Opini-1.108 views

KONTESTASI pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Majene, dan tiga kabupaten lain di Sulbar, untuk periode 2021-2026 telah berakhir. Pasangan yang memenangkan pilkada kali ini, diharapkan membawa Majene ke arah lebih baik.

Oleh: Fathul Muin Rum (Statistisi Pertama BPS Sulawesi Barat)

Tantangan IPM untuk Pemkab Majene

Beberapa PR sudah menanti pemimpin yang baru. Kinerja pemerintah seringkali dikaitkan dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Bahkan salah satu perhelatan debat pilkada antar pasangan calon mengangkat isu mengenai angka IPM. Lalu bagaimanakah angka IPM Majene.

IPM digunakan mengukur pembangunan manusia. Ada tiga dimensi dasar membangun IPM yakni kesehatan, pengetahuan/pendidikan, dan standar hidup layak.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka IPM, dimana Majene memiliki IPM tahun 2020 sebesar 66,91. Angka ini meningkat 0,48 persen dibandingkan tahun 2019, dimana peningkatannya terendah kedua se-Sulbar.

Selama periode 2011-2020, IPM Majene rata-rata tumbuh 0,82 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan IPM ini menempatkan Majene terendah kedua setelah Mamasa. Adapun kabupaten lainnya memiliki rata-rata pertumbuhan di atas satu persen. Hal ini menjadi lampu kuning buat Pemkab Majene dalam meningkatkan kualitas pembangunan manusia di daerahnya.

Selama periode 2012-2020, IPM Majene menempati posisi ketiga se-Sulbar. Berbeda dengan tahun 2010 dan 2011, IPM Majene tertinggi se-Sulbar.

Berdasarkan status pembangunan, Majene memiliki kategori IPM periode 2010-2020 termasuk level sedang. Pemkab Majene sangat diharapkan menggenjot pertumbuhan IPM-nya agar status pembangunannya berubah menjadi level tinggi.

Perkembangan IPM Majene tak terlepas dari perkembangan dimensi dasar yang membangun IPM tersebut. Dimensi kesehatan diukur menggunakan umur harapan hidup saat lahir. Pada tahun 2020, umur harapan hidup di Majene 61,56 tahun yang berarti bayi yang lahir di tahun 2020 memiliki peluang berumur hingga 61 atau 62 tahun.

Capaian ini menunjukkan Majene memiliki umur harapan hidup terendah se-Sulbar. Umur harapan hidup di Majene sudah menjadi terendah sejak tahun 2010.

Derajat kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi faktor lingkungan yang memberikan peran paling penting. Kondisi lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat memiliki beberapa indikator seperti kepemilikan tempat buang air besar, kondisi sanitasi, akses air bersih, dan jenis lantai terluas. Jika indikator tersebut tak memenuhi standar, dapat meningkatkan penularan penyakit yang menyebabkan penambahan angka kematian.

Jika melihat APBD, sektor pendidikan selalu mendapatkan alokasi cukup besar setiap tahunnya. Majene juga dikenal sebagai kota pendidikan, sehingga bukan mustahil Majene memiliki pendidikan yang terbaik se-Sulbar.

Kinerja dimensi pendidikan dilihat dari harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Pada tahun 2020, harapan lama sekolah di Majene mencapai 13,61 tahun, yang berarti penduduk usia 7 tahun memiliki harapan untuk dapat bersekolah hingga jenjang perguruan tinggi.

Angka harapan lama sekolah untuk Majene tertinggi se-Sulbar, bahkan sejak dari tahun 2010. Sedangkan rata-rata lama sekolah di Majene mencapai 8,65 tahun yang berarti penduduk usia 25 tahun ke atas, rata-rata telah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga kelas 2 SMP. Majene masih menjadi yang tertinggi se-Sulbar untuk rata-rata lama sekolah. Hal ini juga sudah dialami sejak tahun 2010.

Untuk melihat perkembangan pendidikan suatu wilayah, salah satunya dapat menggunakan indikator angka partisipasi sekolah. Tentunya angka partisipasi sekolah diharapkan naik dari tahun ke tahun.

Dari kajian yang sudah ada, BPS melakukan penghitungan standar hidup layak menggunakan pengeluaran per kapita. Pada tahun 2020, pengeluaran per kapita di Majene sebesar Rp 10,06 juta per tahun.
Pengeluaran per kapita Majene tertinggi kedua setelah Pasangkayu, dan sudah dialami sejak tahun 2012. Namun beda halnya dengan tahun 2010 dan 2011 yang menunjukkan pengeluaran per kapita Majene tertinggi se-Sulbar.

Kinerja ekonomi suatu wilayah seringkali dikaitkan dengan kemiskinan. Selain itu, indikator yang dapat digunakan melihat pembangunan manusia di sektor ekonomi yakni pengangguran.

Tidak dapat dipungkiri kemiskinan dan pengangguran tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang menganggur dapat mengurangi pendapatannya yang pada akhirnya menuju pada kemiskinan sehingga pengeluaran untuk kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi.

Dari ketiga dimensi yang membangun angka IPM, Pemkab Majene memiliki tantangan untuk lebih meningkatkan dimensi kesehatan tanpa mengesampingkan dimensi lain. Apalagi saat ini terjadi pandemi covid-19.
Adapun dimensi yang dipandang sudah baik, bukan tak mungkin akan melemah jikalau Pemkab Majene terlena dengan angkanya yang tinggi. Hal ini bisa saja terjadi jika pertumbuhan ukuran masing-masing dimensi melambat dari tahun ke tahun. (***)

Komentar

News Feed