oleh

Tanggap Darurat Berakhir, Bela-Kopeang Masih Terisolir

MAMUJU – Tangggap Darurat Bencana Gempa Sulbar berakhir 4 Februari 2021, beralih ke transisi darurat ke pemulihan mulai berlaku per 5 Februari 2021.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar mengatakan, satgas yang dibentuk di masa transisi itu, salah satunya melakukan monitoring terhadap sejumlah titik jalan yang belum terakses akibat longsor.

Tanggap Darurat Berakhir, Bela-Kopeang Masih Terisolir

“Penting juga diperhatikan penyelesaian jalan karena longsor,” ungkapnya melalui rapat koordinasi pembentukan Satgas Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Gempa Sulbar.

Di hari yang sama, Pansus Pengawasan Anggaran dan Logistik DPRD Sulbar juga menerima laporan masih banyak titik longsor belum tertangani menuju Desa Kopeang dan Bela, Kecamatan Tapalang.

Karenanya, Ketua Pansus Pengawasan Anggaran dan Logistik DPRD Sulbar Sukri Umar meminta agar Satgas Transisi Darurat ke Pemulihan betul-betul memastikan setiap titik longsor akibat gempa menjadi penanganan serius.

“Seperti akses ke Desa Kopeang dan Bela, itu belum tuntas lantaran kererbatasan BBM. Ini harus dikawal,” tutur Legislator Demokrat ini melalui Rapat Pansus bersama Dinas PUPR dan pihak Balai Pekerjaan Jalan Nasional (BPJN) di Tenda Darurat DPRD Sulbar, Jumat 5 Februari.

Anggota Pansus lainnya, Damris meminta Dinas PUPR membuka akses Bela-Kopeang agar tidak terisolasi. Bahkan PUPR harusnya menyediakan anggaran khsusu untuk penanganan bencana di wilayah Desa Kopeang mengingat Sulbar saat ini masih berstatus multirisiko bencana, termasuk longsor. Dan PUPR harus turun lapangan sehingga mendapat gambaran jelas tekait titik longsor yang belum tertangani. “PUPR perlu turun lapangan agar jelas,” tegas Damris.

Satker BPJN Kementerian PUPR Ahmad menjelaskan, ada empat tugas kehadiran BPJN dalam menangani bencana gempa Sulbar. Pertama memastikan kelancaran jalur logistik masuk ke Mamuju dari Sulteng dan Sulsel. Kedua, memastikan kelancaran akses Salutambung-Ulumanda. Ketiga, memperlancar akses Jalan akses Sumare-Tapalang Barat. Keempat, pembersihan sisa reruntuhan akibat gempa.

“Kami bekerja berdasarkan permintaan gubernur. Dan terus terang kami baru mendengar soal longsor Bela-Kopeang. Kalau Desa Taukong kami ada permintaan dan memang kami belum masuk dan saat ini masih terisolir,” beber Ahmad.

Mengenai pembersihan sisa runtuhan, tercatat 66 daftar permintaan, dan saat ini pihaknya belum menyentuh 11 titik dalam kota disebabkan akses jalan sempit.

“Alat berat kami tidak bisa masuk, jalannya itu lebarnya tiga meter,” ungkapnya.

Dikonfirmasi, Dandim 1418 Mamuju Kolonel Inf Tri Aji Sartono mengaku telah bekerja keras membersihkan longsor akses Bela-Kopeang. Pihaknnya baru mengerjakan satu titik dari 17 titik yang terpantau lewat helikopter. “Dari 27 titik longsor baru satu titik yang terbuka, itu berat sekali,” ungkapnya. (imr/ham)

Komentar

News Feed