oleh

Sunni-Syiah di Mandar

-Opini-1.846 views

(Sebuah catatan kecil dari wafatnya Almarhum Habib (Annangguru Puang Sayye) Ahmad al-Aththas)

Oleh: Salahuddin Sopu
* Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

 

Orangnya tegas. Kutu buku. Jarang saya kenal Sayye (habib) dari kampung kami yang kutu buku seperti beliau.

UMUMNYA  mereka sering cerita. Banyak cerita-cerita lucu. Saya memang tidak lagi bersua dengan beliau di Perguruan Tinggi. Saya masuk, beliau sudah selesai.

Dari cerita kawan, diskusi dengan beliau, selalu sangat mengasyikkan karena argumen-argumen beliau kuat ditopang bacaan beliau yang luas dan banyak.

Saya ingat dari cerita kawan, ketika masih kost di Mannuruki, lawan debat beliau yang juga jago debat adalah almarhum Hasbi Kawu. Akan tetapi yang terakhir ini, argumen-argumennya berasal dari alam pikirannya (aka-akal to Pambusuang).

Belakangan, saya dengar ada konflik yang rasanya tidak sehat antara beliau dengan sesama saudaranya sesama habaib. Beliau lebih berafiliasi ke Mazhab Syiah, sedang saudaranya yang lain berafiliasi ke Mazhab Sunni. Masing-masing mereka mendatangkan da’i dan guru yang cocok dengan pemikirannya.

Saya melihat, sebenarnya, ini konflik yang dinamis. Masing-masing pihak bisa saling memajukan argumentasinya. Menjadi tidak dinamis kalau misalnya salah satunya kemudian menuduh yang lain sesat atau kafir. Atau mengundang kekerasan fisik seperti terjadi di daerah lain.

Pak Quraish Shihab sangat menginginkan kedua kelompok ini bisa bergandengan tangan. Karena memang dari keduanya tidak ada hal ataupun pertentangan prinsipil. Kaum Syiah masa kini sudah tidak lagi mencaci-maki para sahabat yang sangat dihormati oleh kaum Sunni.

Keduanya memang lahir dari rahim sama, sejarah umat Islam yang penuh dinamika. Akan tetapi, biarlah itu merupakan sejarah masa lalu umat Islam. Karena masing-masing aliran sudah mengalami perkembangan pemikiran ke arah lebih baik.

Kalau mengaca ke tokoh-tokoh Syiah kontemporer seperti Muhammad Husein Thabathabai, Ayatullah Imam Khomaini, Murthada Muthahhari, Ali Syariati, Ja’far Subhani, dll. Kita tidak akan lagi menemukan adanya caci-maki terhadap tokoh-tokoh yang sangat dihormati kaum Sunni dalam kitab-kitab mereka.

Apalagi dalam fatwa terakhir Imam Ali Khamenei, dinyatakan bahwa mencaci-maki sahabat yang sangat dihormati kaum Sunni haram hukumnya. Ini saya kira yang luput dari perhatian kita yang selalu larut dalam mempertentangkan kedua aliran ini. Kita tidak meng-update pengetahuan tentang aliran pemikiran yang senantiasa mengalami perubahan ini.

Saya juga pikir, picik kita kalau kita tidak membaca kitab-kitab mereka hanya karena kita berbeda dengan mereka. Banyak hal dari mereka yang harus kita pelajari bahkan adopsi. Kita bisa mengadopsinya tanpa harus memasukinya. Bahkan masuk pun, bagi saya tidak apa.

Kita harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan pemikiran yang kita miliki. Kalau dalam berbagai Mazhab fiqih kita bisa menerima keragaman itu, mestinya kita juga bisa meluaskan ke skala lebih besar, aliran Kalam atau Syiah dan Sunni, tanpa harus mempertentangkannya.

Sama halnya dengan pemikiran Wahhabi yang juga berkembang terutama banyak menjangkit di kalangan anak-anak muda dan SMA dan perguruan tinggi yang minim pengetahuan agama.

Mereka ini beragama tapi masih berada dalam tahap awal, hitam putih, yang jauh dari dan rasa. Jadi masih sangat kering dalam beragama. Karena pandangannya yang hitam putih itulah, aliran yang agak sulit untuk diajak diskusi.

Kata kawan, sangat gampang agar kaum Wahhabi tidak menguasai masjid kalian, “Taroh aja sebuah maqam (kuburan) di depan masjid tersebut, maka si Wahhabi tidak akan datang shalat di masjid itu”. Karena katanya, itu menyembah kuburan.

Saya sendiri kemudian melihatnya bahwa aliran-aliran merupakan salah satu fase dari tingkat perkembangan pemikiran. Seseorang akan mengalami perkembangan dan peningkatan pemikiran asalkan orang tersebut tidak berhenti belajar dan bertukar pikiran dengan seseorang.

Rasanya, sudah bukan masanya lagi melarang-larang seseorang untuk membaca suatu kitab/ buku, karena khawatir akan efek ketularan virus pemikiran yang kita anggap keliru dari buku itu. Harus kita dorong ialah melahap semua buku, kemudian mendiskusikannya dengan kawan/guru kita hasil bacaan kita itu.

Hal semacam ini akan selalu ada dalam perkembangan pemikiran manusia. Melarangnya adalah hal yang sia-sia bahkan bisa meledak suatu saat nanti. Karena ini adalah hal yang fitrah yang merupakan tingkat perkembangan dari pemikiran seseorang.

Teringat ucapan dengan Buya Hamka, “Ketika masih sedikit buku yang saya baca, saya banyak menyalahkan. Tetapi, ketika sudah banyak yang saya baca, kok semakin sedikit saya menyalahkan”.

Saya berpendapat seperti ini, boleh jadi yang lain tidak (menentang), karena saya telah mengalaminya langsung. Saya mengajar mahasiswa yang berasal dari ragam aliran keagamaan yang berbeda. Ada dari NU, Muhammadiyah, Syiah, Wahdah, Jamaah Tabligh, Salafi, dan lain-lain.

Semua aliran keagamaan ini sudah eksis dengan karakter dan corak pemikirannya masing-masing. Rasanya, tidak mungkinlah bagi saya mendoktrin mereka dengan satu aliran pemikiran saja. Yang saya lakukan adalah memperkenalkan kepada mereka corak dan karakter masing-masing pemikiran, seraya juga mengenalkan pemikiran baru serta mengajari mereka senantiasa bersikap terbuka terhadap pemikiran baru.

Misalnya, ada jargon yang terutama lahir dari kaum pembaharu, “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah”. Jargon ini sebetulnya sangat bagus, tapi dalam prakteknya yang kita lihat, justru penerapan jargon ini membelakangi kedua sumber utama tersebut.

Ulama kita diabaikan. Maunya kembali kepada Qur’an dan Sunnah langsung, tanpa menengok sama sekali apa kata ulama tentang hal tersebut. Kita liat misalnya, bahwa Nabi SAW sangat menghargai para ulama. Bahkan ada hadis Nabi yang mengatakan, “al-ulama warastul anbiyai” (ulama itu adalah pewaris par nabi).

Pengabaian para ulama ini justru yang akan membuat kita memulai dari nol kembali. Kita akan meniti kembali jalan-jalan yang telah ditempuh dan dititi oleh para ulama kita.

Akibatnya, kita berubah menjadi sangat tekstual kembali. Kita akan menyusun kembali ilmu ulumul Qur’an, ulumul hadis, Ushul fiqh dan sebagainya. Mestinya, agar tidak mengecoh, ditambah kata, “dengan berpijak di atas pundak para ulama.”

Sangat berbeda misalnya, ketika saya mengajar di Brunei. Disini yang diakui negara hanya satu aliran pemikiran keagamaan, yaitu Ahlu Sunnah wal Jamaah seperti ala NU kalau di sini. Wallahu a’lam bi al-shawab. (***)

Komentar

News Feed