oleh

Sulbar Empati

-Kolom-2.018 views

INI bagai jembatan menghubungkan kelompok masyarakat dari berbagai wilayah dengan cepat tanggap tersambung dalam bentuk solidaritas. Sekaligus bukti mengenai jiwa anak-anak negeri ini selalu bangkit berempati di tengah bencana menimpa.

Kali ini melalui tajuk “Pray for Sulbar” terlihat bagaimana solidaritas dan empati itu. Selaksa datang menggenangi provinsi dengan julukan mala’bi ini. Tidak dari Sulteng, Sulsel, Sultra, Kaltim, Jakarta.

Malah atas empati itu juga datang dari seorang influenzer media sosial asal Jakarta, cepat menggalang dana kemanusiaan untuk Sulbar.

Dalam tempo satu jam sejak dia munculkan hanstagnya donasinya telah mengumpulkan dana ratusan juta dengan tempo tidak lebih sejam, dan dalam tempo enam jam sudah mencapai 600 juta atau 1 hari setelahnya sudah mengumpulkan dana 1,7 M pada saatnya. Influencer yang murah hati ini bernama Rachel Vennya.

Sulbar yang digenangi empati ini tentu memiliki akar yang dalam sehingga tidak sekadar datang untuk empati. Kata hati anak negeri terpatri oleh rasa kemanusiaan yang menghubungkan kemanusiaan antar wilayah.

Sebut pula tulisan dari dinding facebook seorang warga Sulteng di hari yang sama. Ditulisnya warga Palu ketika bencana gempa dan tsunami warga Palu mengungsi ke wilayah Sulbar.

Warga Sulbar berjejer di sepanjang jalan memberi empati dan bantuan ke pengungsi. Kali ini saudara kita di Sulbar ditimpa bencana maka saatnya warga Palu membalas kebaikan warga Sulbar. Ini empati.
Sebagai bentuk solidaritas lebih biasanya dilatari penggunaan perasaan atau dalam hal empati tengah memakai perasaan dirinya, yakni andai mengalami bencana serupa.

Solidaritas yang menggenangi Sulawesi Barat ini adalah pernyataan kemanusiaan bahwa korban gempa di Sulbar tidak sedang sendiri. Sulbar masih memiliki keluarga besarnya sehingga apapun dan bagaimanapun akan selalu hadir. Hadir memberi semangat, hadir untuk mengatensi mengenai jiwa persaudaraan yang belum lenyap apalagi disebut mati.

Menghayati empati ini tidak terlepas dari betapa menggunungnya cinta sesama. Hadir tidak diminta, hadir tanpa berharap apa-apa, namun hadir untuk menggaungkan hubungan sesama dikala yang lain dapat melakukan sementara yang lain tengah menghadapi kesulitan.

Menghayati empati ini akan menjadi monumen sekaligus sebagai hasanah tentang warga Sulbar adakalanya juga tidak berdiam diri. Ketika musibah menimpa sesama, seperti bencana gempa tsunami Palu, Banjir Bandang Masamba atau empati masyarakat Sulbar di tempat lain.

Empati ini laksana jembatan yang telah menghubungkan rasa kebersamaan. Empati dari mereka adalah penyulut bagi kebangkitan untuk berbenah kembali. Bangkitlah dengan empati ini !

Komentar

News Feed