oleh

Sulbar Dikepung Banjir dan Longsor

MAMUJU — Belum hilang duka akibat gempa medio Januari lalu, kini Sulbar kembali menghadapi banyak bencana. Hampir seluruh kabupaten di provinsi ini, menghadapi banjir dan longsor akhir pekan kemarin. Meski tak ada laporan korban jiwa, namun kerugian material yang dialami tak sedikit.

Di Mamuju, banjir dan longsor melanda Kecamatan Kalukku. Banjir bandang menghantam Desa Sondoang dan longsor di Marano Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sinyonyoi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamuju Muhammad Taslim menyampaikan, jumlah korban yang terdampak banjir bandang sebanyak 231 Kepala Keluarga (KK) atau 932 jiwa. Sebanyak 231 unit rumah, dua bangunan sekolah, serta akses jalan sepanjang empat kilometer terendam air bercampur lumpur. Juga jembatan gantung menuju Dusun Kasso rusak.

“Hasil assesment, jumlahnya 231 KK dari empat dusun. Yakni dusun Palado, Rantedango, Kasso dan Salukaha. Kerugian kami taksir mencapai miliaran. Banyak ternak warga yang hanyut, dan tanaman jagung gagal panen,” kata Taslim saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu 5 September 2021.

Saat ini, BPBD Mamuju dibantu Dinas Sosial (Dinsos) Sulbar, Dinsos Mamuju, Polda Sulbar, BPBD Sulbar, Tagana Mamuju dan Tagana Sulbar, telah mendirikan satu posko induk dan dua dapur umum untuk membantu masyarakat dalam masa tanggap darurat.

“Kami berlakukan masa tanggap darurat selama tiga hari, karena masyarakat sudah mulai pulih kembali,” ungkap Taslim.

Taslim mengungkapkan, bantuan yang masuk dikoordinir di posko induk. Sejak hari pertama, bantuan dari sejumlah instansi ataupun lembaga komunitas terus berdatangan. Alhamdulillah, banyak yang peduli. Bantuan yang masuk kami catat di posko induk, dan disalurkan langsung kepada masyarakat yang terdampak banjir,” ujar Taslim.

Soal longsor di Marano, Taslim mengaku baru selesai melakukan pendataan. Menurutnya ada tujuh rumah warga yang rusak parah akibat longsor. “Sudah ada tim kami sudah yang ke lokasi untuk mendata. Karena kalau longsor, itu butuh penanganan lebih serius,” sebutnya.

Menurutnya, banjir di Desa Sondoang dan longsor di Marano tidak saling berkaitan. Lantaran keduanya memiliki aliran sungai berbeda. “Penyebab utamanya ini karena intensitas hujan di Mamuju sangat tinggi. Dan ini perlu diwaspadai,” lanjut Taslim.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Mamuju Irayanti mengatakan, sejak hari pertama Dinsos Mamuju menyalurkan bantuan berupa logistik dan kebutuhan emergency.

“Sampai saat ini kami membantu di dapur umum, menyiapkan makanan untuk masyarakat, sehari tiga kali makan,” ungkap Ira.

Terkait bantuan ke Marano, kemarin, Ira mengaku Sekretaris Dinsos Mamuju berada di lokasi longsor. Dan belum bisa dihubungi lantaran akses jaringan terbatas. “Saya masih menunggu kabar, karena (kemarin, red) belum bisa dihubungi,” pungkas Ira.

Banjir di Pasangkayu

Tak jauh berbeda, wilayah Kabupaten Pasangkayu juga ditimpa bencana banjir. Titiknya di 10 desa yang dilewati sungai. Banjir yang merendam Desa Karya Bersama dan Desa Pedanda Satu merupakan luapan sungai Pasangkayu, kemudian merembes ke Sungai Sulu dan Sungai Marembiau.

Sementara Desa Ompi dan Desa Bukit Harapan adalah luapan dari Sungai How, Sungai Fonju dan Sungai Tata. Sedangkan Desa Lilimori dan Desa Pajalele, terkena dampak dari luapan sungai Barubu dan Tohiti.

Sedangkan Desa Saptanajaya, merupakan luapan sungai Kuma. Desa Singgani dan Desa Bajawali terkena dampak dari luapan sungai Biai. Dan Desa Kasano, luapan sungai Burangge dan Sungai Majene. Sementara di Desa Pajalele, merupakan luapan dari Sungai Tikke.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Pasangkayu, Andi Rudi mengatakan, banjir ini merendam permukiman dan perkebunan warga. Dan belum ada korban jiwa serta fasilitas umum yang rusak.

“Banjirnya sudah ada yang surut, namun seperti Desa Ompi dan desa Karya Bersama itu masih terendam dan ini kami pantau terus. Supaya jika masyarakat meminta diungsikan, karena air naik lagi, itu langsung ditangani,” terang Andi Rudi, Minggu 5 September 2021.

Sementara banjir yang masih merendam Dusun Sinar Wajo dan dusun Marembiau di Desa Karya Bersama yang tidak kunjung, surut mulai menimbulkan gatal-gatal dan meresahkan warga setempat.
Selain gatal, warga dua dusun tersebut juga kesulitan memperoleh air bersih, karena semua sumur yang mereka miliki belum layak untuk dikonsumsi.

Banjir-Longsor di Tabulahan

Longsor dan banjir di Kecamatan Tabulahan, Mamasa, mengakibatkan beberapa rumah, gereja, perkebunan, persawahan, jalan serta jembatan mengalami kerusakan. Hingga kemarin, belum diketahui total kerusakan tersebut.

Data sementara, rumah 67 KK, satu gereja dan tiga jembatan mengalami kerusakan. Ditambah 165 KK yang mengalami kerugian akibat kerusakan areal pertanian. Masyarakat terdampak pun memilih mengungsi kedaerah yang dianggap aman.

Menurut Kepala Lingkungan Salulossa Kelurahan Lakahang Andarias, hujan deras terjadi Kamis 2 September, sekitar pukul 11.00 Wita. “Sawah penduduk banyak yang rusak, jembatan menuju sekolah putus, sayuran di kebun hanyut terbawa banjir. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah,” akunya.

Selain banjir, longsor juga terjadi di beberapa titik. Akibatnya, jalan dan persawahan tertutup lumpur. Longsor ini juga membuat dua desa terisolir. Yakni Desa Pangandaran dan Desa Burana di Kecamatan Tabulahan.

Kapolsek Tabulahan Ipda Muh Ilyas menyampaikan, Desa Burana sudah dapat dilalui sejak Sabtu kemarin. “Sementara Desa Pangandaran masih belum tembus,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Mamasa Daud Tandi Arruan menyampaikan telah menurunkan alat berat. Namun, belum diketahui sampai dimana pekerjaan yang dilakukan. “Daerah itu tidak ada jaringan,” kilahnya.

Dandim Mamasa 1428 Letkol Inf Stevi Palapa menambahkan, sejumlah personel diturunkan untuk membantu membersikan material longsor.

Sungai Meluap, Dua Desa Diterjang

Dua desa di Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar (Polman) diterjang banjir setelah Sungai Andau dan Limbong Kadundung meluap, Sabtu 4 September, sekira pukul 18.00 Wita. Akibatnya puluhan rumah di Dusun Puludung Desa Landikanusuang dan Dusun Caredde Desa Rappang Barat terdampak banjir.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Mapilli, Rahmat Rubianto mengungkapkan, sekira 100 KK yang terdampak. Paling parah, di Dusun Puludung. Banjir tersebut membuat pemukiman tergenang, dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Banjir juga mengenangi jalan poros Lampa-Matangga sepanjang 300 meter.

“Alhamdulillah air sudah surut. Tak ada korban jiwa. Ratusan KK sempat mengungsi. Tetapi setelah air surut, sudah kembali ke rumahnya untuk melakukan pembersihan,” terang Rahmat Rubianto.

Kapolsek Wonomulyo AKP Adriyan F Kopong mengaku langsung turun ke lokasi banjir bersama Bhabinkamtibmas, Plt. Camat Mapilli, Kades Landi Kanusuang Halipuddin serta Babinsa dan Tim Tagana Dinsos serta BPBD Polman.

Data sementara, terdapat 55 unit rumah yang terendam banjir di Desa Kanusuang dan 50 unit rumah di Desa Rappang Barat.

Jalur Lampa-Matangnga Longsor

Tingginya curah hujan kembali menutup akses jalan poros Lampa-Matangga di Desa Pulliwa Kecamatan Bulo. Sedikitnya ada lima titik longsor yang menutup hampir semua badan jalan.

“Setidaknya, ada empat sampai lima titik longsor. Material longsor menutupi sebagian jalan sehingga terjadi penyempitan. Jika pengendara tak hati-hati bisa terjadi kecelakaan,” terang salah seorang warga Pulliwa, Jawadil.

Ia berharap pemerintah mengirim alat berat untuk menyingkirkan material longsor. Warga kuatir akan terjadi longsor susulan karena kondisi cuaca masih buruk.

Tetap Waspada

Hingga Minggu 5 September 2021, laporan yang masuk ke BPBD Sulbar terjadi banjir dan longsor di dua titik di Mamasa. Yakni Kecamatan Tabulahan dan Lakahang. Selain itu,lLongsor di Onang Kabupaten Majene, dan banjir di Desa Sondoang serta longsor di Marano Kecamatan Kalukku Mamuju.

Untuk dua titik banjir di Mamasa, di Desa Burana, Tabulahan, tercatat lima rumah rusak berat dan dua jembatan putus. “Akses jalan menuju desa itu masih terputus. juga listrik masih padam, dan masih sementara ditangani kabupaten,” ungkap Kasi Kedaruratan Bidang Kedaruratan BPBD Sulbar Abdul Muttalib, kemarin.

BPBD Sulbar baru dapat menjangkau dua lokasi bencana, yakni di Desa Sondoang serta longsor di UPT Marano. “Marano sudah bisa diakses setelah menangani longsor bagian luar. Tapi hanya mobil doble handle. Apalagi melihat kondisi kemiringan akses jalan ini sampai 30 derajat,” tuturnya.

Saat ini pihaknya masih berusaha menangani longsor di bagian dalam pemukiman UPT Marano. Diketahui, saat ini tercatat ada sembilan KK terdampak atau 48 jiwa. “Logistik sudah ada yang masuk dari beberapa instansi. Termasuk dari Polres, Kesbangpol Sulbar dan bantuan lainnya,” bebernya.

Dia mengaku, kondisi tanah di Marano rawan longsor. Sebab itu, di tengah kondisi intensitas hujan masih tinggi, maka diharapkan agar menghindari daerah perbukitan.

Sementara di Sondoang, pihaknya bersama sejumlah instansi sudah mendirikan posko pengungsian di beberapa titik. “Di rumah keluarga, masjid, dan daerah ketinggian,” ungkapnya.

Pihaknya sendiri sudah menurunkan sejumlah armada berupa truk tangki air bersih, mobil operasional, kendaraan roda dua, tenda pengungsi, dan mesin pompa air. Dinsos Sulbar sendiri juga menambahkan armada berupa truk dapur umum, Dalmas, truk tangki air bersih, kendaraan RTU, tenda pengungsi, tenda Keluarga. “Serta beberapa armada lainnya dari BPBD dan Dinsos Mamuju,” ungkapnya.

Diketahui, wilayah UPT Marano berada di bawah pengawasan Dinas Transmigrasi Sulbar. Tapi sayangnya, hingga sore kemarin, pihak Dinas Transmigrasi Sulbar belum merespon konfirmasi Radar Sulbar.

Potensi Hujan Masih Akan Terjadi

Potensi hujan lebat, sedang dan ringan masih akan terjadi di wilayah Sulbar hingga akhir September. Prakirawan Cuaca dan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Majene Arman mengatakan, di September ini beberapa wilayah Sulbar masih akan diguyur hujan dengan intensitas berbeda, terutama di daerah Pasangkayu, Mateng, Mamuju dan Mamasa.
“Itu intensitas hujannya tinggi. Sementara wilayah Majene dan Polman, intensitas hujannya tak sekuat empat kabupaten lain,” ucapnya.

Kata dia, ada beberapa sebab sehingga ini terjadi. Pertama, suhu permukaan laut di Selat Makassar masih hangat. Kelembapan udara untuk lapisan atas masih basah, adanya pertemuan angin di wilayah Pasangkayu hingga Mamuju yang membentuk awan hitam.
“Olehnya, masyarakat diimbau tetap waspada, terutama di wilayah yang mudah longsor dan banjir,” pintanya. (tim radar sulbar)

Komentar

News Feed