oleh

Sulbar dengan Politik Gagasan

EMPAT Kabupaten dalam wilayah Sulawesi Barat yang akan menggelar Pilkada pada 9 Desember 2020 tahun ini.

Keempat Kabupaten itu adalah Mamuju, Mamuju Tengah, Majene dan Pasangkayu. Keempat Kabupaten ini sedikitnya akan melibatkan kurang lebih 60 % jumlah pemilih di Sulbar. Atau secara mayoritas penduduk Sulbar akan terlibat dalam even kolosal bernama Pilkada Serentak 2020.

Hiruk pikuk penyelenggaraan Pilkada dari sekedar kampanye, rebutan dukungan partai, hingga ke soal ujaran-ujaran kasar (hate speak), soal keterlibatan PNS, hingga ke soal politik identitas, adalah selalu terlihat di setiap kali penyelenggaraan Pilkada. Namun efek samping dari kehendak luhur penyelenggaraan Pilkada ini tetap saja terkandung harapan tentang Pilkada yang elegan, Pilkada yang dilumuri nilai demokrasi, Pilkada yang dipenuhi dengan gagasan baik.

Pilkada yang disertai gagasan baik ini sebut saja Pilkada dengan politik gagasan. Politik gagasan menjadi istilah lazim di setiap kali hadir mementum pemilihan termasuk dalam penyelenggaraan Pilkada. Istilah ini banyak disuarakan kelompok intelektual, akademisi, pemerhati demokrasi. Politik gagasan ini memang sangat prinsip sehingga penting untuk terus disuarakan.

Oleh politik gagasan ini sifatnya fundamental sebagai pijakan dalam menentukan arah atau tujuan yang hendak dicapai oleh para calon pemimpin.

Memahaminya lebih jauh, Politik gagasan ini adalah politik yang mengutamakan ide dalam memandang atau menggagas masa depan menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Politik yang mengesampingkan wacana semata tetapi tanpa terdapat kesungguhan terukur atau karena sekedar mengekpresikan emosi kekuasaaan.

Mengenai Politik gagasan oleh Djayadi Hanan (2019) menyebutkan sebagai cara berpolitik dengan mengedepankan ide-ide yang ingin diperjuangkan. Disebutnya dalam politik gagasan tidak diketemukan adanya pandangan perbedaan karena latar belakang apapun.

Politik gagasan adalah ketika seseorang tidak memandang latar belakang seseorang. Sehingga sepanjang ide dan gagasan-gagasannya cocok maka yang bersangkutan pantas mendapatkan dukungan.

Seiring dengan itu tentang politik gagasan ini bukannya tanpa tantangan. Dimanapun dalam hubungan pemilih dan yang hendak dipilih masih lebih banyak tersambung karena keterikatan yang nirgagasan. Terhubung karena pijakan irrasional misalnya karena satu daerah, karena keluarga ataupun karena pandangan lain yang tidak berhubungan dengan kebutuhan kepemimpinan yang mengendepankan kompentensi, mengendepankan kualitas. Sehingga belum sepenuhnya tersambung dengan alasan misalnya; lebih baik dipimpin oleh mereka yang memiliki gagasan berkualitas dengan integritas dan selanjutnya mengesampingkan prasyarat lain.

Bagi politik gagasan adalah juga menempatkan budaya politik dengan penghargaan terhadap ide-ide maupun penghargaannya kepada politik kwalitatif. Untuk mulai mereduksi perlakukan politik kwantitatif yang sekedar mengandalkan mobilisasi dan politik jumlah. Sehingga politik gagasan mengarahkan lahirnya tradisi politik rasional, politik harapan.

Mengikuti Pilkada di Sulawesi Pilkada tahun ini hakekatnya tersedia peluang untuk menempatkan pemimpin di daerah dengan gagasan-gagasan. Demi menghindari munculnya pemimpin tanpa gagasan hingga kelak tak akan mampu merubah keadaan yang lebih baik.

Pemimpin dengan gagasannya tentu akan mereka perjuangkan untuk merubah keprihatinan oleh gagasannya bersama kapasitasnya memahami masalah dan menawarkan solusinya.

Sulawesi Barat dengan sejumlah kabupaten yang tersisa untuk beberapa hari lagi akan memilih pemimpinnya, seperlunya memahami maksud politik gagasan sebagai bukan sekedar coretan saja dalam visi misi atau kehebatannya di panggung debat calon.

Tetapi oleh masyarakatnya sebagai pemilih akan melihatnya secara seksama mengenai “mata batin” para calon yang sungguh-sungguh memiliki rencana strategis dan logis untuk diimplementasikan. (***)

Komentar

News Feed