oleh

Sulbar dan Konsep OVOP

-Kolom-1.145 views

OVOP (One Village One Product) adalah salah satu materi kampanye Gubernur Sulbar Ali Ball Masdar di Pilkada 2017, lalu. OVOP kemudian diterjemahkan dalam dokumen perencanaan pembangunan gubernur dan wakil gubernur sepanjang periode 2017-2022.

OVOP (satu desa satu produk) sebagai sebuah program tentu merupakan rencana sangat baik. Memang wilayah desa merupakan basis perubahan yang bila mengalami kemajuan, secara kumulatif akan membawa kemajuan dalam wilayah lebih luas.

Bayangkan bila desa-desa di Sulbar masuk dalam peringkat desa maju maka secara otomatis wilayah kabupaten dan provinsi juga maju. Begitu pula sebaliknya bila akumulasi desa terbelakang, maka kabupaten juga provinsi mengalami hal serupa.

Satu desa satu produk sebenarnya sudah lama menjadi konsep pengembangan ekonomi desa. Didasarkan pikiran bahwa tidak semuan desa memiliki sumberdaya sama, sehingga membutuhkan spesialisasi. Desa-desa memiliki potensi yang berbeda-beda hingga membutuhkan penanganan berbeda pula.

Misalnya yang memiliki potensi pengembangan holtikultura, akan berbeda dengan desa-desa sumberdaya alam dengan lahan kritis. Dalam penangannnya, desa dengan lahan kritis tidak dapat dipaksakan menjadi desa holtikultura. Mengingat tingkat kesuburan tanah kurang mendukung.
Demikian dengan desa-desa di Sulawesi Barat adalah seperlunya dikembangkan dengan konsep tersebut.

Mengembangkannya berdasarkan pendekatan spesialisasi melalui kebijakan distribusi dan alokasi. Kebijakan distribusi dan alokasi ini dilihat pada kebutuhan pengembangan regulasinya dan dukungan penganggaran untuk selanjutnya mendapatkan kebijakan di semua level. Baik desa, kelurahan, kabupaten hingga tingkat provinsi melalui kebijakan-kebijakan khusus.

Menjalankan konsep OVOP ini maka setidaknya dapat ditempuh dua cara: pertama, melakukan pengembangan keterampilan (skill) secara serius dengan mendatangkan tenaga pengajar ke desa-desa sasaran yang telah ditetapkan dalam program OVOP. Diantara desa-desa se-Sulbar terdapat spesialisasi jenis produk yang hendak dikembangkan baik untuk produk pertanian, perkebunan, perikanan maupun industri kerajinan. Dari sini misalnya terdapat desa-desa yang dikembangkan menjadi desa produksi tanaman sayur-mayur yang cocok karena daya dukung lahan seperti desa-desa di Mamasa. Juga kerajinannya termasuk tempat lain untuk industri kreatif seperti besi tempa di Desa Pamboborang Majene. Desa-desa berlahan cocok di Campalagian Polewali mandar untuk pusat penanam Bawang Merah. Ke desa-desa ini harus meningkat keterampilannya termasuk untuk peningkatan kapasitas pemasaran dan pendampingan.

Kedua, dengan merangsang homogenitas kekuatan produksi berskala besar dan khas. Hal yang ditempuh ini adalah mengembangkan sasaran keunggulan lokal dengan skala regional bahkan nasional namun berbasiskan produksi lokal desa-desa. Misalnya menjadikan salah satu desa produksi kain sutra (sabe) di Polewali Mandar Tinambung sebagai desa Sutra Mandar didukung pembangunan pasar tekstil khusus sutra dalam desa. Desa-desa sekitar dapat dikembangkan untuk menjangkau produksi hulu terspesialisasi dalam skala luas untuk menanam Murbei (ulat) produksi sutra. Sehingga benang sutra dapat dikembalikan keasliannya untuk bukan lagi sutra sintetis impor.

Dengan dua pendekatan di atas diantara banyaknya pendekatan dapat digunakan untuk serius dengan konsep OVOP ini pada dasarnya dapat diseriusi. Oleh karena pemerintah Sulawesi Barat telah meletakan kebijakan pembangunan untuk desa-desa yang ada melalui program: Desa Marasa. Meski isu-isu dan desa sasaran yang dipilih seyogyanya benar-benar bisa diarahkan sesuai konsep satu desa satu produk. (***)

Komentar

News Feed