oleh

Sulbar, Apa Kabar Mitigasi Bencana

-Kolom-1.406 views

GEMPA Sulawesi Barat tanggal 15-15 Januari 2021, selayaknya mendapat evaluasi. Kejadian bencana serta data rawan bencana yang dimiliki daerah ini cukuplah menjadi pedoman dan tidak dilihat secara pasif.

Membicarakan mitigasi bencana, meski orang-orang cenderung merefleksi dan mulai berpikir ketika terbentur dengan masalah maka bagaimanapun menjadi penting untuk dipikirkan apalagi setelah melihat gempa dengan segala dampaknya.

Perihal mitigasi bencana seperti dikemukakan DR. Rahmawati Husein, Ph.D, geolog dan aktif di UN-CERF, dilihat sebagai rangkaian untuk mengurangi risiko bencana. Menurutnya mengurangi risiko dapat dijalankan melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan warga dalam menghadapi ancaman bencana. Mitigas bencana dilakukan sebelum bencana itu datang (pra kejadian).

Disebut bahwa Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap bencana karena kondisi geologis, geografis dan demografis. Secara geografis Indonesia mengandung potensi alamiah seperti potensi gempa bumi, tsunami, badai, gunung berapi, banjir, hingga tanah longsor yang membahayakan. Dan Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia untuk risiko tsunami, peringkat pertama dari 162 negara untuk tanah longsor, peringkat ketiga dari 153 negara untuk risiko gempa bumi, dan rangking keenam dari 162 untuk risiko bencana banjir. Karena itu menurutnya, mitigasi harus dilakukan dengan meningkatkan kemampuan lokal lewat manajemen dan perencanaan.

Membandingkan data rawan bencana Sulawesi Barat khususnya bencana gempa seperti laporan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, wilayah ini secara aktif berubah bentuk dan yang sering mengalami kegempaan adalah bagian barat daya serta membentuk sesar (arah bagian barat daya adalah Sulawesi Barat umumnya).

Selanjutnya dideskripsikan wilayah Sulbar yang bergunung-gunung umumnya disusun oleh batuan berumur tersier dan pra-tersier. Hanya yang masuk dalam pedataran luas dan disusun oleh endapan batu (alivium) namun dengan endapan termuda pada umumnya. Sementara batuan tertua yang tersingkap di wilayah ini adalah batuan Kabupaten Mamasa dengan jenis granit telah berumur (miosen).

Berkaitan dengan pemukiman -masih dengan deskripsi ini disebut pola pemukiman penduduk Sulbar sebagian besar bertempat tinggal di bagian yang secara tofografi lebih landai. Sementara wilayah tersebut disusun oleh bebatuan dengan umur lebih muda dari pada wilayah lainnya. Demikian pencatatan lembaga ini menyebut pemacu gempa di Sulbar lebih kepada jalur lipatan dan patahan naik hingga dalam kurun waktu 1967, 1969, 1984, 2021 oleh rangkaian gempa tersebut dengan kekuatan (magnitude) besarannya tidak berpaut jauh satu dengan yang lain.

Memahami maksud data-data tersebut, berikut dengan fakta sejarah gempa di wilayah ini, akhirnya tidak ada pilihan lain untuk tidak segera mengembangkan mitigasi bencana. Yang dalam strategi pelaksanaanya bisa ditempuh paling tidak dengan dua langkah:

Langkah pertama, dengan mitigasi struktural.

Langkah yang dapat dijalankan oleh daerah untuk mitigasi struktural dapat dimulai dari merumuskan regulasi (pengaturan) dengan melibatkan keahlian bidang bencana. Langkah ini diterapkan melalui aturan yang tidak dapat dikompromikan seperti tempat yang tidak direkomendasikan karena masuk dalam peta bencana dengan greed paling rawan. Untuk hunian, tidak diberikan izin dan atau bila keadaannya sudah sangat memaksa karena lahan sempit maka semua desain dan material bangunan harus mengikuti standar pelaksanaan bangunan tahan gempa.

Kedua, dengan mitigasi sosial.

Langkah yang dapat dijalankan adalah antaranya membentuk kesadaran warga terhadap tanggap bencana. Pemangku kepentingan melakukan intervensi untuk mengembangkan usaha masyarakat secara partisipatif guna membentuk pola mitigasi masing-masing, seperti menentukan peta evakuasi di wilayahnya, hingga bagaimana melaksanakan bantuan pertolongan bila bencana datang.

Daerah ini bila sanggup mengembangkan kedua langkah tersebut -sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan bencana termasuk bencana gempa- maka dengan sendirinya akan sangat membantu bahkan diyakini dapat mengurangi kemungkinan risiko bencana bila saja kembali terjadi. (***)

Komentar

News Feed