oleh

Sudah Bekerja Maksimal, Direktur PDAM Tirta Manakarra Mohon Maaf

MAMUJU – Sudah dua bulan lebih gempa 6,2 Magnitudo menghamtam Kabupaten Mamuju dan Majene. Namun, hingga saat ini, pelayanan PDAM Tirta Manakarra Mamuju belum juga sepenuhnya normal. Masih ada rumah di dalam kota Mamuju belum terlayani air bersih.

Menanggapi hal tersebut, Direktur PDAM Manakarra Mamuju Muh. Nur mengaku sudah bekerja maksimal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bahkan, satu hari pasca gempa 6,2 M, personil yang dimiliki PDAM Manakarra Mamuju sudah mulai bekerja memperbaiki jaringan-jaringan pipa yang rusak. Namun, karena banyaknya titik kerusakan membuat 20 orang personilnya kewalahan. Meskipun sudah bekerja dari pagi hingga malam bahkan subuh hari.

Sudah Bekerja Maksimal, Direktur PDAM Tirta Manakarra Mohon Maaf

“Hal ini terjadi karena banyaknya jaringan pipa yang putus. Sudah ratusan titik kerusakan pipa induk yang kita perbaiki. Baik pipa tranmisi dari pengambilan air hingga pipa pengolahan banyak yang bermasalah. Hal inilah yang mengakibatkan hingga saat ini pelayanan penyediaan air bersih di dalam kota mamuju belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.

Muhammad Nur menambahkan, permasalahan bukan hanya pada putusnya jaringan pipa induk, tapi juga di jaringan pipa distribusi kerumah-rumah pelanggan banyak yang rusak. Namun, berkat kerja keras siang dan malam pegawai PDAM Manakarra Mamuju, sebagian besar permasalahan pipa sudah tertangani. Saat ini, tinggal pipa tersier yang berada di jalur depan rumah pelanggan yang akan ditangani.

“Syukur alhamdulillah, saat ini sebagian besar permasalahan sudah dapat kita atasi. Tinggal permasalahan individu-individu yang kita temukan dilapangan bukan lagi permasalahan perjalur. Permasalahan individu ini diakibatkan karena permasalahan jalur pipa di rumah pelanggan yang bermasalah bukan lagi pada jalur pipa PDAM. Inilah pekerjaan kita saat ini,” ujarnya.

Muhammad Nur menepis anggapan masyarakat di media sosial yang menuding bahwa PDAM Manakarra Mamuju tidak bekerja secara maksimal dilapangan. Hal itu sangat tidak benar. Ia berharap agar masyarakat bisa memahami kendala yang di hadapi PDAM Manakarra Mamuju saat ini.

“Jika kita bandingkan dengan PDAM yang ada di Kota Palu, Sulteng, pasca gempa yang mereka hadapi, sekitar satu tahun masyarakat disana baru bisa mendapatkan pelayanan air bersih. Bukan berarti mereka tidak bekerja maksimal, tapi memang permasalahan yang di hadapi di PDAM sangat sulit. Untuk mendeteksi kebocoran pipa di bawah tanah tidak mudah, butuh waktu yang panjang,” ujarnya.

Meski begitu, Muhammad Nur tetap menyampaikan permohonan maafnya kepada pelanggan atas kendala yang mereka rasakan pasca gempa. Pihaknya juga tidak menginginkan hal tersebut terjadi, karena itu juga sangat merugikan perusahaan yang dipimpinnya. Ia berjanji akan bekerja keras untuk mengatasi hal tersebut.

“Kami akan terus berusaha maksimal karena kami adalah pelayan dan penjual air. Tidak mungkin kami menginginkan permasalahan terjadi berkepanjangan, karena keuntungan yang kami peroleh hanya dari penjualan air. Oleh sebab itu, tidak ada waktu bagi saya untuk tidak melakukan perbaikan,” ujarnya.

Ia menargetkan permasalahan ini berakhir sebelum menyambut bulan suci ramadan. Sehingga pelanggan dapat melaksanakan ibadah puasa dengan tenang agar dalam melaksanakan ibadah bisa khusuk tanpa memikirkan air lagi.

“Mudah-mudahan kita selalu diberikan kesehatan dan kekuatan sehingga tugas-tugas kami yang begitu kompleks dapat kami atasi dengan baik dan tepat waktu serta bisa memberikan pelayanan maksimal kembali kepada masyarakat,” tutupnya. (ian)

Komentar

News Feed