oleh

Singapura Manfaatkan Bluetooth Melacak Kontak Dekat Pasien Korona

JAKARTA–Singapura menggunakan kecanggihan teknologi untuk melacak kontak dekat dengan pasien Covid-19. Sehingga kontak yang di-tracing bisa langsung ditemukan dan diperiksa spesimennya.

Khususnya bisa dilakukan pada lansia sebagai kompok paling rentan. Nama alat tersebut adalah Token TraceTogether, perangkat wearable yang diaktifkan dengan Bluetooth masing-masing dan akan memiliki kode QR yang unik.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa minggu setelah pemerintah mengatakan sedang mengerjakan perangkat yang dapat dipakai untuk melacak kontak.

Menurut Kantor Pemerintah Digital Singapura, token tersebut dirancang untuk bertukar sinyal Bluetooth dengan Token TraceTogether lainnya serta ponsel yang menjalankan aplikasi penelusuran kontak TraceTogether yang berada dalam jarak yang ditentukan.

Diperkenalkan pada Maret, aplikasi pelacakan kontak menggunakan teknologi nirkabel untuk mengidentifikasi pengguna TraceTogether dalam jarak 2 meter satu sama lain selama lebih dari 30 menit. Data tersebut kemudian ditangkap, dienkripsi, dan disimpan secara lokal di ponsel pengguna selama 21 hari, yang mencakup masa inkubasi virus.

Token TraceTogether itu sendiri akan menyimpan data dari kontak dekat selama 25 hari. Pengguna akan diberi tahu oleh tim penelusuran kontak Kementerian Kesehatan jika mereka terdeteksi sebagai kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi Covid-19. Sehingga kontak dekat mudah dilacak.

Terlepas dari kurangnya konektivitas internet atau seluler, token juga tidak memiliki GPS. Perangkat ini diperkirakan memiliki masa pakai baterai enam hingga sembilan bulan dan tidak perlu diisi.

Token TraceTogether akan memperluas perlindungan yang disediakan oleh alat pelacakan kontak digital kepada sebanyak mungkin orang di Singapura. Termasuk mereka yang mungkin tidak memiliki ponsel.

Singapura mencatat bahwa sekitar 2,1 juta orang telah mengunduh aplikasi TraceTogether. Orang tua dan anak-anak juga diedukasi untuk bisa memanfaatkan teknologi ini.

Sebelumnya, langkah pemerintah Singapura untuk mendistribusikan perangkat ini memicu kemarahan publik karena khawatir tentang privasi mereka. Sebuah petisi online telah mengumpulkan hampir 54 ribu tanda tangan karena perangkat ini dianggap sudah membatasi privasi dan kebebasan ruang gerak. (jwc)

Komentar

News Feed