oleh

Siasati Kenaikan Harga Kedelai, Ukuran Tempe Dikurangi

MAJENE — Kenaikan harga bahan baku kedelai membuat penghasilan para pengrajin dan penjual tahu tempe ikut terkena imbas. Hampir seluruh daerah di Indonesia diwarnai fenomena harga kedelai yang menanjak. Begitupun Majene. Kenaikan harga berpengaruh pada penjualan tahu dan tempe.

Menurut penjual tahu dan tempe di Pasar Sentral Majene, Muhammad Sobhin sejauh ini perbedaan harga dari sebelumnya belum begitu mencolok. Hanya saja, ukuran tahu dan tempe agak sedikit kecil.

“Jadi ada beberapa solusi yang saya lihat dari pengrajin tahu dan tempe ini terkait kenaikan kedelai, dimana ukurannya lebih kecil,” ujar Sobhin, Kamis 7 Januari.

Hal tersebut dinilai wajar demi menjaga agar penjualan tetap dinamis. “Selain ukuran yang diubah, biasanya kuantitas dari barang juga berubah, misal tahu yang tadinya seribu lima lembar dengan ukuran kecil, tapi karena ukuran yang dijualkan normal, kemudian jadi seribu empat lembar,” kata Sobhin.

Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Mirna. Menurutnya, kenaikan harga kedelai tidak terlalu berpengaruh secara signifikan pada harga jual di Majene.

Hanya saja ukuran dari bahan makanan pokok ini lebih kecil dari sebelumnya, sebelum adanya kenaikan harga kedelai. “Kami tidak tau jelas kenapa terjadi kenaikan kedelai, karena sangat jarang untuk di Majene. Rata–rata setau saya para pedagang atau pengrajin tahu mengambil kedelai dari Wonomulyo,” paparnya.

Pengrajin tahu di Majene, Ahmad Suhaidi mengaku ia memilih tidak menaikkan harga jual tahu karena khawatir konsumen akan mengurangi jumlah pembelian. “Yang jelas, solusinya, kami memilih mengurangi ukuran tahu agar tidak merugi akibat lonjakan kedelai saat ini,” jelas Ahmad.

Saat ini kedelai mengalami lonjakan harga yang tadinya Rp 7.500 per kilo kini tembus menjadi Rp 9.400 per kilo. “Kami lebih memilih mengurangi ukuran tahu, dimana sedikit lebih kecil agar tidak merugi dan biar tetap jalan,” tutup Ahmad. (mab/rul)

Komentar

News Feed