oleh

Si Kemasan Alami Yang Aman Dikonsumsi

PENGGUNAAN kemasan pada setiap produk makanan maupun yang lain, agar produk lebih tahan lama dan menambah nilai estetika, banyak dilakukan.

Oleh: Dian Arsita Fitri (Mahasiswa Pascasarjana IPB)

Si Kemasan Alami Yang Aman Dikonsumsi

Pengemasan merupakan salah satu cara melindungi atau mengawetkan produk pangan dan produk lainnya. Pengemasan berguna meningkatkan daya suka konsumen, mengurangi derajat kerusakan pada bahan pangan selama proses pengangkutan, dan merupakan salah satu cara memperpanjang masa simpan suatu produk.

Pengemasan tidak hanya bertujuan mengawetkan bahan pangan, akan tetapi sebagai penunjang distribusi suatu produk pangan ataupun non pangan. Dengan adanya pengemasan, bahan pangan yang ingin didistribusikan akan lebih mudah sampai ke konsumen. Selain itu, pengemasan merupakan bagian penting dari usaha untuk mengatasi persaingan pemasaran produk.

Namun saat ini, produksi pengemasan didominasi kemasan berbahan dasar plastik. Hal ini mengakibatkan meningkatnya limbah plastik di dunia, termaksuk Indonesia.

Pengemasan plastik yang umum digunakan adalah jenis PVC dan resin, yang banyak menimbulkan dampak negatif. Diantaranya, dapat merusak lingkungan karena tidak dapat terdegradasi secara biologi, dapat mencemari bahan pangan karena adanya zat-zat yang mudah bermigrasi ke dalam bahan pangan, dan mahal dalam daur ulang.

Bahan pangan seperti produk buah-buahan dan hortikultura lainnya memiliki sifat khas, yaitu tetap mengalami perubahan secara kimia setelah proses pemanenan. Sehingga mempengaruhi kualitas dari suatu produk tersebut.

Selama proses perubahan karakteristik tersebut, buah-buahan dan produk hortikultura mengalami proses respirasi yang mengakibatkan adanya proses penguraian kandungan nutrisi di dalam bahan pangan tersebut. Sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan pada produk.

Mengatasi masalah ini, banyak hal harus dilakukan. Salah satu yang paling banyak dilakukan adalah mengembangkan pengemas produk pangan tersebut. Salah satu alternatif untuk menanggulangi banyaknya limbah plastik adalah menggunakan kemasan ramah lingkungan atau berbahan dasar alami.

Penggunaan edible film untuk produk pangan dan pengusaha teknologinya masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu dikembangkan penelitian lebih intensif. Edible film sangat potensial sebagai pembungkus makanan dan pelapis produk-produk pangan, industri, farmasi maupun hasil pertanian segar.

Edible film merupakan lapisan tipis, sebagai pengemas makanan yang langsung dapat dikonsumsi bersamaan bahan pangan tersebut.

Menurut Gennadios et al (1990), keuntungan dari edible film dibandingkan pengemasan non edible adalah, dapat langsung dikonsumsi bersama produk yang dikemas. Sehingga, tidak ada kemasan dan meningkatkan sifat-sifat organoleptic pangan karena di dalamnya dapat ditambahkan rasa, pewarna dan pemanis. Dapat digunakan sebagai suplemen gizi, dapat digunakan pada produk berukuran kecil dan dapat berfungsi sebagai pembawa senyawa antimokroba atauantioksidan.

Beberapa bahan yang sering digunakan sebagai pembuat edible film yaitu senyawa hidrokoloid dan lemak. Senyawa hidrokoloid yang dapat digunakan adalah protein dan karbohidrat. Pati sebagai senyawa hidrokoloid, merupakan polimer yang secara alamiah terbentuk dalam berbagai sumber botani/nabati seperti gandum, jagung, kentang dan tapioka. Pati merupakan salah satu bahan baku alternatif yang aman untuk pengemasan yang dapat dimakan (edible) dan mudah untuk diserap tubuh. Sehingga kemasan edible berbasiskan pati layak untuk dikembangkan.

Pemanfaatan pati sebagai bahan baku pembuat edible film memiliki kemampuan yang baik untuk melindungi produk terhadap oksigen, karbondioksida, minyak, dan meningkatkan kesatuan struktur produk (Fama dkk., 2005).

Pembuatan edible film berbasis pati dilakukan dengan mencampur pati alami maupun pati termodifikasi dengan bahan-bahan tambahan seperti plasticizer, dan bahan lainnya. Proses produksi edible film berbasis pati dimulai dengan mencampurkan pati dengan akuades, kemudian dipanaskan sambil diaduk dengan bantuan pengaduk stirrer ditambahkan bahan aditif seperti plasticizer (sorbitol dan griserol). Pemanasan dilanjutkan sampai bahan tergelatinisasi, kemudian suhu diturunkan.

Hasil yang didapat berupa larutan kemudian dituangkan ke permukaan plat. Selanjutnya bahan dikeringkan pada suhu 100 oC di dalam oven. Setelah kering, didinginkan dalam ruang terbuka sampai suhu sama dengan suhu kamar. Selanjutnya uji kuat tarik dan daya larut.

Dengan adanya kemasan dari edible film diharapkan mengurangi penggunaan sampah plastik sintetis sebagai pengemas produk pangan oleh perusahaan atau industri pangan. Sehingga memberi dampak positif, yaitu dapat mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan. (***)

Komentar

News Feed