oleh

Sepanjang 2020, Sembilan Kasus Pencabulan Anak Terjadi di Mateng

TOPOYO — Kasat Reskrim Polres Mamuju Tengah (Mateng) Ipda Argo Pongki Atmojo mengatakan, kasus pencabulan anak di daerah ini terbilang tinggi.

Ia menyebutkan, sepanjang 2020, sebanyak sembilan kasus pencabulan anak yang ditanganinya. Tentunya ini menjadi sorotan publik dan diharapkan peran maksimal dinas terkait.

Ia berharap, langkah selanjutnya untuk mengurangi tingkat pencabulan anak adalah bekerjasama dengan Babinkambtibmas melakukan sosialisasi dan edukasi hukum di tengah masyarakat.

Disebutkan, kasus pencabulan anak yang terjadi di Mateng terjadi pada 23 Desember 2020. Tersangkanya adalah seorang pria paruh baya inisial IM (47). Ia adalah tukang urut. IM mencabuli anak umur tujuh tahun.

Argo menguraikan, kejadian itu bermula ketika korban NM (7) disuruh oleh ibunya mengantarkan makanan ke tetangganya, yang tidak lain ialah IM.

Kemudian saat diantarkan makanan tersebut, disitulah IM melancarkan tindakan bejatnya. Ia melakukan perbuatan tak senonoh kepada NM.

Tidak lama kemudian, NM kembali ke rumahnya dalam keadaan pucat dan ketakutan. Sehingga ibunya curiga telah terjadi sesuatu pada anaknya.

“Setelah didesak untuk cerita, si korban akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya,” ungkap Argo, Rabu 28 Desember 2020.

Setelah orangtua korban mengetahui, ia langsung melapor ke Polres Mateng. Dan saat itu juga dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku.

Atas perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 82 UU 76 Tahun 2014 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Saat ini pelaku sudah ditahan di Polres Mateng, SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan, red) segera ditindaklanjuti ke kejaksaan,” jelasnya.

Untuk barang bukti, masih proses mengumpulkan seperti baju dan aksesoris yang digunkan saat kejadian.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak Mateng Zainal Abidin mengatakan, saat ini pihaknya sudah berkoorsinasi dengan pihak Polres untuk penanganan kasus serta melakukan pemdampingan terhadap keluarga korba.

Abidin, menilai faktor terjadinya pencabulan itu karena kurangnya pendampingan orangtua terhadap anaknya, dan tidak adanya penyuluhan untuk masyarakat mengenai hukum dan dampak jika hal itu terjadi.

“Selanjutnya, kami akan melakukan pendampingan keluarga dan penyuluhan kepada masyarakat, agar meminimalisir terjadinya pencabulan anak,” tutur Abidin. (arn/ham)

Komentar

News Feed