oleh

Seni, Internet dan Promosi Wisata

AKHIR-AKHIR ini para YouTuber mancanegara sedang menggandrungi lagu-lagu yang dibawakan oleh Vanny Vabiola.

Vokalnya yang merdu nan melengking menjadi daya tarik dan membuat kagum YouTuber berbagai negara.
Apalagi ketika gadis asal Padang itu meng-cover lagu-lagu pop romantis dari Celine Dion, Mariah Carey dan Whitney Houston, maka tidak menunggu waktu lama muncul video para YouTuber yang memberikan reaksi.

Seni, Internet dan Promosi Wisata

Dengan ketenarannya, Vanny mengenalkan lagu-lagu nostalgia Indonesia dan lagu Minang kepada para penggemarnya di luar negeri. Karena sudah mengidolakan Vanny, maka apapun yang dinyanyikannya pasti mendapat apresiasi yang istimewa dari YouTuber mancanegara.

Bahkan ada diantara mereka yang akhirnya belajar Bahasa Indonesia agar dapat menghayati lagu-lagu yang dibawakan oleh Vanny. Sampai-sampai ada yang menyatakan ingin ke Padang hanya untuk bertemu dengannya.

Berimbas pada daerahnya, Padang kini menjadi ikut terkenal di mancanegara. Jumlah subscriber Vanny pun kini melonjak tajam hingga mencapai 1,2 juta. Dari laman socialblade.com, dapat diketahui pendapatan Vanny sebagai YouTuber mencapai 4.000 hingga 63.800 dollar pe bulan atau 56juta hingga 899 juta rupiah.

Para reaktor mancanegarapun memanfaatkan ke-kepo-an orang Indonesia untuk menambah pundi-pundi penghasilannya. Setiap mengunggah video reaksi terhadap lagu-lagu Vanny, subscriber mereka tiba-tiba melonjak naik. Tentu sebagian besar berasal dari Indonesia. Masih dari lama socialblade.com, pendapatan para YouTuber yang mengunggah video reaksi Vanny, rata-rata mencapai 595 hingga 9500 dollar atau 8 juta hingga 83 juta rupiah.

Sungguh pendapatan yang fantastik bagi seorang ibu rumah tangga. Tidak perlu konser ke mana-mana yang menyita waktu dan tenaga, cukup menggunggah video lagu yang dibawakannya, pendapatan pun mengalir di rekening miliknya.

Padahal dulu, untuk terkenal saja para seniman harus berjuang mati-matian. Boro-boro ingin terkenal di mancanegara, di dalam negeri saja, harus masuk dapur rekaman dan konser keliling ke berbagai daerah. Tapi kini tak perlu lagi. Dengan internet semuanya bisa. Anda bisa mewujudkan cita-cita sebagai biduwan/biduwanita terkenal hanya dengan mengunggah video anda di media sosial (Youtube, Facebook atau lainnya).

Jika Vanny mengenalkan daerahnya melalui seni, maka lain halnya dengan seorang YouTuber asal Australia yang sangat terkenal bernama David Andrew Jephcott atau lebih dikenal para YouTuber dengan nama Londokampung.

Konten-konten pada canel youtubenya memperkenalkan bahasa Jawa, membuat banyak orang Australia tertarik datang ke Jawa Timur dan bahkan ada yang datang hanya untuk belajar bahasa Jawa. Maka beruntunglah Pemda Surabaya, karena di daerahnya memiliki seorang YouTuber sekaliber LondoKampung. Sangat tertolong oleh konten-konten dalam memasarkan daerah di mancanegara. Demikian pula bagi Pemda Sumatera Barat yang memiliki Vanny Vabiola.

Teringat 2015 saat pemda Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) ingin mempromosikan destinasi wisata Halbar melalui seni tari, maka pemda pun memberangkatkan para penari tradisionalnya keliling mancanegara, seperti Belanda dan Australia. Biayanya tentu cukup besar. Sementara hasilnya (pengunjung wisata asing) belum dirasakan secara maksimal. Walaupun di tahun 2019 saat saya berkunjung ke Jailolo, sudah terlihat beberapa turis asing, namun jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari.

Bagaimana dengan Sulbar?

Awal Desember 2020, lalu, saat saya mengikuti acara beda buku Majene Kota Tua dalam rangka penyusunan roadmap destinasi wisata di Sulbar, Kepala Dinas Pariwisata Sulbar, Farid Wajdi mengemukakan ingin membuat festival budaya Mandar sebagai salah satu agenda Pemda dalam upaya promosi wisata.

Bagi saya ide itu bagus. Namun tiada salahnya dicoba juga upaya pengembangan promosi melalui media internet. Caranya, bentuk team kreatif cyber yang dapat menyajikan berbagai potensi Sulbar. Biayanya sedikit, tapi jika dikelolah secara profesional saya yakin dampaknya akan lebih meluas, karena dapat diakses oleh siapa saja di berbagai belahan dunia.

Dari pengalaman pribadi hal tersebut dapat saya rasakan, saat November lalu staf UT Pusat datang berkunjung ke Majene. Setelah kerja, mereka meluangkan waktu untuk mancing. Ketika saya dan staf bingung mau merekomendasikan spot yang asyik untuk mancing, mereka pun menyatakan tak perlu repot.
Rupanya sebelum ke Majene, mereka sudah melakukan survei terlebih dahulu melalui internet, mencari tau daerah-daerah yang cocok jadi spot untuk mancing. Bahkan lengkap dengan pemandu wisatanya, seorang anak muda dari Polewali yang menjadi YouTuber. Ia sering memposting topik-topik dunia mancing di Sulbar.

Untuk itu saya yakin, banyak anak muda Sulbar yang punya bakat dan potensi dalam membuat konten-konten promosi wisata yang menarik.

Tahun lalu saya bertemu sutradara muda asal Mandar yang sangat berbakat bernama Andi Aco Nursyamsi. Saat itu ia lagi syuting filmnya berjudul ‘Saranyawa’ di Kantor UT Majene. Film-nya keren. Berkisah perjuangan anak Mandar menuntut ilmu untuk menggapai cita-citanya, lengkap latar budaya Mandar disajikan dalam film tersebut.

Semoga para anak muda seperti Andi Aco dapat dimanfaatkan oleh pemda sebagai team kreatif cyber-nya Sulbar dalam mempromokan potensi Sulbar. (***)

Komentar

News Feed