oleh

Selesaikan Covid Dengan Anggaran Besar, Tepatkah?

Di tengah wabah yang melanda negeri, banyak upaya dilakukan oleh negara, dengan langkah-langkah yang dianggap tepat dan efektif untuk menanggulangi wabah.

Oleh: Desi Ratna Wulan Sari, S.E., M.si. (Alumnus PascaSarjana, Sosiologi, Fisip Universitas Indonesia, Depok, 2009)

Hantaman terbesar terjadi pada dunia kesehatan. Tidak siapnya menghadapi kehadiran virus asing dan mematikan dengan nama Covid-19 telah banyak memakan korban nyawa. Entah kurang kesiapan mitigasi wabah, ataukah kurang tepatnya alokasi anggaran yang dikucurkan.

Di tengah wabah yang kian terus meluas, kesehatan bukan satu-satunya yang sibuk mencari jawaban. Pemain ekonomi global sampai jungkir balik mencari celah agar usaha dan perusahannya bisa terus berjalan.

Inilah fakta yang tidak dapat kita lupakan. Bahwa sistem kapitalis menjadi jalan roda perekonomian negeri. Tanpa melihat kondisi. Baginya, setiap situasi tetap harus menjadi komoditi yang mampu menguntungkan kantong-kantong tebal para kapitalis global. Sistem yang jelas menyengsarakan rakyat dari setiap kebijakan yang dibuatnya.

Terlebih di masa pandemi, para ahli telah banyak melakukan penelitian untuk menemukan anti virus bagi virus Covid-19 ini. Hingga beberapa lembaga kesehatan menemukan anti virus yang masih dilakukan uji coba keampuhannya.

Sehingga, alokasi anggaran kesehatan pada program penanganan Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 sebesar Rp 133,07 triliun. Angkanya naik dua kali lipat dari PEN 2020 sebesar Rp 63,31 triliun.

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara, Kementerian Keuangan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, dalam webinar Percepatan Ekonomi Sosial, Minggu 7 Februari.

Sebelumnya, para pengamat ekonomi telah banyak memberikan masukan terkait kebijakan anggaran di masa pandemi. Seorang ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, menyampaikan pendapatnya bahwa pemerintah jangan terlalu buru-buru mengubah APBN 2021. Sebab tahun depan segala resiko sangat mungkin terjadi, termasuk penambahan anggaran program PEN yang tergantung dari penanganan pemerintah.

Dari analisis para pengamat ekonomi, mengindikasikan perlunya pertimbangan lebih dalam mempersiapkan anggaran negara. Khususnya pada masa krisis pandemi. Dan dengan dinaikkannya anggaran PEN tahun 2021 ini, bukan menjadi jaminan jalan penyelesaian tuntas pandemi.

Dana-dana yang lebih banyak, dikeluarkan dan mengarah pada kebijakan yang ‘benar’ dalam penanganan pandemik, yang dianggap perlu dan tidak perlu dilakukan dalam merencanakan anggaran negara di tahun 2021 khususnya di masa pandemik hanya akan memperpanjang masa pandemik dan kesengsaraan rakyat.

Lantas, solusi apa yang perlu dilakukan dalam mengahadapi permasalahan di masa pandemi ini?

Kembali Pada Solusi Umat

Sistem Islam telah memberikan solusi terbaik, di mana mereka menangani sebuah wabah besar dan membarikan jaring pengaman yang tepat bagi masyarakat yang berdampak. Baik dari sisi ekonomi, sosial, keamanan dan ketahanan pangannya.

Inilah beberapa langkah yang dilakukan sistem Islam, saat mengatasi wabah di masa Daulah Islam. Pertama, Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menulai terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta (wabah tho’un) tersebut.

Beliau bersabda: “Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR al-Bukhari).

Kedua, menutup pintu masuk wilayah yang terkena wabah. Rasulullah SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Ketiga, peningkatan dalam menjaga kesehatan. Sebab awal suatu penyakit disebabkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan Allah SWT. Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak dimakan, seperti kelelawar dan yang semacamnya. Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (TQS al-A’raf [7]: 31).

Keempat, memberikan jaring pengaman sosial dalam melindungi warganya yang sedang terkena wabah, dan terdampak atas wabah yang dideritanya. Seperti bantuan sandang, pangan, obat-obatan serta kebutuhan penunjang kesehatan yang diperlukan.

Itulah beberapa hal yang dilakukan Islam dalam memberikan solusi di masa pandemi ataupun wabah besar berkepanjangan. Dan penguasa memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rakyatnya. Terlebih disaat wabah melanda. Negara tidak boleh abai atas tanggung jawabnya mengurus rakyat. Wallah in a’llam bishawab. (***)

Komentar

News Feed