oleh

Selamat Bertugas, Terima Kasih Jenderal Religius

Laporan: Imran Jafar (Mamuju)

MENGAKUI sebuah kesalahan dan meminta maaf secara terbuka, bukan perkara mudah bagi seorang pejabat. Gengsi dan bertahan seakan-akan paling benar, maka kata ‘maaf’ kadang disamarkan dengan sekelumit alasan.

Tapi tak demikian dengan Brigjen Pol Baharuddin Jafar. Sosok yang selama ini menjabat Kapolda Sulbar itu justru selalu menunjukkan bahwa meminta maaf itu mudah. Soal jabatan itu hanya amanah.

Mudahnya ‘meminta maaf’ itu dapat terlihat dari figur yang menjadi tauladan di Sulbar. Baharuddin Djafar, dua tahun ini terekam dalam sejumlah peristiwa. Dimana institusi kepolisian kerap bergesekan dengan masyarakat. Itu karena kerap ada oknum yang represif.

Kamis 14 September 2017, Brigjen Pol Baharuddin Djafar berjabat tangan dengan Brigjen Pol Nandang di hadapan seluruh insan pers, di bawah teduhan tribun Lapangan Ahmad Kirang, Mamuju.

Disitulah awal pria kelahiran Ujungpandang 23 Januari 1963 itu mengabdi sebagai Kapolda di Sulbar.

Tersimpan dibenak para pekerja media, ketika ada personel Polda Sulbar yang melontarkan perkataan kasar terhadap salah satu awak media yang hendak melakukan pengambilan gambar usai acara Sertijab Kapolda Sulbar kala itu. Dan di hari itu juga Baharuddin cepat merespon. Ia merangkul seluruh awak media, dan tak segan mengucapkan permintaan maaf di hadapan lensa-lensa yang menyorotnya.

Berjalannya waktu, sosok Kapolda yang relijius ini mulai tampak dengan rutinnya melakukan ceramah di mimbar-mimbar keagamaan. Hingga kemudian diadakannya acara rutin di mesjid dalam Kota Mamuju dengan nama kegiatan ‘Mioro Siola’ (duduk bersama). Itu menjadi ruang Kapolda dengan jamaah yang melaksanakan salat subuh berjamaah membahas permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Tidak cukup dengan itu, Baharuddin juga rutin mengadakan coffee morning bersama awak media. Menurutnya, awak media memiliki mata yang bisa melihat permasalahan hingga ke pelosok. Karenanya ia mengadakan forum diskusi rutin setiap bulan untuk mendengar ragam permasalahan.

Permasalahan apapun, bahkan jika masalah itu bukan kewenangannya, ia siap memediasi ke intansi terkait agar masalah itu dapat diselesaikan.

Setiap permasalahan berkaitan dengan instansi kepolisian yang bersentuhan dengan masyarakat, Baharuddin selalu berada di depan.

Jika celahnya adalah instansi kepolisian, dalam hal ini personelnya melakukan kesalahan, ia pun bertanggungjawab dan tak segan meminta maaf.

Mulai dari gesekan dengan massa aksi, terlibatnya personel dalam kasus narkoba dan bentuk kriminal lainnya, permintaan maaf adalah jawaban yang tidak menjadi beban bagi Baharuddin. Sebab ia tahu dan sadar sebagai pejabat yang mesti bisa mengakui kesalahan, kendati itu dilakukan anak buahnya.

Bahkan ketika ia mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak, terlebih dahulu ia menyampaikan meminta maaf.

Contohnya, dua tahun menjabat, artinya Baharuddin sudah melewatkan dua kali pesta pergantian tahun, itu tanpa pesta kembang api. Dikeluarkannya kebijakan itu tidak serta merta, terlebih dahulu meminta maaf melalui media, ia sadar telah memotong penghasilan penjual petasan.

Hanya saja Kapolda berharap kegiatan religi di pergantian tahun lebih mendamaikan suasana dan mengurangi risiko kriminalitas dibandingkan dengan berpesta kembang api.
Sewajarnya Polda Sulbar mendapat apresiasi sebagai Polda yang mendapat kepercayaan masyarakat, berdasarkan Litbang Polri.

Catatan terakhir, insiden personel Brimob dengan pengelola wisata di Salupajaan, Polman. Lagi-lagi, karena peristiwa itu Baharuddin Jafar meminta maaf. Dan dari sekian maaf yang dilontarkannya, bukan sekadar maaf untuk menggugurkan permasalahan. Ia selalu tindak lanjuti dengan melakukan sidang etik atau pemberian sanksi terhadap personel yang melanggar aturan.

Hal lain yang membuat Baharuddin akrab dengan semua kalangan, karena ia mudah di temui. Tak perlu segan menemuinya.

Barangkali itu salah satu membuat karirnya meningkat. Sebentar lagi jenderal bintang satu itu akan menjadi bintang dua. Semoga jabatan baru yang diembannya sebagai Kapolda Maluku tak menyurutkan pribadinya yang humanis dan religius. (***)

Komentar

News Feed