oleh

Rusdi Lacanda, Legenda Timnas Indonesia dari Pasangkayu

Di Sulbar, nama Rusdi Lacanda mungkin saat ini sudah tak dikenal luas, kecuali di wilayah Kabupaten Pasangkayu.

Catatan: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepakbola)

Namun nyatanya ia adalah seorang pesepakbola legendaris yang lahir di daerah bekas afdeling Mandar ini.

Pemain yang pernah memperkuat Timnas Indonesia ini, sudah wafat 14 tahun silam. Penulis sendiri baru tau tentang Rusdi setelah salah seorang teman memberikan informasi bahwa di Kabupaten Pasangkayu ada pesepakbola legendaris yang pernah membela timnas.

Untuk penelusuran rekam jejak beliau, saya memperolehnya dengan mengontak adik sang legenda, Pangki Abdul Kadir, yang juga pernah aktif sebagai pesepakbola di Bumi Vovasanggayu dan Bapak Kamaludin seorang mantan pemain timnas kelahiran Donggala, yang selama ini merumput di belantika sepakbola nasional.

Publik mengira dia adalah adik kandung Rusdi Lacanda, karena sama-sama datang dari Palu serta ada kemiripan wajah dan postur tubuh keduanya.

Rusdi Lacanda, lahir di sebuah kampung kecil bernama Pangiang ,12 Oktober 1960. Sekarang menjadi Desa Pangiang berjarak sekira 20 Kilometer dari kota Pasangkayu.

Menurut Pangki, kakaknya itu bermain bola sejak masih SD. sampai dia lulus, sudah langsung memperkuat kesebelasan Kecamatan Pasangkayu. dia bahkan pernah mengikuti turnamen antar kecamatan se- Kabupaten Mamuju, yang dihelat di Kota Mamuju, akhir tahun 70-an

“Naik perahu ke Mamuju, dipimpin langsung Pak Minggung, Camat Pasangkayu kala itu,” tutur Pangki

Setelah itu Rusdi hijrah ke Donggala untuk melanjutkan sekolahnya di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Donggala.

Di mata adiknya,Rusdi Lacanda merupakan kakak pekerja keras dan penyayang. “Selama di Donggala setiap pulang sekolah, dia memanfaatkan waktunya dalam bekerja apa saja, bahkan pernah jadi buruh kapal di Pelabuhan Donggala,” imbuhnya.

Di kota yang terkenal dengan pelabuhan tuanya itu, dia bergabung dengan Klub Persido Donggala.

Dari Persido ke Palu Putra

Sementara menurut penuturan Kamaludin, pemain timnas lainnya jebolan Persido Donggala, suatu ketika Palu Putra melakukan lawatan ke Persido Donggala. Dalam laga persahabatan atau friendly match ini, Rusdi Lacanda benar-benar tampil memukau, sampai memikat hati pelatih dan pengurus Palu Putra. Tanpa proses seleksi yang panjang, mereka langsung merekrut dan membawa Rusdi Lacanda ke Kota Palu.

Saat itu Palu Putra diurus langsung oleh Bapak Bupati Donggala Azis Lamadjido yang kemudian terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Tengah.

“Beliau memang ‘Gila’ Bola. Seluruh pemain Palu Putra yang dipilihnya mendapatkan fasilitas rumah, dan konon sampai sekarang rumah itu masih milik mereka,” Papar Kamaludin.

Tunasi Inti dan PSSI

Tampil cemerlang selama dua tahun di Palu Putra, Rsdi lantas mendapat panggilan untuk seleksi di Klub Galatama, Tunas Inti Jakarta. Mengikuti jejak Erwin Sumampouw, seniornya di Palu Putra, yang lebih duluan bermain disana.

Di Tunas Inti inilah permainannya kian menonjol, membuat PSSI memanggilnya untuk segera bergabung di Presiden Cup yang dihelat di Seoul Korea Selatan pada tahun 1981.

Timnas yang dilepas oleh Presiden Soeharto itu, Rusdi berangkat bersama nama beken lainnya seperti Iswadi Idris, Zulkarnain Lubis, Nus Lengkoang Gusnul Yakin dan Ricky Yakob

“Rusdi Lacanda bermain di PSSI dari tahun 1981 hingga1985,” terang Kamaludin.

Cidera dan Oprasi di Amerika

Cidera adalah momok bagi setiap pemain sepak bola. Bahkan kebanyakan bisa merenggut masa depan mereka begitu saja. Tak terkecuali, Rusdi Lacanda.

Pada babak 8 Besar kompetisi Galatama mempertemukan Tunas Inti dengan Arseto Solo di Stadion Utama Senayan Jakarta, pertandingan sarat gengsi dan bertensi tinggi itu terlihat sejak menit awal.

Lalu petaka itu datang pada menit ke-20 babak pertama. Saat mencoba menghalau serangan pemain Arseto Solo, Mahadi Haris, benturan tak terhindarkan membuat Rusdi Lacanda tidak mampu melanjutkan pertandingan.

“Tidak bisa lagi bangun, dan langsung diangkat keluar, saya di tribun, yang malam itu nonton bersama anak-anak PSSI Garuda Junior lainnya, langsung dipanggil menemani Erwin Sumampow ikut di ambulans mengantarnya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,” kenang Kamaludin.

Hampir satu bulan tak kunjung sembuh, Bos Tunas Inti, yang juga pemilik perusahaan Farmasi PT. Tempo menyarankan untuk operasi di Amerika Serikat.

Maka berangkatlah dia ke negeri Paman Sam dengan segalanya ditanggung oleh PS Tunas Inti. “Cukup lama disana, karena menunggu sampai benar-benar pulih,” jelas mantan punggawa Timnas ini.

Kembali ke Pangiang

Pulang dari negeri kelahiran Alexi Lalas, Rusdi Lacanda, kembali bergabung dengan Tunas Inti, namun beberapa kali diturunkan pasca cidera, permainannya pun kian menurun.

Akhirnya setelah tujuh tahun menjadi pemain inti di Tunas Inti, Rusdi Lacanda memilih pulang kampung mengikuti seniornya Erwin Sumampouw yang lebih dulu pulang kembali ke Tanah Kaili.

Sempat kembali merumput bersama klub asalnya Palu Putra, sebagai perpisahan untuk suporter yang selalu mengelu-elukan namanya selama ini di Stadion Nokilala, sampai memilih untuk pensiun dan kembali ke kampung asalnya Desa Pangiang Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu.

Di tanah kelahirannya, menutup karirnya di sepakbola dengan menjadi pelatih Tim Mamuju Utara pada Porprov pertama Sulawesi Barat tahun 2007. Hingga akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 November 2007.

Dengan segala prestasinya, patut kiranya Rusdi Lacanda dikenang. Pertanyaan pun timbul, adakah stadion atau lapangan sepakbola yang bisa mengabadikan namanya? (*)

Komentar

News Feed