oleh

Riset Geologi Belanda dan Lokasi Gempa di Mandar

-Stories-1.988 views

PIHAK Belanda tidak hanya datang menjajah dan mengeruk sumberdaya hayati yang ada di Nusantara, seperti rempah di Maluku dan memonopoli perdagangan kopra di Mandar. Selain banyak melakukan kajian atnografis, juga kajian geologis dalam rangka mencari potensi sumber-sumber tambang. Tak mengherankan bila sudah ada catatan-catatan geologis bumi Mandar oleh orang Belanda lebih 100 tahun lalu.

Riset Geologi Belanda dan Lokasi Gempa di MandarOleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Riset Geologi Belanda dan Lokasi Gempa di Mandar

Salah satu ilmuwan yang pernah tinggal di Sulawesi (1910 – 1911) adalah EC Abendanon. Dia membuka tabir geologi di pesisir barat Pulau Sulawesi lewat ekspedisi bersama Sarasin. Dia membuat deskripsi dan sketsa patahan di Mandar. Risetnya di bawah lembaga Koninklijke Nederlandsche Aardrijkskundig Genootschap (KNAG).

Menurut Wikipedia, KNAG adalah Perkumpulan Geografi Kerajaan Belanda, organisasi geografer atau yang memiliki minat pada geografi yang didirikan pada 1873. Organisasi tersebut menyelenggarakan beberapa ekspedisi ke Suriname, pulau-pulau di kepulauan Hindia Belanda, Afrika Selatan dan sempat mengunjungi suku-suku asli di Amerika Utara. Kebanyakan ekspedisinya diikuti oleh para ilmuwan dari bidang-bidang yang berbeda, seorang fotografer dan seorang perwira angkatan laut. Anggotanya tidak hanya para ilmuwan, tetapi elit politik dan elit komersial (banker, pemilik pabrik, pemilik kapal dan kapten kapal dagang). Misinya agenda ekonomi serta misi ilmu pengetahuan.

Di Pulau Sulawesi Belanda dengan KNAG-nya mencari sumberdaya yang bisa ditambang, seperti emas, batubara, nikel, dan lain-lain. Gambaran fisik geologi suatu tempat bisa menjadi penanda awal bahwa tempat tersebut berpotensi menghasilkan bahan tambang yang berharga di masa itu dan di masa mendatang. Sekedar informasi, cikal bakal riset geologi tambang emas Freeport di Papua juga dilakukan oleh lembaga KNAG pada masa yang sama (awal abad ke-20).

Dalam salah satu artikelnya “De Breukenkust van Mandar” (Patahan di Pesisir Mandar), Abendanon membuat sketsa tektonik di daerah ini dengan beberapa garis lebar, seperti yang dia lihat saat berlayar di sepanjang pantai barat Mandar kala menuju Sulawesi Tengah.
Abendanon menganggap lembah Sungai Maloso (dalam tulisannya disebut Sungai Tjampalagian) dan Sungai Mandar (dalam tulisannya disebut Sungai Balanipa) sebagai lembah tektonik yang disebabkan oleh rekahan.

Yang menarik dari sketsa “Patahan Mandar” yang dibuat Abendanon (dalam buku “Het Gouverment Celebes Uitgave van Het”, Encyclopaedisch Bureau oleh L. Van Vuuren (1920, hal. 201) juga adalah lokasi gempa yang pernah terjadi di Mandar, termasuk yang baru-baru ini terjadi. Di sketsa itu ada tiga patahan atau sesar.

Pertama, patahan yang memanjang dari Tanjung Rangas Mamuju ke arah selatan sampai ke Tanjung Ngaloq (lokasi gempa 1984, tak jauh dari lokasi gempa 2021). Berikutnya dari Tanjung Baturoro ke arah tenggara menuju Tanjung Rangas Majene (lokasi gempa 1969). Ketiga, barisan perbukitan pemisah Lembah Sungai Mandar dan Lembah Sungai Maloso, yang kalau terus ke laut atau Teluk Mandar adalah lokasi gempa 1967.

Gempa tanggal 14 dan 15 Januari 2021 lalu adalah gempa besar pertama di sejak Provinsi SulawesiBarat terbentuk, 22 September 2004. Merupakan yang keempat sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 atau masih tergabung di Provinsi Sulawesi Selatan. Pertama 11 April 1967, kedua 23 Februari 1969 dan ketiga 8 Januari 1984. Atau, kelima kalinya di masa dunia modern jika menghitung kejadian pada 12 Agustus 1915 silam.

Sepanjang 1692 sampai tahun 2000 (rentang 308 tahun), Pulau Sulawesi dihantam 24 kali tsunami, tapi hanya tujuh yang bisa dibuktikan dengan data-data ilmiah. Tiga dari tujuh gempa tersebut adalah gempa 11 April 1967 (6,3 M), 23 Februari 1969 (6,1 M) dan 8 Januari 1984 (6,7 M), sebagaimana dituliskan oleh Achmad Yasir Baeda, mahasiswa Graduate School for International Development and Cooperation Hiroshima University, “Seismic and Tsunami Hazard Potential in Sulawesi Island, Indonesia” (Jurnal of International Development and Cooperation, Vol 17, No. 1, 2011, pp 17 – 30).

Tulisan di seri berikut adalah informasi atau pemberitaan tentang gempa-gempa di Mandar (1967 dan 1969) yang dimuat di beberapa media cetak Belanda, masih rangkaian dari tulisan seri sebelumnya.

Bersambung

Komentar

News Feed