oleh

Relawan Gusdurian Bangun Huntara untuk Penyintas Gempa di Mekkatta

MAJENE – Para Relawan Gusdurian Peduli membangun hunian sementara (huntara) untuk para penyintas gempa di Desa Mekkatta Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulbar.

Huntara yang dibuat dari bahan kayu dengan desain rumah panggung ini berdiri berjejer, menyerupai sebuah kampung kecil yang bersebelahan dengan lokasi pengungsian warga Dusun Mekkatta, Aholeang dan Rui. Setidaknya ada 120 KK yang mengungsi di tempat ini. Semuanya butuh huntara.

Relawan Gusdurian Bangun Huntara untuk Penyintas Gempa di Mekkatta

Kampung ini nantinya juga akan dilengkapi dengan fasilitas listrik dan mandi cuci kakus (MCK) serta sarana air bersih.
Huntara itu sengaja tidak berbentuk menyerupai barak, tapi dibuat per unit dengan ukuran 4 x 6 meter demi kenyamanan dan privasi para penyintas.

Selain itu, desain rumah panggung diakui lebih sehat ketimbang lantai plaster. Apalagi di daerah tersebut relatif becek jika hujan dan masih banyak hewan liar, seperti ular.

Huntara ini berbahan utama kayu dengan dinding kalsiboard dan atap seng. Material kayu dipercaya lebih hangat jika cuaca dingin dan tidak panas ketika terik.

Kepala Dusun Aholeang, Lukman, mengaku bahwa huntara yang dibuat oleh Gusdurian Peduli ini lebih nyaman dan aman. Selain itu desain huntara ini memiliki kesamaan dengan konstruksi rumah adat di Sulbar. “Rumah panggung yang berbahan kayu, selaras dengan rumah adat yang dibuat oleh nenek moyang kami,” kata Lukman.

Selain karena faktor keamanan dan kenyamanan, huntara tersebut memiliki fungsi jangka panjang. Jika nanti para penyintas ini sudah memiliki hunian tetap, huntara itu bisa dipindah ke rumah masing-masing dan bisa difungsikan untuk mushalla, lumbung, dan lain-lain tanpa harus membongkarnya.

Selain membangun huntara, Gusdurian Peduli juga membangun Rumah (Sapo) Gusdurian Peduli di seberang lokasi Kappung Gusdurian Peduli. Sapo Gusdurian dibuat sebagai rumah bersama bagai para penyintas dan relawan yang nantinya akan menjadi pusat kegiatan warga dan anak-anak muda yang setiap hari berkumpul di tempat tersebut.

Jika ramadhan tiba, Sapo Gusdurian bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, seperti tadarrus Alquran, dan lain-lain. Selain itu di tempat itu juga akan dibuat perpustakaan dan akan dikembangkan usaha produktif untuk anak-anak muda. Yang sudah berjalan untuk awal ini adalah usaha pangkas rambut.

Menurut Ketua Umum Gusdurian Peduli, A’ak Abdullah Al-Kudus, untuk sementara huntara yang dibangun di tempat itu baru 20 unit. “Kami akan berupaya semampunya untuk bisa membangun sisa huntara yang dibutuhkan oleh penyintas. Mohon doa dan dukungannya,” kata Gus A’ak. (*/ham)

Komentar

News Feed