oleh

Refleksi Hardiknas 2021, Siapkah Untuk Kembali Tatap Muka?

2 Mei 2021, insan pendidikan Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan kepada Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Oleh: SEPTIKA DWI HARYATI, S.ST
Statistisi Pertama BPS Kab. Polewali Mandar

Bagaimanapun, sejarah Hardiknas tak bisa dilepaskan dari perjuangan beliau. Beliau dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Refleksi Hardiknas 2021, Siapkah Untuk Kembali Tatap Muka?

Seperti yang kita ketahui, pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masih berlangsung. Hingga memaksa seluruh aktivitas dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus tersebut.

Pada tahun 2020, Hardiknas diperingati dengan mengusung tema belajar dari Covid-19. Sebagaimana diketahui, Mei tahun lalu, insan pendidikan memang sudah mulai merasakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Setidaknya selama satu bulan.

Merasakan bagaimana sulitnya belajar dengan memanfaatkan keterbatasan. Mulai dari gawai, akses internet, hingga kemampuan mengoperasikan gawai.

Tahun ini, setidaknya sudah satu tahun melewati masa PJJ, pemerintah sudah mengambil peran untuk membantu insan pendidikan Indonesia mendapatkan hak pendidikannya. Peran tersebut, salah satunya adalah dengan memberikan bantuan kuota internet bagi siswa dan guru.

Meskipun begitu, masih saja ada kendala yang tidak dapat diabaikan. Yaitu akses internet. Sebagai contoh, di Sulbar saja, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 setidaknya masih terdapat 120 desa/kelurahan yang tak terdapat sinyal internet.

Belum lagi, desa/kelurahan yang mempunyai sinyal internet namun lemah, yaitu sebanyak 76 desa/kelurahan. Hal ini masih menghambat proses pembelajaran.

Lebih lanjut, data BPS tahun 2020 menunjukkan penduduk lima tahun ke atas yang mengakses internet sebesar 38,29 persen. Lebih rendah di perdesaan dibandingkan perkotaan. Dan kelompok penduduk dengan pengeluaran 40 persen terbawah tercatat paling rendah mengakses internet.

Rendahnya akses internet ini tentu menciptakan kesenjangan dalam proses PJJ, yang nantinya juga tentu dapat menciptakan kesenjangan kualitas pendidikan. Khususnya pada insan pendidikan dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Komentar

News Feed