oleh

Rasulullah SAW Terus Dihina, Sampai Kapan?

-Opini-1.119 views

BULAN Rabiul Awal merupakan bulan kelahiran Baginda Rasulullah SAW.
Sepanjang bulan yang mulia nan agung ini, berbagai rangkaian kegiatan dilakukan sebagian besar umat Islam, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada junjungannya.

Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

Sosok yang harus dan pantas dicintai, karena tidak ada kecintaan yang melebihi kecintaan beliau kepada umatnya.
Karena kecintaannya pada umatnya, hingga di akhir hayatnya pun beliau tetap memikirkan umatnya untuk terakhir kalinya. Terucap lirih dari bibir mulia beliau, “Ummatii, ummatii, ummatiii?” yang artinya “Umatku, umatku, umatku.”

Maka sangat layak jika umat Islam marah ketika Rasulullah SAW dihina. Terlebih, hal ini terjadi di tengah momen peringatan kelahiran Rasulullah SAW. Dimana umatnya berada dalam kesyahduan dan kerinduan pada beliau.

Akibat ulah Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan terbitnya gambar karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW di majalah Charlie Hebdo pada 2 September 2020, berhasil menuai berbagai protes dan kecaman dari umat Islam di seluruh negeri-negeri muslim. Baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Dengan Dalih Kebebasan

Bukan pertama kalinya majalah ini menghina nabi dan ajarannya. Pada tahun 2015, Samuel Paty, guru di Prancis dengan bangga menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW yang juga diterbitkan majalah satir Charlie Hebdo. Meskipun berbagai kecaman dari seluruh negeri-negeri muslim terus dilayangkan, tetap saja majalah ini mendapat dukungan dari pemerintah Prancis.

Dengan dalih kebebasan berekspresi yang sangat diagungkan dalam sistem kapitalis sekular, mereka bebas menghina Islam dan ajarannya. Dengan berbagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap simbol Islam dan ajarannya Islam yang terus saja terjadi. Dari tahun ke tahun.

Termasuk prinsip kebebasan berbicara yang diberikan sekularisme-liberalisme telah memberikan panggung kepada orang-orang yang mendengki dan terus menyerang Islam. Mereka dilindungi oleh berbagai peraturan dan orang-orang yang bersekongkol dengan mereka.

Ironisnya, umat Islam seolah tak berdaya, padahal jumlah mereka sangat banyak. Kerap menjadi bulan-bulanan penghinaan dan pelecehan. Jika pun melawan, hanya bisa mengecam tindakan tersebut ataupun melakukan aksi besar-besaran. Dan, paling banter melakukan boikot produk pada negara dan pendukungnya yang melakukan penghinaan dan pelecehan tersebut.

Namun, sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya, hal itu seolah tak berpengaruh apapun. Buktinya, penghinaan dan pelecehan terus saja terjadi. Bahkan sebaliknya, umat Islam dicitrakan buruk akibat aksi tersebut. Sengaja dibangun oleh mereka yang membenci Islam bahwa umat Islam itu pemarah, anti kebebasan, intoleran bahkan separatis.

Umat Butuh Pelindung

Sangat disayangkan, banyak para muslim dan tokoh-tokoh muslim yang memilih diam menyikapi penistaan ini. Mereka menganggap ini pilihan terbaik, bersikap sabar menghadapi penghinaan dan penistaan terhadap Nabi adalah sebuah kebaikan. Padahal, diamnya mereka membuat penistaan ini menjadi-jadi.

Bahkan, ulama besar Buya Hamka rahimahulLah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirah-nya ketika agamanya dihina. Beliau menyamakan orang-orang seperti itu seperti orang yang sudah mati. Sebagaimana perkataan beliau, “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Dengan demikian, sampai kapan pun jika sikap umat hanya diam manakala agama dan nabinya dihina dan selama sistem yang menganut kebebasan dalam segala hal ini terus menjadi landasan hidup, maka penghinaan dan pelecehan terhadap Islam dan ajarannya akan terus terjadi. Oleh karena itu, umat Islam butuh pelindung yang kuat.

Sebagaimana yang pernah terjadi di masa Kekhilafahan Ustamaniyah. Saat itu, Kerajaan Inggris bersikukuh mengizinkan pementasan drama karya Voltaire yang akan menista Rasulullah SAW, drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan”. Maka, seketika Sultan Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris.

Sultan berkata, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Kerajaan Inggris pun ketakutan dan pementasan itu dibatalkan.

Inilah kekuatan seorang khalifah dengan kewibawaannya, membuat siapa pun tak berani menghina Rasulullah SAW. Karena dalam Islam, seorang pemimpin tak hanya mengutuk tindakan keji tersebut. Namun, seorang pemimpin adalah pelindung atas umatnya dan agamanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang Imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah SWT dan berlaku adil. maka dia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya. Dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Sungguh, saat ini umat membutuhkan pelindung yang agung itu, yaitu Khilafah Islam. Pelindung inilah yang akan menghentikan segala bentuk penistaan dan pelecehan terhadap Islam dan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. (***)

Komentar

News Feed