oleh

QRIS: Formula Anti Ribet Solusi Transaksi di Masa Pandemi

SUDAH lebih setahun, pandemi Covid-19 memorakporandakan sendi kehidupan. Banyak hal yang berubah, yang dulu bekerja kini harus dirumahkan.

Oleh: Sultan Sulaiman

QRIS: Formula Anti Ribet Solusi Transaksi di Masa Pandemi

Perlambatan ekonomi terjadi di mana-mana. Pelaku usaha menjerit. Berjibun jumlahnya yang terempas, gulung tikar tidak berdaya. Termasuk di Sulawesi Barat, kondisi di tengah pandemi makin tidak menentu, dengan terpaan musibah gempa 6,2 magnitudo beberapa waktu lalu.

Pandemi membawa ironi. Segala hal menjadi terbatas dan dibatasi. Manusia dipaksa menerima sebuah kebiasaan baru. Pertemuan virtual, bekerja dari rumah mau tidak mau harus dijalani. Kehidupan manusia mulai bergerak dari konvensional ke digital.

Pandemi membuka peluang lebar transformasi dan percepatan digital. Dunia digital mengalami akselerasi luar biasa. Hampir semua lini, jika ingin eksis, harus mampu menyesuaikan dengan digital. Karena faktanya, industri digital termasuk sedikit yang bertahan di tengah babak-belur dan leburnya sektor ekonomi kita.

Bank Indonesia telah membangun semacam perangkat Ekosistem Ekonomi Digital. BI bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), pada 17 Agustus 2019 meluncurkan Quick Response Code Indosian Standart disingkat QRIS (baca KRIS). Sederhananya, QRIS adalah standar kode QR nasional yang digunakan sebagai fasilitas pembayaran digital di Indonesia. QRIS menyatukan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. QR Code menawarkan proses transaksi yang cepat, mudah, dan terjaga keamanannya.

Jika dicermati, peluncuran QRIS lebih cepat beberapa bulan sebelum serbuan pandemi Covid-19 di Indonesia. BI seakan bisa menerawang masa depan, punya firasat tentang satu kondisi yang menjadikan relasi konvensional mengalami titik nadir. Terbukti, sejak diluncurkan , QRIS telah digunakan lebih dari 6,6 juta merchant, dengan 94 persen dari kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal tersebut dibeberkan oleh Fitria Irmi Triswati, Diektur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI pada forum diskusi daring seperti dikutip antaranews.com. Fitria lebih lanjut mengungkap bahwa QRIS adalah satu alternatif pemulihan ekonomi “another game changer” di masa pandemi di tengah bergulirnya seruan vaksin secara masif.

Sebagai penyintas Covid-19, tentu ada banyak kisah pilu yang tergerai saat menjalani masa-masa karantina. Pemenuhan kebutuhan yang bergantung uang tunai tak melulu berjalan mulus. Ada masanya di mana isi dompet mulai memudar dan kita tak punya cara untuk mengakses uang tunai sebab isolasi mandiri.

QRIS adalah jawaban dari ragam keterbatasan yang menawarkan cemumuah. Dunia yang kini digerakkan di ujung jemari jelas menghendaki segalanya serba cepat, mudah, murah, aman, dan handal. Sebab cemumuah inilah memungkinkan QRIS dikenal luas dan diakses oleh angka usia produktif penduduk Indonesia, yang menurut data Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik berada di kisaran 70,72 persen dari komposisi jumlah penduduk 270,20 juta jiwa. Artinya, bonus demografi ini bisa menjadi lompatan besar tumbuhnya ekosistem ekonomi digital kita, termasuk di Sulawesi Barat.

Kepala Bappeda-Litbangren Kabupaten Polewali Mandar Darwin Badaruddin dalam sebuah kesempatan diskusi baru-baru ini mengungkap, pandemi menyebabkan inflasi di mana-mana. di Sulawesi Barat secara umum, angka inflasi bukan hanya terkontraksi, tetapi nyaris lebur dengan terpaan musibah gempa. Untungnya sektor ekonomi masih bisa sedikit tertolong dari pertanian dan transaksi digital, termasuk di Polewali Mandar.

Petani masih tetap panen raya meski pandemi menyerang. Para pelaku ekonomi digital lokal tetap bertahan di tengah terbatasnya pertemuan tatap muka antara produsen dan konsumen.

Google, Temasek, dan Bain & Company seperti dikutip laman bisnis.com merilis data e-Conomy SEA 2020. Data tersebut menyebut ekonomi digital di Indonesia pada 2020 tumbuh di angka 11 persen dibanding tahun 2019. Angka tersebut menyumbang US$ 44 miliar atau sekira Rp 619 triliun. Sebuah nilai pertumbuhan yang jelas progresif.

Kenyataan ini jelas menjadi peluang yang baik. BI tentu perlu memaksimalkan seluruh jejaringnya di tanah air. Dengan target 12 juta merchant QRIS tahun ini (seperti diungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dikutip dari merdeka.com), BI tentu membutuhkan model pendekatan yang holistik, menggaet para pelaku ekonomi lokal, mendorong transisi model pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dan mengondisikan perangkat digitalisasi daerah.

Sudah keniscayaan, BI perlu mendorong percepatan digitalisasi daerah dengan merangkul seluruh stakeholder yang ada. Ekosistem Ekonomi Digital perlu penopang yang memadai, agar tumbuhnya serentak dan merata, bukan hanya se-Sulawesi Barat, bahkan senusantara dalam rangka penguatan ekonomi kita menuju Indonesia yang ekonominya adidaya.

Digitalisasi daerah adalah keniscayaan agar gerak ekonomi bisa melesat menuju Polman Jago, Sulawesi Barat Marasa, dan Indonesia Maju. Daerah perlu direformasi, termasuk dimelekkan dengan teknologi digital. Kerap terjadi, pelaku ekonomi lokal sudah siap, hanya regulasi tingkatan daerah belum terlalu cakap dan terkesan masih berbelit-belit. Digitalisasi ini jalan dalam mewujudkan efektivitas dan efisiensi laju ekonomi kita.

FEKDI (Festival Ekonomi Keuangan Digital) merupakan langkah taktis BI dalam merangkul para penggerak ekonomi lokal. Mereka yang tetap eksis berjuang melawan terpaan pandemi dan memberikan sumbangsih positif bagi pertumbuhan ekonomi kita perlu diapresiasi dan diberi ruang untuk terus bertumbuh.

BI sudah sangat tepat menunjukkan keberpihakannya kepada UMKM dengan formulasi QRIS yang cumumuah. Formula anti ribet, menjadi solusi di masa pandemi, sebagai jalan pemulihan ekonomi di Sulawesi Barat. FEKDI telah menabuh harapan kebangkita ekonomi Sulbar. (*)

Komentar

News Feed