oleh

Pulau Malamber Tidak Dijual

MAMUJU – Isu penjualan Pulau Melamber di Kecamatan Kepulauan Balabalakang, kian menuai titik terang. Warga yang disebut-sebut sebagai yang terlibat dalam tansaksi jual-beli tersebut, Raja’ akhirnya angkat bicara.

Raja’ menjelaskan ia sama sekali tak menjual pulau. Yang benar adalah ia menjual sebidang tanah di pulau tersebut. Tanah itu merupakan warisan dari orang tuanya. Luasnya enam hektar. Dia jual kepada salah seorang bernama Salahu seharga Rp 2 miliar.

Transaksinya dilakukan pada Februari 2020, di salah satu tempat di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Tanda jadinya Rp 200 juta. Dalam transaksi tersebut ada kesepakatan. Jika sisa pembayaran belum dilunasi hingga April 2020, maka penjualan batal dan uang tanda jadi hangus,” kata Raja’ saat dikonfirmasi di rumahnya, di Desa Sumare, Kecamatan Simboro, Senin 22 Juni.

Namun, penjualan tanahnya itu batal. Salahu tidak melunasi sisa pembayaran hingga waktu yang sudah disepekati.

“Saya heran kenapa sampai ada bupati Penajam Paser Utara disebut-sebut. Saya tidak pernah menjual pulau, yang saya jual itu hanya sebidang tanah,” jelas Raja’.

Raja’ menyayangkan pernyataan Camat Balabalakang, Juara, yang menyebutkan Pulau Malamber sudah terjual. Padahal, ia hanya menjual sebidang tanah dan sudah sesuai prosedur.

Raja mengaku, memiliki surat kepemilikan tanah dan dua sporadik atas namanya. Ia juga membayar pajak setiap tahun sebesar Rp 300 ribu sejak tahun 2015.

Hingga saat ini dokumen kepemilikan tanah di Pulau Malamber, masih dikuasai Raja’ dan belum diserahkan kepada pihak pembeli. Kalau kuitansi pembayaran tanda jadi Rp 200 juta, dipegang Sahalu.

“Uang yang kami terima di awal Rp 200 juta, ini saya bagikan ke saudara dan keluarga agar sama-sama menikmati hasil penjualan tanah kebun warisan orang tua kami, di Pulau Malamber,” paparnya.

Dalam sporadik yang dimiliki Raja, per tanggal 7 Januari 2016 itu disebutkan tanah tersebut diperolehnya sebagai warisan dari orang tuanya, Baso Puangnga Imaju, tahun 1983 dengan luas 22.575 meter persegi.

Tanah ini terletak di Pulau Malamber Dusun Pulau Lamudaan, Desa Balabalakang Timur, Kecamatan Balabalakang. Dalam sporadik tersebut, tertulis status tanah yakni tanah negara dan dipergunakan sebagai kebun kelapa dengan batas-batas wilayah di kelilingi laut.

Camat Bersikukuh

Camat Balabalakang, Juara menyebut, meskipun uang tanda jadinya hangus tapi sudah ada niat menjual sebidang tanah di pulau tersebut.

“Sebidang tanah yang dijual itu hanya pembenaran. Kalau dianalisa, tidak mungkin ada tanah kalau tidak ada pulau,” kata Juara, saat ditemui di kantor bupati Mamuju, Senin 22 Juni.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Mamuju, AKP Syamsuriyansah menjelaskan, yang bertanda tangan di kuitansi adalah Salahu. Namun yang menyerahkan uang adalah Abdul Gafur Mas’ud.

Transaksi jual beli memang sah-sah saja. Namun, ada pengecualian soal tanah yang berada di pulau. Penggunaan dan pemanfaatan pulau itu harus seizin dengan pemerintah daerah.

“Pulau itu ada aturannya sendiri, pulau itu diatur oleh undang-undang tersendiri. UU masalah pengelolaan dan pemanfaatan pulau-pulau,” pungkas AKP Syamsuriyansah. (m2/jsm)

Komentar

News Feed