oleh

Potret Pembangunan Manusia Kabupaten Mamasa

PEMBANGUNAN yang baik seharusnya dipandang sebagai suatu proses multidimensional. Hal ini mengindikasikan,pertumbuhan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor dalam menentukan keberhasilan pembangunan di suatu daerah.

OLEH: EVI ARIANTI, SST (Statistisi BPS Kabupaten Mamasa)

Paling tidak, menurut United Nations Development Programme (UNDP), pembangunan manusia juga menjadi tujuan dalam pembangunan. Hal ini menjadi mudah kita pahami karena masih banyak negara maju yang mempunyai tingkat pendapatan tinggi ternyata tak berhasil mengurangi masalah-masalah sosial seperti: penyalahgunaan obat, AIDS, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Namun, pertanyaan kritis yang kerap muncul adalah sudah berhasilkah pembangunan manusia
saat ini? Adakah ukuran baku untuk dijadikan tolak ukur menentukan tingkat keberhasilan pembangunan
di suatu daerah?

Indeks Pembangunan Manusia

Pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging people choice). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).

IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM diperkenalkan UNDP pada tahun 1990 dan metode penghitungan direvisi pada tahun 2010. BPS mengadopsi perubahan metodologi penghitungan IPM yang baru pada tahun 2014 dan melakukan backcasting sejak tahun 2010.

IPM dibentukh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living).

Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) yaitu jumlah
tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup, dengan asumsi pola angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.

Pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) adalah rata-rata lamanya (tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya (tahun) sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan anak pada umur tertentu di masa mendatang.

Standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita disesuaikan, yang ditentukan dari ni-
lai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli.

Penghitungan IPM berdasarkan pada rata-rata geometrik indeks kesehatan, pengetahuan, dan penge-
luaran.Indikator AHH bersumber dari hasil Sensus Penduduk 2010 dan proyeksi penduduk. Sedangkan indikator lainnya seperti RLS, HLS, dan pengeluaran per kapita bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Lantas, bagaimanakah kondisi pembangunan manusia di Kabupaten Mamasa?

Kondisi Kabupaten Mamasa

Hasil rilis Berita Resmi Statistik (BRS) oleh BPS Sulbar, 15 Desember 2020 mencatat IPM Mamasa pada
tahun 2020 mencapai 66,02. Angka tersebut meningkat sekitar 1 persen dibandingkan dengan tahun 2019. Hal ini menjadikan Mamasa sebagai kabupaten dengan kemajuan pembangunan manusia di Sulbar tercepat dibandingkan kabupaten lainnya.

Meskipun capaian IPM tersebut masih mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, namun tidak dapat dipungkiri capaian tersebut masih mengindikasikan tingkat pembangunan manusia yang “sedang”.

Apabila diselisik lebih dalam berdasarkan indikator penyusunnya, terlihat peningkatan IPM memang dipengaruhi peningkatan setiap komponennya. Indikator UHH yang mencerminkan kualitas kesehatan mencapai 70,87 tahun, meningkat sekitar 0,12 poin dibandingkan tahun 2019.

Masih rendahnya UHH dapat disebabkan berbagai hal seperti tingginya angka kematian bayi atau angka kematian anak. Indikator HLS dan RLS mencapai 12,05 tahun dan 7,65 tahun, atau mengalami pening-
katan sebesar 0,31 poin dan 0,28 poin pada tahun 2019.

Selain itu, pengeluaran per kapita di tahun yang sama mencapai 7,75 juta rupiah per tahun, atau mengala-
mi sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Upaya yang Bisa Dilakukan

Percepatan pembangunan manusia yang berkualitas sudah seyogyanya menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah setempat. Perlunya langkah strategis yang intensif dan menyeluruh pada semua bi-
dang, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan.

Dari sisi ekonomi misalnya, menjaga stabilitas harga sudah menjadi keharusan bagi pemerintah daerah
setempat. Kenaikan harga barang yang tidak terkendali tentunya akan menurunkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya berdampak kepada penurunan standar hidup yang layak bagi masyarakat.

Selain itu juga, program-program pemerintah yang bersifat bantuan juga harus dipastikan ketepatan wak-
tu maupun sasarannya. Perluasan Program Keluarga Harapan (PKH), pemutakhiran Penerima Bantuan Iuran (PBI) asuransi kesehatan, Program Indonesia Pintar (PIP), serta program bantuan lainnya harus berlangsung secara berkesinambungan sehingga dapat mengakselerasi pembangunan manusia di Mamasa.

Mungkin itu semua akan sulit tercapai apabila kita hanya menunggu program kebijakan dari pemerintah.

Namun, apabila semua elemen terlibat dan saling bahu-membahu, kita akan bisa menciptakan kabupaten Mamasa yang maju tidak hanya dari sisi ekonominya, tetapi juga kualitas manusianya. Aamiin (***)

Komentar

News Feed