oleh

Porang dan Kesejahteraan Petani

SALAH satu solusi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di saat pendemi, adalah melalui usahatani atau budidaya porang.

Oleh: Dr. Syamsul Rahman, S.TP., M.Si (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM))

Porang dan Kesejahteraan Petani

Tanaman porang yang hidup subur di kawasan hutan tropis, ternyata memiliki nilai ekonomis cukup menjanjikan. Selain bisa ditanam di dataran rendah, juga dengan mudah hidup di antara tegakan pohon atau di sela-sela tanaman perkebunan lainnya.

Jepang merupakan salah satu negara utama pengimpor umbi porang dan olahannya dari Indonesia. Oleh karena itu, potensi dan peluang pengembangan budidaya porang ini perlu mendapat respon. Terutama dari para petani dan stakeholder terkait dalam rangka peningkatan pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan petani.

Selain itu, umbi porang dan tepung porang memiliki prospek sehingga diharapkan menjadi alternatif bagi petani mengembangkannya.

Prospek Pengembangan

Tanaman porang (Amophophallus Muelleri Blume) merupakan jenis tumbuhan umbi-umbian. Tumbuhan ini berupa semak (herba) yang dapat dijumpai tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.

Namun demikian, sampai saat ini usahatani (budidaya) porang belum banyak dilakukan masyarakat. Khususnya petani di Sulbar. Hanya ditemukan tumbuh liar di dalam hutan, di bawah rumpun bambu, di tepi sungai dan di lereng gunung terutama pada tempat yang lembab.

Porang juga dapat tumbuh di bawah naungan, sehingga cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis tanaman kayu dan pepohonan.

Berdasarkan analisis usahatani porang, dalam satu hektar bisa ditanam 6000 bibit. Bila dibudidaya lebih intensif dapat menghasilkan rata-rata delapan ton per hektar. Sehingga dengan asumsi harga umbi porang rata-rata Rp 8.000 per kilogram (kg), pendapatan bruto yang dihasilkan bisa mencapai Rp 64 juta.

Budidaya porang merupakan salah satu alternatif dan upaya diversifikasi usahatani, serta penyediaan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai komoditi ekspor di Indonesia.

Menurut Rofik dkk (2017) keunggulan umbi porang dari sisi budidaya antara lain tak memerlukan teknologi dan modal besar. Dengan sekali menanam, tak perlu menanam lagi. Dapat hidup di bawah tegakan atau lahan naungan, pemeliharaan kurang intensif dan prospek pasar yang cukup cerah.

Sedangkan Hidayat (2013) menambahkan, manfaat tanaman porang dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, manfaat di tingkat on-farm (di lahan budidaya) yaitu budidaya tanaman porang yang hanya dapat dilakukan di bawah naungan tegakan pepohonan dimana tanaman porang sebagai tanaman sela memberi nilai tambah dari segi efisiensi lahan dengan penghasilan di luar tanaman perkebunan lainnya.

Kedua, dari segi off-farm yaitu penanganan setelah panen umbi porang tak dapat langsung dikonsumsi. Agar dapat dikonsumsi, perlu proses terlebih dahulu. Diantaranya pengeringan dan pemisahan tepung yang beracun dengan tepung yang tidak beracun sebagai “mannan”.

Selanjutnya tepung yang kandungan glukoman-nya tinggi tersebut baru dapat digunakan dalam berbagai macam industri. Baik industri pangan, kesehatan dan lain sebagainya.

Manfaat dan Kegunaan

Pemasaran umbi porang selain untuk kebutuhan dalam negeri, juga untuk diekspor ke Jepang, Tiongkok, Thailand dan sejumlah negara Eropa serta Kanada. Negara-negara tersebut membutuhkan umbi porang dalam jumlah besar karena pemanfatannya dibutuhkan berbagai bidang industri mereka.

Menurut Rofik dkk (2017) beberapa manfaat tepung porang antara lain; Pertama, tepung porang mempunyai daya rekat yang kuat sehingga digunakan di bidang industri kertas dan lem, di bidang mikrobiologi dapat menggantikan fungsi agar-agar atau gelatin, di bidang farmasi sebagai pengisi tablet (penghancur tablet dan pengikat), di bidang industri bermanfaat untuk membuat jas hujan, industri cat dan tekstil.
Kedua, tepung porang di bidang industri pangan sebagai sumber “dietery fibre” banyak dimanfaatkan untuk bahan baku pangan sehat seperti; jelly, mie, tahu, dan lain-lain.

Bahkan masyarakat Jepang secara khusus telah menggunakan tepung porang sebagai bahan makanan untuk penderita diabetes, yaitu konyaku (bahan makanan dalam bentuk tahu) dan shirataki (makanan berbentuk mie), bahkan makanan coctail dan cendol, serta baik untuk makanan bayi.

Ketiga, mempunyai kegunaan berupa tingkat kekedapan tinggi manakala tepung porang dalam bentuk pasta kering, karena mempunyai sifat resistensi tinggi terhadap air bila mana tepung porang dalam bentuk adonan dikeringkan maka akan membentuk suatu lapisan impermeable.

Keempat, berdasarkan struktur kimia, tepung porang dengan kandungan glukomannan tinggi dan sangat mirip selulosa, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pembuatan seluloid, bahan peledak, isolasi listrik, film, edible film, bahkan toilet dan kosmetika.

Kelima, keunggulan lain dari umbi porang dilihat dari nilai gizi dan kesehatan yaitu membuat kadar kolesterol normal, mencegah diabetes, mencegah tekanan darah tinggi, membantu orang yang kelebihan berat badan, kadar lemak rendah, dan kaya mineral.

Berdasarkan kajian tersebut, tidak salah bila potensi dan peluang pengembangan produksi tanaman porang ini dapat dicanangkan secara massif. Sehingga diharapkan mampu memberi manfaat dan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat khususnya bagi para petani di perdesaaan. (***)

Komentar

News Feed