oleh

Polewali Mandar Tertinggi COVID-19 di Sulbar

MAMUJU–Data kasus COVID-19 di Sulawesi Barat hingga pekan pertama di bulan November ini belum memperlihatkan akan ada tanda-tanda melandai. Data terakhir 1 November hingga pukul 15.29 Wita, sudah berada di angka seribuan lebih.

Tepatnya, 1036 orang dinyatakan positif COVID-19. 50 orang dalam perawatan. 132 orang melakukan isolasi mandiri. Sedang, yang sembuh sebanyak 840 orang, dan dinyatakan meninggal 14 orang.

Dari data pantauan COVID-19 Sulbar, kasus COVID-19 tertinggi pertama berada di Kabupaten Polewali Mandar. Sebanyak 449 kasus. Enam diantaranya dalam merawatan di rumah sakit. 62 melakukan isolasi mandiri. Sementara yang sembuh, sebanyak 372 orang. Meninggal sembilang orang.

Kabupaten kedua tertinggi yang terpapar COVID-19 dipegang Kabupaten Mamuju. Yaitu, sebanyak 323 kasus. 12 diantaranya masih dalam perawatan. Sedang 45 orang melakukan isolasi mandiri, yang sembuh 264 orang, dan dua orang meninggal.

Walau pun Kabupaten Majene, merupakan kabupaten tertinggi ketiga kasus COVID-19 di Sulbar, tetapi hingga kini tak ada catatan meninggal dunia. Pada hal awal-awal merebaknya, COVID-19, Majene sempat heboh dengan kasus COVID-19.

Jumlah kasus COVID-19 di Kabupaten Majene memang dibawah 100 kasus, yaitu 85 kasus. Sementara ini, 12 orang dalam perawatan, tiga orang yang melakukan isolasi mandiri serta yang dinyatakan sembuh 70 orang.

Sedang kabupaten lainnya, yaitu Mamuju Tengah, Mamasa, dan Pasangkayu, kasus COVID-19 dibawah angkah 80 kasus. Seperti Mamuju Tengah hanya 75 kasus, Mamasa 51 kasusu, dan Pasangkayu 53 kasus.

Juru bicara penanganan COVID-19 di Kabupaten Polewali Mandar, Haidar sangat menyayangkan masyarakat tidak mau menerima kenyataan. Jika, keluarganya dinyatakan  korban terpapar COVID-19.

Salah satu contohnya, kasus meninggalnya seorang perawat berisial Y, yang bekerja di sebuah klinik. Sebelum Y meninggal dunia, memang sempat ada kecurigaan terpapar COVID-19. Petugas kesehatan pun melakukan swab terhadap Y. Namun, Y keburu meninggal dunia sebelum hasil swabnya keluar.

”Kasus seperti ini bukan pertamakalinya masyarakat menolak kenyataan. Namun, pihak kami tetap meminta agar keluarga Y mau melakukan isolasi mandiri, dan kita akan tetap  berupaya melakukan tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan korban,” jelas Haidar.

Begitu pula dengan klaster pesantren, kata Haidar, Tim Satgas COVID-19 tidak dapat berbuat banyak. Santri dan keluarganya menolak melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan. ”Padahal kami hanya ingin memastikan jika santri yang sebelumnya positif COVID-19, benar-benar sudah sembuh atau belum,” kata Haidar. (***)

Komentar

News Feed