oleh

PMTB Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Sulbar

KEPALA Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar, Agus Gede Hendrayana Hermawan, telah merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun 2021, Kamis 5 Agustus 2021.

Oleh: Dwi Ardian, S,Tr.Stat., S.E.
- Statistisi di BPS Sulbar

Pertumbuhan ekonomi Sulbar mulai tumbuh positif sebesar 5,44 persen setelah 4 kuartal sebelumnya mengalami kontraksi.

BPS Sulbar menghitung pertumbuhan ekonomi dari dua pendekatan. Yakni dari sisi lapangan usaha dan berdasarkan pengeluaran. Dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan terbesar ditopang oleh administrasi pemerintahan (15,04 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (12,74 persen), serta jasa keuangan dan asuransi (12,02 persen).

Lapangan usaha pertanian sebagai sektor dengan kontribusi terbanyak dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yakni 42,95 persen, juga tumbuh sebesar 3,63 persen. Pertanian belum terlalu memberi efek besar terhadap pertumbuhan ekonomi karena subsektor pertanian pangan mengalami sedikit penurunan produksi di kuartal II 2021 ini.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Pertumbuhannya mencapai dua digit (10,88 persen) serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,82 persen atau hampir 52 persen dari total pertumbuhan ekonomi Sulbar pada kuartal ini.

Mengenal PMTB

Secara umum PMTB adalah proses penambahan dan pengeluaran untuk aset tetap yang biasanya umur pemakaiannya di atas satu tahun. PMTB tidak selalu harus berbentuk bangunan dan atau mesin yang biasanya diidentikkan dengan barang modal. Kenyataannya, PMTB yang dicakup untuk menghitung pertumbuhan ekonomi sangat luas.

Aset tetap mencakup pembelian, produksi, barter, transfer, sewa beli, perbaikan besar, pertumbuhan aset yang dibudi daya, serta biaya alih kepemilikan aset nonfinansial yang tidak diproduksi (BPS, 2021).

Melihat pengertian tersebut, mengindikasikan PMTB begitu luas yang secara umum terdiri atas 8 rincian. Meliputi bangunan, mesin dan perlengkapan, kendaraan, peralatan lainnya, hewan menghasilkan produk berulang, tanaman menghasilkan produk berulang, produk kekayaan intelektual, serta biaya pemindahan kepemilikan aset tak diproduksi.

Karena begitu luasnya cakupan datanya maka dilakukan pencacahan sampel untuk berbagai responden yang dianggap mewakili Sulbar. Selain itu, juga dilakukan pengumpulan data yang tersedia dari instansi.

Meski dalam lima tahun terakhir, PMTB selalu menempati posisi kedua setelah konsumsi rumah tangga dalam struktur PDRB, tetapi ada tren penurunan kontribusi dari 30,12 persen pada 2016 menjadi 27,66 persen pada 2020 lalu. Hal ini tentu tidak selalu bernilai negatif karena nilainya cenderung tetap meningkat dan diiringi kinerja ekspor ke luar negeri yang lebih meningkat.

Berdasarkan proses penghitungan PMTB diperoleh beberapa alasan yang membuatnya bisa tumbuh dua digit setelah 4 kuartal mengalami kontraksi yang cukup dalam (-7,35 persen hingga -13,60 persen).

Hal yang utama adalah secara umum pemerintah dan masyarakat menahan belanja berupa modal karena pandemi Covid-19 yang belum mereda. Setelah pada kuartal II 2021 agak mereda maka dilakukan berbagai belanja modal gedung, bangunan, jalan, jaringan irigasi dari APBD dan APBN. Tumbuh sekitar 16 persen.

Hal lain yang terpotret adalah realisasi penjualan semen tumbuh sebesar 39,83 persen dan diikuti dengan mulai banyaknya dibangun kembali bangunan gedung dan rumah akibat gempa pada Januari 2021 lalu.

Pertumbuhan yang besar pada kuartal ini perlu menjadi perhatian dan terus dijaga karena kumulatif semester I 2021 dibanding semester I 2020 masih kecil sekali pertumbuhannya yakni sekitar 1,18 persen. Kita harus optimis bahwa bantuan untuk pembangunan bangunan yang rusak akibat gempa bisa terus berlanjut direalisasikan dengan baik.

Selain itu di luar aset bangunan, seperti tanaman dan hewan yang menghasilkan berulang harus terus diperhatikan. Tanaman perkebunan sebagai potensi utama Sulawesi Barat seperti kelapa sawit dan kakao harus mendapat perhatan utama. Jeritan peternak ayam ras petelur yang diresahkan oleh harga pakan yang terus naik harus segera dicarikan solusi oleh penentu kebijakan. Permasalahan harga pakan yang cenderung naik membuat pengurangan input produksi ternak.

Kinerja PMTB yang cukup baik pada kuartal ini harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan secara terus-menerus. Tentu dengan tidak mengabaikan sumber-sumber pertumbuhan lain. Di sana ada konsumsi rumah tangga yang harus terus dijaga, ekspor, konsumsi pemerintah, serta konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT). (***)

Komentar

News Feed