oleh

Pintu Terbuka, Serangan Kedua Tak Terkira

Senin 23 Desember lalu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulbar Safaruddin Sanusi DM memberikan warning, waspada potensi gelombang kedua Covid-19.

Laporan: SUDIRMAN SAMUAL

Pintu Terbuka, Serangan Kedua Tak Terkira

Warning itu bukan tanpa alasan. Data telah menunjukkan bahwa hingga pekan kemarin, total positif Covid-19 di provinsi Malaqbiq ini mencapai 1.689 kasus.

Dari jumlah itu, sebanyak 44 orang dirawat, 190 menjalani isolasi mandiri, dan 1.429 penderita telah sembuh. Sedangkan penderita yang meninggal dunia karena serangan virus ini mencapai 26 orang.

Jumlah orang yang telah terkonfirmasi positif Covid-19 itu, tersebar di enam kabupaten di Sulbar. Tercatat, di Polewali Mandar mencapai 692 kasus, di Majene sebanyak 142 kasus, lalu di Mamasa ada 62 kasus, dan Pasangkayu terjadi 136 kasus serta Mamuju Tengah berjumlah 140 kasus. Sementara di ibukota provinsi, yakni Kabupaten Mamuju terjadi 514 kasus.

Safaruddin yang juga merupakan Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Sulbar, mengatakan selama ini jumlah kasus corona di Sulbar relatif landai.

Namun beberapa pekan terakhir, khususnya di penghujung tahun ini, kembali mengalami peningkatan. Ia mengingatkan, itu akan menjadi potensi datangnya serangan gelombang kedua Covid-19.

Perlu sikap mawas diri. Sebab di provinsi tetangga, Sulsel, masyarakat tengah menghadapi serangan gelombang kedua pandemi corona. Di Sulsel, sejumlah daerah yang jadi titik episentrum kembali terancam masul zona merah.

“Kita sebagai provinsi tetangga patut waspada. Apalagi beberapa pekan terakhir ada peningkatan kasus positif corona. Saya minta kita semua waspada. Patuhi protokol kesehatan. Hindari juga kerumunan. Kita tidak tahu, virus ini kapan datang dan menular lewat siapa. Dan potensinya, kita semua bisa terpapar jika tak hati-hati,” ucap Safaruddin.

Sepekan, Meningkat Jadi 1.877 Kasus

Peringatan pria yang cukup humble itu terbukti. Hanya dalam sepekan, positif corona di Sulbar melejit hingga 1.877 kasus. Artinya, terjadi 188 kasus hanya dalam tujuh hari.

Angka itu tak dapat terbilang kecil di provinsi ini. Sebab, sangat jarang terjadi peningkatan signifikan seperti itu selama beberapa bulan terakhir terakhir ini. Hanya pada kluster dua pondok pesantren yang kasusnya menjadikan angka signifikan.

Safaruddin Sanusi, Senin 28 September, menyampaikan berdasarkan data New All Record (NAR) Satgas Covid-19 Sulbar, ada satu kasus kematian karena korona di Kabupaten Pasangkayu. Sehingga total angka kematian akibat serangan virus tersebut menjadi 33 kasus.

Selain itu, sembilan kasus positif corona terjadi hari ini. Masing-masing tiga kasus di Mamuju dan enam kasus di Polewali Mandar. Sementara yang dinyatakan sembuh ada satu pasien di Mamuju. Sehingga secara keseluruhan, hingga hari ini positif corona di Sulbar mencapai 1.877 kasus dan yang sudah sembuh 1.525 pasien.

Klaster Baru

Potensi serangan gelombang kedua covid ini memang ada. Terbukti, ada beberpa muncul klaster baru. Contohnya, tak sedikit pegawai di instansi pemerintahan yang terpapar.

“Saya melihat akhir tahun ini memng berbahaya situasinya. Oleh karena itu, tim gugus tugas kita harapkan meningkat kinerja. Tempat-tempat umum juga sebaiknya semakin memperketat protokol kesehatan,” ucap Safaruddin.

Guna menyikapi hal tersebut, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar akan memanggil sejumlah pihak guna membicarakan langkah apa yang akan diambil.

Hal lain, terkait pencegahan timbulnya klaster baru di akhir tahun, Safaruddin berharap Polda Sulbar dan jajarannya tak menerbitkan izin keraiaman, khususnya jelang perayaan tahun baru. “Bagi yang ingin merayakan tahun baru, cukup di rumah saja bersama keluarga. Masyarakat juga harus membantu pemerintah mencegah virus korona ini, caranya ya patuhi protokol kesehatan,” pesan Safaruddin.

Ekonomi Tetap Jadi Perhatian

Agar masyarakat tak terlalu terbebani secara ekonomi akibat pandemi ini, Pemprov Sulbar terus mengucurkan ‘bantuan segar’. Diantaranya berupa pelaksanaan Pasar Murah menjelang hari Natal dan Tahun Baru 2021.

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan, Djunda Maulana mengatakan, selain menjaga inflasi juga membantu akses masyarakat mendapatkan kebutuhan.

“Di masa pamdemi ini, bahan-bahan pokok kebutuhan masyarakat agak terbatas, karena itu kita membantu melalui pasar murah untuk menjangkau kebutuhan masyarakat,” tutur Junda, Selasa 15 Desember.

Melalui Pasar Murah ini, lanjut Junda, sejumlah harga bahan pokok di jual itu di bawah harga biasanya. Selain itu menampung produk dari berbagai kalangan diantaranya kelompok UMKM dan Kelompok Produk hasil Pertanian. “Ini untuk menjaga kelangkaan sehingga tidak terjadi inflasi yang signifikan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar merilis Indeks Harga Konsumen (IHK). Kepala BPS Sulbar, Agus Gede Hendrayana Hermawan memaparkan IHK Mamuju mengalami deflasi 0,34 persen.

“Secara umum pergerakan harga di Mamuju mengalami penurunan, atau mines 0,34 persen berdasarkan tingkat perubahan indeks tahunan, pada September 2020,” ungkapnya.

Kelompok penyumbang deflasi yaitu kelompok pakaian dan alas kaki 0,54 persen, perumahan air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,04 persen, dan perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,11 persen,” jelasnya.

“Diharapkan dari data itu menjadi dasar pemangku kebijakan dan seluruh stakeholder dalam mengendalikam inflasi di Mamuju,” tuturnya. (***)

Komentar

News Feed