oleh

Perundingan Damai, Akankah Krisis Israel-Palestina Selesai?

DUNIA menghujat perilaku biadab Israel dalam serangannya kepada rakyat Palestina, saat Muslim sedunia dalam kekhusyuan beribadah di bulan Ramadan.

Oleh: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T.
- Dosen dan Pemerhati Sosial

Bombardir rudal-rudal Israel yang menghancurkan fasilitas umum dan permukiman penduduk, membuat kesengsaraan rakyat Palestina makin bertambah.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, tentara Israel melancarkan serangan di Gaza sejak 10 Mei 2021. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 212 warga Palestina, termasuk 61 anak-anak dan 35 wanita, dan melukai 1.400 lainnya.

Data jumlah korban warga Palestina yang meninggal, di beberapa media, sangat variatif. Ada yang menyebutkan 230 orang tewas, termasuk 65 anak-anak. Namun, pada intinya korban tewas warga Palestina sungguh tak bisa dianggap enteng, terlebih banyak anak-anak dan wanita. Selain itu, sekitar 450 bangunan hancur atau rusak parah, termasuk sejumlah rumah sakit dan klinik kesehatan.

Memahami Akar Masalah

Krisis Israel-Palestina sudah berlangsung lama. Kerugian akibat krisis berkepanjangan ini, membuat negeri para Nabi itu disebut-sebut sebagai “penjara terbesar di dunia”.

Kondisi warga Palestina, terkhusus warga Gaza, sungguh sangat tak layak. Krisis air bersih, pangan dan fasilitas umum yang hancur lebur akibat agresi yang tak berkesudahan, membuat kehidupan di Gaza makin tak menentu.

Gelombang kemarahan mengutuk aksi Israel, tak menghentikan negara itu terus memborbardir Gaza. Serangan yang dilakukan banyak menewaskan rakyat sipil, terutama anak-anak dan wanita. Tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung, sesungguhnya perlu diketahui akar historis penyebabnya.

14 Mei 1948 para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel, melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah. Jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain.

Komentar

News Feed