oleh

Perayaan Cap Go Meh Sebagai Bentuk Syukur

MAMUJU – Etnis Tionghoa di Mamuju merayakan Cap Go Meh, hari ke 15 atau hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek 2571 tahun 2019.

Pada momen itu, semua warga keturunan Tionghoa berkumpul dan bersukacita, bahkan perayaannya melibatkan multi etnis. Perayaan Cap Go Meh bagi warga Tionghoa memiliki makna cukup dalam. Kegiatan tersebut telah menjadi budaya dan tradisi dari warisan nenek moyang. Secara umum, makna perayaan Cap Go Meh tak lain untuk memanjatkan doa kepada pencipta sebagai bentuk ucapan syukur atas keberkahan yang diberikan sepanjang tahun.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulbar Iming Wijaya mengatakan, Cap Go Meh sudah menjadi kelender tahunan keluarga besar Ance’ Lajo atau Almarhum Oei Tik Piao. Perayaan Cap Go Meh juga sekaligus mengenang Ance Lajo.

“Kami sekeluarga tidak memungkirinya, bahwa orang tua kami selaku pengusaha Tionghoa pertama di Mamuju. Dialah yang pertama merintis usaha ini di sini (Mamuju, red),” kata Iming Wijaya, di Ballroom Grand Maleo Hotel and Convention Mamuju, Sabtu 8 Februari.

Iming berharap, perayaan ini bisa mempererat tali silaturahim antara warga Tionghoa dan warga Mamuju, sebagaimana wujud kearifan lokal yang harus dijunjung tinggi.

Tahun ini merupakan tahun Tikus Emas. Dalam penanggalan Tiongkok tahun tersebut merupakan tahun yang dipenuhi kebijaksanaan dan kecerdasan. Untuk itu, Iming berpesan, kepada warga Tionghoa untuk lebih mawas diri dan semangat dalam menghadapi hidup.

Terkait sedang mewabahnnya virus corona di China, Iming menyakini, hal itu dimaknai oleh masyarakat Tionghoa sebagai bentuk ujian hidup. Dirinya pun berharap cobaan tersebut mampu dijawab oleh pemerintah dan masyarakat China.

“Kami yang ada di Indonesia selalu mendoakan permasalahan ini cepat selesai. Kami yakin dengan kekuatan doa penyakit itu dapat ditangani,” ujarnya.

Komisaris Utama PT Karya Mandala Putra (KMP) Pieters David Wijaya mengatakan, perayaan Cap Gomeh bertujuan sebagai ajang silaturahmi, pemersatu dan saling membantu antar warga.

“Kami rayakan Cap Gomeh sebagai wujud kebersamaan. Beberapa tahun terakhir kami memang sering mengadakan acara silaturahmi ini,” jelas Pieter.

Tokoh Masyarakat Mamuju Almalik Pababari mengaku, perkembangan pembangunan di Mamuju sangat luar biasa. Namun, hal tersebut tak lepas dari partisipasi keluarga besar Ance Lajo.

“Salah satu paling menonjol adalah keberadaan hotel bintang lima di Mamuju. Pemerintah tidak lagi merasa malu dan canggung ketika kedatangan tamu, karena tempat menginap sudah ada,” sebut Almalik, yang juga sebagai anggota DPD RI itu.

Selain itu, lanjut Almalik, pembangunan yang dilakukan keluarga besar Ance Lajo mampu menyerap tenaga kerja, khusunya warga Mamuju.

Wakil Bupati Mamuju Irwan SP Pababari mengatakan, budaya Mamuju senang menerima perbedaan. “Falsafah orang Mamuju, jika sudah minum air Mamuju, mereka sudah jadi orang Mamuju. Kalau ada warga Mamuju mencela orang China, dia tidak tahu budaya Mamuju,” jelas Irwan.

Irwan menyebut, tahun baru imlek ini dapat menjadi resolusi untuk memperbaiki diri dari segala hal. Baik, itu keberuntungan, rejeki, karir dan perihal asmara.

Irwan berharap, warga mamuju terus menjaga kebhinekaan dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Tidak ada perbedaan. Kita di sini semua bersaudara,” tegas Almalik.

Perayaan Cap Go Meh tersebut, diselenggarakan keluarga besar Almarhum Oei Tik Piao, PT KMP, Grand Maleo Hotel and Convention Mamuju dan Maleo Town Square (Matos) bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulbar.

Perayaan Cap Go Meh juga mengundang beberapa panti asuhan di Mamuju. Angpao juga diberikan bagi anak yatim piatu di Mamuju. (m2/ham)

Komentar

News Feed