oleh

Pentingnya Literasi Keuangan Bagi UMKM

-Kolom-4.055 views

NAMANYA Fandi, seorang mahasiswa UT yang berprofesi sebagai wirausaha di bidang perikanan. Tepatnya bisnis ikan tuna.

Semester lalu ia sudah yudisium. Saat mengambil ijazah di Kantor UPBJJ-UT Majene beberapa waktu lalu, saya mengajaknya ngobrol. Bertanya-tanya tentang usaha ikannya. Dari dia, saya banyak belajar tentang suka duka berbisnis ikan.

Ia ingin mengembangkan usahanya. Tapi terkendala masalah modal. Keluhan ini memang terkesan klise dan sudah sering saya dengar dari teman-teman UMKM, saat masih bertugas di Ternate, Maluku Utara. Boleh dibilang klise tapi nyata.

Saat memimpin ujian tesis salah satu mahasiswa magister Administrasi Publik UT Majene, saya juga memperoleh data bahwa memang masih banyak UMKM belum mampu mengakses permodalan. Dari 7000 UMKM di Kabupaten Majene, baru 454 UMKM yang mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI.

Dari data tersebut, maka saya yakin apa yang dikatakan Fandi di atas adalah benar adanya. Sebagai pelaku UMKM, ia masih sulit mengakses modal usaha.

Karena penasaran, saya mencoba mencari besaran serapan KUR se-Sulbar di internet. Pada laman http://kur.ekon.go.id saya peroleh data realisasi penyaluran KUR tahun 2021 untuk Sulbar yakni 452,6 milyar lebih. Jumlah ini tentunya masih sangat kecil jika dibandingkan daerah lain. Di provinsi tetangga, seperti Sulawesi Selatan, realisasinya sudah mencapai 4,3 triliun lebih. Sedangkan Sulawesi Tenggarah dan Sulawesi Tengah sudah mencapai satu triliun lebih.

Maka muncul pertanyaan, apakah KUR memang kurang menarik bagi UMKM di Sulbar? Saat saya membaca tulisan Yusran Darmawan (2013), memang ada fenomena UMKM yang masih minim literasi keuangan, terkhusus literasi permodalan.

Yusran melakukan penelitian terhadap nelayan di Kabupaten Wakatobi, menunjukkan kecenderungan enggan ke bank untuk mendapatkan KUR. Karena masih menganggap bank hanyalah tempat untuk kalangan orang kaya bertransaksi, bukan untuk mereka yang kurang berpendidikan dan miskin.

Apakah fenomena di atas juga dialami UMKM di Sulbar? Sebab jika mendengar tutur Fandi, ia juga ingin mendapatkan modal agar bisa mengembangkan usahanya. Namun ia masih kurang mendapatkan informasi. Artinya ia masih minim literasi keuangan yang menyebabkannya lamban dalam mengambil keputusan permodalan.

Apa yang dialami Fandi di atas, sejalan dengan hasil penelitian Beck, dkk (2006), bahwa masalah utama UMKM sehingga sulit berkembang menjadi usaha menengah atas adalah karena kendala pendanaan. Banyak UMKM yang masih minim literasi keuangan menyebabkan mereka enggan mencari pembiayaan di luar modal mereka.

Padahal dari hasil penelitiaan Susilawati dan Puryandani (2020), menunjukkan dengan adanya literasi keuangan yang tinggi, inklusi keuangan semakin terbuka. Keduanya memiliki pengaruh positif dan signifikan secara teoritis dan statistik. Adanya literasi keuangan yang baik dan semakin terbuka akses inklusi keuangan UMKM akan mendapatkan pendanaan eksternal dengan mudah. Adanya literasi keuangan yang baik, tentu akan meningkatkan peluang UMKM mengakses layanan dan jasa keuangan, sehingga mampu tumbuh berkembang.

Dengan demikian, jika memang kendala utama yang dialami UMKM di Majene adalah minimnya literasi keuangan (terutama permodalan), kini sudah saatnya mereka mendapatkan edukasi oleh Pemda, agar mereka mampu mengembangkan usahanya. Semoga. (***)

Komentar

News Feed