oleh

Pengukuhan dan Pelantikan Maradika Mamuju, Jaga Kerukunan Antar Etnis

Pengukuhan dan Pelantikan Maradika Mamuju, Jaga Kerukunan Antar EtnisRAUT bahagia terpancar dari wajah Paduka Yang Mulia (PYM) Maradika Mamuju, Bau Akram Maksum DAI, sesaat setelah dilantik dan dikukuhkan sebagai Maradika Mamuju, di Rumah Adat Mamuju, Rabu (15/9/2021), kemarin.

Laporan: Adhe Junaedi Sholat, Mamuju

Duduk di atas kepala kerbau dan disaksikan lembaga adat kerajaan Mamuju, seperti Tomakaka Botteng, Tokayyang di Padang, Punggawa Sumare, Punggawa Malolo dan seluruh keluarga besar Kerajaan Mamuju, serta Raja Gowa ke XXXVIII, PYM Andi Kumala Idjo, PYM Bau Akram dilantik dan dikukuhkan.

Menggantikan posisi ayahnya yang telah mangkat 8 September 2020 lalu, PYM Bau Akram, dibebankan tugas menjaga kerukunan antar etnis di Mamuju sebagai daerah heterogen yang sangat majemuk. Harapan besar diucapkan melalui rapal-rapal doa yang dipanjatkan para lembaga dan dewan adat. Semua berharap Maradika Mamuju yang baru saja dilantik ini, tak lantas tinggi hati.

Sebaliknya, tahta tertinggi kerajaan yang saat ini dipegang PYM Bau Akram, dapat dijadikan tonggak dalam membantu kesejahteraan seluruh umat di Mamuju.

Begitu juga harapan yang disampaikan Raja Gowa, PYM Andi Kumala Ijo, melalui penghargaan yang diberikan pada Maradika Mamuju. Penghargaan itu merupakan simbol persahabatan antara Kerajaan Mamuju dan Gowa.

“Penisbatan ini adalah milik kita bersama. Kebersamaan kita semua sebagai keluarga besar Kerajaan Mamuju. Menjadikan Mamuju sebagai Sapo Kayyangna To Mamuju. Susah senang kita bersama, apa pun masalah yang dihadapi,” kata PYM Bau Akram.

Tanggung jawab sebagai Maradika Mamuju merupakan tugas berat. Utamanya dalam menjaga dan melestarikan nilai budaya sebagai kearifan lokal melalui pendekatan setiap individu, di tengah gempuran budaya luar yang terus menerobos di setiap sendi-sendi kehidupan.
Dengan demikian, Mamuju sebagai daerah heterogen bakal menjadi percontohan dengan keanekaragaman yang tak banyak dimiliki daerah lain. Olehnya, hal tersebut patut dipertahankan.

Atas kerendahan hatinya, PYM Andi Bau Akram mengajak semua pihak bekerja sama menjalankan tugas-tugas berat itu. Termasuk menjaga keanekaragaman suku bangsa di Bumi Manakarra. Sebab, kemajemukan memegang peran penting dalam majunya sebuah bangsa.

Hal lain, budaya lokal dapat dijadikan sebagai salah satu investasi masa depan, di tengah era peradaban dunia yang semakin ketat.”Saya tidak bisa sendiri menjalankan amanah ini. Saya membutuhkan lembaga dewan adat dan seluruh kerajaan untuk bersama-sama menyatukan visi dan misi. Sebab, Mamuju punya warisan yang sangat besar dan tidak dimiliki daerah lain,” terang PYM Bau Akram.

Namun, dirinya tetap percaya, dapat menjadi raja yang baik bagi seluruh warga Mamuju. Kuncinya, tetap bersikap rendah hati dan bijaksana, seperti yang selalu diajarkan dan diingatkan orang tua maupun keluarga besar kerajaan Mamuju.

“Saya juga berterima kasih kepada Yang Mulia Andi Amir DAI yang telah memberikan masukan. Kita sama-sama membangun Kerajaan Mamuju. Terima kasih kepada ibunda saya yang telah banyak mendukung saya. Kepada istri dan anak saya juga,” ujarnya.

Raja Gowa ke XXXVIII, PYM Andi Kumala Idjo mengungkapkan, persahabatan antara Kerajaan Mamuju dan Kerajaan Gowa sudah lama terjalin sejak ratusan tahun silam. Suatu kehormatan dapat menyaksikan pelantikan Maradika Mamuju ke XII.

“Raja Mamuju ini adalah pelanjut menjaga kelestarian kerajaan. Terutama menjaga berbagai hal seperti kearifan lokal. Kedepan, Mamuju akan terus berkembang dan bisa mendatangkan wisatawan. Kami hadir memberikan rahmat. Saya kira masyarakat Mamuju sangat mengharapkan kearifan lokal terus dijaga bersama-sama,” ungkapnya.

Galaggar Pitu, Thamrin Syakur berharap, Maradika Mamuju yang masih tergolong muda itu membuat terobosan baru dalam pelestarian kebudayaan di Mamuju. “Ini merupakan hari pertama Kerajaan Mamuju dinahkodai anak muda. Pesan sebagai Galaggar Pitu mengharapkan kerja sama, persatuan dan kesatuan,” sebutnya.

Di tempat yang sama, Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi berharap, momentum tersebut tetap sakral mesti di tengah pandemi. Hal itu menandai tonggak baru upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang harus tetap dipertahankan.

Ia juga meyakini, eksistensi Kerajaan Mamuju dapat didorong menjadi sentral pusat pelestarian budaya. Sehingga tidak hilang ditelan kemajuan zaman.

“Saya percaya di bawah kepemimpinan Maradika Mamuju yang baru, akan melanjutkan pondasi yang telah disusun Maradika Mamuju sebelumnya,” tandas Sutinah. (***)

Komentar

News Feed