oleh

Pengebom Ikan Masih Marak, Polisi Ringkus 11 Nelayan

MAMUJU – Penangkapan ikan secara ilegal dengan menggunakan bom ikan masih marak dilakukan beberapa nelayan di Mamuju. Hal itu tak hanya merusak biota laut, namun juga membahayakan nelayan itu sendiri.

Menyikapi hal tersebut, Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Polairud) Polda Sulbar, pun rutin melaksanakan patroli dan menemukan 11 orang nelayan yang sedang melakukan pengeboman ikan di wilayah perairan Pulau Sabakattang, Kecamatan Kepulauan Balabalakang, Mamuju, pada Sabtu 11 September.

Kabid Humas Polda Sulbar, Kombes Pol Syamsu Ridwan mengatakan, setelah tertangkap tangan 11 nelayan tersebut kemudian ditangkap dan diamankan Sat Polairud Polda Sulbar, untuk kemudian ditetapkan tersangka.

“Dari 11 tersangka, sembilan di antaranya merupakan warga Kabupaten Mamuju, satu orang warga Majene, dan satu orang warga Balikpapan, Kalimantan Timur. Penangkapan nelayan tersebut dilakukan saat polisi melakukan patroli menggunakan KP Siamasei,” kata Kombes Pol Syamsu, di Mako Polairud Polda Sulbar, Selasa 14 September.

Dari tersangka, lanjut Kombes Pol Syamsu, polisi menemukan barang bukti berupa136 botol bahan peledak terbuat dari Pupuk Calcium Ammonium Nitrate, 96 Detonator, lima unit Aki, enam unit jaring ikan, satu unit kompresor dan satu unit kapal motor.

“Tersangka sudah menggunakan sekira 50 botol bahan peledak untuk menangkap ikan. Kepada polisi para tersangka mengaku telah melakukan hal tersebut sejak dua tahun lalu,” sebut Kombes Pol Syamsu.

Tersangka kini mendekam di Rutan Mako Polairud Polda Sulbar. Mereka disangkakan Pasal 84 Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun penjara.

Pelaksana harian (Plh) Direktur Polairud Polda Sulbar, AKBP Mulyani Ami menyebutkan, selain barang bukti, kata dia, Polairud juga mengamankan 1,4 ton ikan. Ikan tersebut bakal dijual dan hasil penjualannya akan dijadikan barang bukti. Nilainya belum dipastikan.

Menurutnya, polisi rutin melaksanakan patroli setelah menerima banyak laporan dari warga terkait dugaan pengeboman ikan.

“Tersangka sebagian berasal dari Desa Dungkait, Tapalang Barat dan sebagian lagi dari Kalimantan timur. Para tersangka telah melakukan aksinya selama 2 tahun. Polisi masih mencari pemilik kapal,” tandasnya. (ajs)

Komentar

News Feed