oleh

Pencarian Bocah Tenggelam Dihentikan

PASANGKAYU – Pencarian bocah yang diduga tenggelam di Dusun Salupontu, Desa Bambakoro, Kecamatan Lariang telah berlangsung sejak dinyatakan hilang pada 7 Februari, lalu.

Tim yang terlibat terdiri dari Basarnas Mamuju, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasangkayu, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dari Dinsos Pasangkayu, dengan menggunakan dua unit perahu karet.

Pencarian Bocah Tenggelam Dihentikan

Masyarakat setempat juga melibatkan diri menggunakan perahu jenis Katinting, menyusuri tepi sungai Lariang hingga ke muara sungai yang jauhnya sekira dua kilometer dari titik bocah atas nama Pahmi Pratama (10 tahun) itu tenggelam, saat mandi-mandi dengan rekannya, sekira pukul 16.00 wita, 7 Februari.

Kepala Dusun Salupontu, Jamrud yang juga kerabat anak yang hilang tersebut menerangkan, berbagai cara telah mereka lakukan untuk menemukan jasad Pahmi, namun tidak membuahkan hasil. Tim juga telah maksimal.

“Kami menggunakan jasa paranormal dengan harapan keponakan kami itu bisa ditemukan dengan cara gaib, tapi hasilnya juga nihil. Kami juga melakukan pencarian di darat, dengan menyisir setiap anak sungai, karena jangan sampai anak ini dibawah oleh Buaya. Penyisiran ditempat yang sama itu kami lakukan setiap hari, tapi tidak ada juga kami temukan tubuhnya,” terang Jamrud, Jumat 12 Februari.

Untuk menemukan tubuh bocah itu, Tim SAR juga membuat ombak buatan disekitar Pahmi hilang, dengan harapan tubuhnya bisa muncul dipermukaan air jika memang tenggelam ke dasar sungai.

Kepala BPBD Pasangkayu, Mulyadi Halim menjelaskan, berdasarkan SOP, jika tidak membuahkan hasil, pencarian korban hilang itu hanya dilakukan selama satu pekan sejak kejadian.

Katanya, kesimpulan setelah pencarian dihentikan itu ada dua opsi. Salah satunya bisa terjadi dimakan buaya dan tubuh Pahmi Pratama dibawa ke tempat yang aman yang tidak terganggu oleh manusia.

“Bisa tenggelam tidak terapung dan hanyut dibawa permukaan dasar pasir sungai. Bisa tersangkut dikayu dasar pasir sugai, sehingga sulit terapung, menjadi penyebab tim pencarian susah menemukan mayatnya. Apalagi peralatan untuk melakukan pencarian juga kurang memadai,” jelas Mulyadi, Minggu, 14 Februari.

Pencarian dihentikan, baik Basarnas, BPBD dan Tagana semuanya telah balik dari dusun Salupontu, itu ditarik pada Sabtu sore, 13 Februari.

Mulyadi juga menjelaskan, bahwa ia mendapat cerita dari masyarakat setempat, setiap orang hilang di sungai Lariang, mayatnya itu tidak pernah ditemukan.

“Kondisi sungai Lariang punya cerita yang aneh-aneh menurut masyarakat di desa itu. Setiap orang hilang di sungai ini mayatnya tidak ditemukan,” kata dia menambahkan. (r3/rul)

Komentar

News Feed