oleh

Pembangunan Manusia Berbasis Gender di Polman

-Opini-2.144 views

29 Desember lalu, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) genap berusia 61 tahun. Banyak catatan pencapaian 61 tahun kabupaten ini yang dijabarkan sangat baik dalam peringatan ulang tahun dan dibagikan di media sosial facebook Pemkab Polman.

Oleh: Septika Dwi (Statistisi Pertama BPS Kabupaten Polewali Mandar)

Salah satu catatan yang disebut ialah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar.

Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. IPM juga memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat pencapaian pembagunan manusia. Semakin tinggi nilai IPM suatu daerah, menunjukkan bahwa pencapaian pembangunan manusianya semakin baik.

Keberhasilan pembangunan bergantung pada peran serta seluruh penduduk, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, kenyataannya masih ada ketimpangan antara pembangunan laki-laki dan perempuan. Bagi sebagian orang, terkadang masih keliru mengartikan istilah gender. Gender bukan dimaknai sebagai perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan dalam arti biologis. Pemaknaan gender mengacu pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, perilaku, kegiatan serta atribut yang dikonstruksikan secara sosial (Kementerian PPPA).

Isu gender menjadi salah satu hal penting yang dicantumkan dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan, baik pada tingkat nasional maupun global.

Isu gender juga menjadi salah satu poin dalam tujuan pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) yang tercantum dalam tujuan ke-5 yaitu “Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan”. Selain secara khusus dicantumkan dalam tujuan kelima, isu gender juga tercakup pada hampir seluruh tujuan dalam SDGs.

United Nations Development Programme (UNDP) yang menyusun konsep IPM, mengembangkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) sebagai turunan IPM.

IPG merupakan rasio antara IPM perempuan dan IPM laki-laki, dimana semakin mendekati 100, maka semakin rendah kesenjangan pembangunan manusia antara perempuan dan laki-laki. Adanya ukuran terpisah antara IPM laki-laki dan IPM perempuan, maka analisis tentang kualitas hidup masing-masing kelompok gender dapat dilakukan secara parsial.

Kualitas manusia dalam IPM diukur dari tiga dimensi. Yaitu meliputi dimensi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Adapun komponen pembentuk IPM yang digunakan adalah Angka Harapan Hidup (AHH) saat lahir yang mewakili dimensi kesehatan, Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang mewakili dimensi pendidikan, serta Pendapatan Nasional Bruto (PNB) perkapita yang mewakili dimensi ekonomi.

AHH saat lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH saat lahir mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat.

Selanjutnya, HLS didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak berusia 7 tahun ke atas di masa mendatang.

Sementara itu, RLS didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal.

Angka tersebut ada sampai tingkat kabupaten/kota, tapi PNB perkapita yang mewakili dimensi ekonomi tidak tersedia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Sehingga diproksi dengan menggunakan pengeluaran per kapita yang disesuaikan dari data SUSENAS.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan IPM Polman dari tahun 2017-2019, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Tetapi angka IPM perempuan lebih rendah dibandingkan angka untuk laki-laki. Tahun 2019, IPM laki-laki sebesar 67,32. Sedangkan perempuan sebesar 61,66. Kemudian IPG Polman tahun 2019 menunjukkan angka 91,57, turun 0,30 poin dari tahun sebelumnya yang sebesar 91,87. Setelah sebelumnya sempat naik, dimana pada tahun 2017 IPG Polman menunjukkan angka 91,22.

Komponen yang membuat IPM perempuan lebih rendah adalah angka RLS yaitu sebesar 7,01. Sementara laki-laki 7,61 pada tahun 2019. Artinya, perempuan di Polman mengenyam pendidikan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Selain RLS, komponen yang membuat IPG rendah adalah tingkat ekonomi. Dimana rasio pengeluaran per kapita yang disesuaikan antara perempuan dan laki-laki sebesar 0,60. Nilai yang masih cukup jauh di bawah satu menunjukan kesenjangan antara pendapatan perempuan dan laki-laki di Polman masih cukup besar.

Melihat data, sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih pada peningkatan dimensi pendidikan dan ekonomi. Tentunya juga tanpa mengesampingkan pembangunan dimensi kesehatan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengedukasi masyarakat, khususnya perempuan, untuk menuntaskan pendidikan sampai wajib belajar terpenuhi.

Kemudian dari segi dimensi ekonomi, mendorong perempuan masuk ke pasar tenaga kerja dan memberi kesempatan sama kepada perempuan untuk memasuki lapangan usaha tertentu.

Dengan demikian, diharapkan capaian dimensi pendidikan dan ekonomi akan meningkat hingga akhirnya IPG pun meningkat. (***)

Komentar

News Feed