oleh

Pembangunan Infrastruktur Terus Berlanjut, Solutifkah?

-Opini-1.238 views

MENURUT American Public Works Association (Stone,1974 dalam Kodoatie, R.J., 2005), infrastruktur adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan serupa, untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi.

Oleh: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Sosial)

Awal 2021 mendatang, setidaknya proyek senilai puluhan triliun mulai dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dirjen Pembiayaan Infrastruktur PUPR, Eko D. Heripoerwanto, mengatakan proyek yang akan digarap ini melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Pada kuartal I-2021, direncanakan pelaksanaan pengadaan Badan Usaha Pelaksana untuk enam ruas jalan tol, sepanjang 208,73 km dengan biaya investasi Rp70,47 triliun. Serta satu proyek SPAM Regional berkapasitas 9700 liter/detik dengan biaya investasi Rp 5,9 triliun. Salah satu ruas tol yang masuk kuartal I adalah Jalan Bebas Hambatan Mamminasata 48,12 Km, Rp 9,87 triliun.

Dirjen Bina Marga, Hedy Rahadian mengatakan sebagian besar rencana pembangunan tol yang ditargetkan itu akan menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha alias KPBU.

Tak dapat dipungkiri, himpitan ekonomi dan berbagai masalah lainnya mendera negeri ini. Di tengah pandemi Covid-19 yang cenderung meningkat pasca Pilkada serentak per 9 Desember, tak menyurutkan langkah pemerintah tetap menggenjot pembangunan infrastruktur.
Solutifkah di Tengah Jeritan Rakyat?

Bank Indonesia (BI) melaporkan, hingga Agustus 2020, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat jadi USD413,4 miliar, atau sekitar Rp6.074 triliun (kurs Rp14.693 per USD).

Selanjutnya, laporan Bank Dunia bahwa Indonesia termasuk 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan jumlah ULN terbesar pada 2019. Angka yang fantastis.

Di saat utang negara terus melaju, pembangunan infrastruktur rasanya kurang tepat. Ditambah lagi, skema pembiayaan yang melibatkan badan usaha diduga akan banyak pihak yang ‘bermain’ di dalamnya. Apalagi, negeri ini memang belum clear terkait revolusi mental yakni korupsi. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur dinilai banyak pihak sebagai ‘lahan basah’ dan tak solutif. Terlebih, saat ini rakyat lebih membutuhkan pemenuhan kebutuhan pokoknya.

Adanya skema pembiayaan berbasis utang ribawi, juga berpotensi besar menambah utang negara. Sekuler kapitalis sebagai asasnya, meniscayakan terjadinya hal tersebut. Kongkalikong antar penguasa dan pengusaha sulit dielakkan. Tak mengherankan jika korupsi masih terus menggurita di hampir semua lini, walau dana bansos pun akhirnya dikorup. Inilah bukti rusaknya sistem buatan manusia, makhluk lemah dan terbatas.

Islam Solusi Paripurna

Islam hadir sebagai satu-satunya solusi paripurna, karena bersumber dari Sang Pencipta manusia dan seluruh isi semesta. Berdasar akidah Islam, seluruh pengurusan rakyat dilaksanakan oleh negara secara amanah.

Hal ini sudah terbukti selama 13 abad, roda perekonomian tetap stabil walau di tengah pandemi. Karantina, yakni memisahkan antara yang sakit dan yang sehat dilakukan sejak awal wabah, sehingga peta penyebaran bisa terdeteksi. Rakyat yang sakit segera diberi pengobatan terbaik dan aktivitas rakyat yang sehat tetap berjalan normal.

Terkait infrastruktur, Islam adalah contoh terbaik sepanjang peradaban manusia. Infrastruktur yang dibangun, hingga saat ini masih bisa kita saksikan, antara lain Jembatan Cordova dan Masjid Jami’ Cordova. Kekokohan dan arsitektur yang indah adalah gambaran kemajuan dan kegemilangan peradaban Islam kala itu, saat Eropa masih dalam kegelapan.

Hal yang juga tak kalah urgen adalah pembiayaan berasal dari kas negara (baitul mal). Sistem ekonomi Islam tidak mengenal adanya transaksi ribawi seperti utang berbunga. Pemasukan baitul mal dari banyak sektor, salah satunya dari Sumber Daya Alam (SDA).

Secara mandiri dan berdaulat, mengelola SDA tanpa intervensi negara lain. Membuat roda perekonomian tetap stabil tanpa utang. Sungguh pengelolaan yang paripurna.

Alhasil, kejayaan dan kesejahteraan umat manusia tercipta saat sistem Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Lalu, mengapa mengambil sistem alternatif yang sudah terbukti rusak dan merusak? Benarlah firman Allah Swt. dalam QS. Al-A’raaf:96, yang artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” Wallahua’lam bish Showab. (***)

Komentar

News Feed