oleh

Pelantikan Maradika Mamuju, Putra Mahkota Naik Tahta

MAMUJU – Putra Mahkota Mamuju, Andi Bau Akram Maksum DAI, bakal dilantik menjadi Raja Mamuju atau Maradika Mamuju. Menggantikan ayahnya Andi Maksum Dai, yang telah mangkat tepat setahun yang lalu.

Pelantikan dilaksanakan di Rumah Adat Mamuju, sekira pukul 09.00 Wita, Rabu 15 September. Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan perwakilan Kerajaan Badung di Mamuju, direncanakan hadir dan menyaksikan prosesi sakral tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Mamuju, Usdi, memastikan prosesi pelantikan bakal sesuai ketentuan internal lembaga adat Mamuju. Diawali dengan doa, pelantikan dan pengukuhan serta sambutan raja yang sudah dilantik. Tari Sengo-sengo juga bakal ditampilkan.

“Ritual khusus sudah dilaksanakan tadi pagi (kemarin,red). Pemotongan kerbau. Karena pada saat raja dilantik, dia harus duduk di atas kepala kerbau. Kerbau sebagai simbol kekuatan. Raja harus memiliki sikap berani, jujur, bijaksana dan adil,” sebutnya.

Usdi mengaku, rencana pelantikan raja awalnya dilaksanakan pada 13 Juli lalu. Sehari sebelum Hari Jadi Mamuju. Hanya saja, saat itu tingkat penularan Covid-19 sangat tinggi. Lembaga adat pun memutuskan mengundur pelantikan tersebut.

“Rencana Kerajaan Gowa dan Badung hadir. Mungkin kalau tidak PPKM, kami undang semua kerajaan,” terang Usdi.

Usdi mengaku, panitia juga telah mendapat izin dari Polresta Mamuju terkait pelaksanaan pelantikan di tengah PPKM ini. Putra mahkota telah berkoordinasi juga dengan pihak kepolisian dan Satgas Covid-19.

“Kepolisian memberikan ruang. Dengan catatan, tetap memperhatikan prokes. Rencana awal kami undangan 300 orang, tapi karena prokes hanya 100 orang saja,” tandasnya.

Putra Mahkota yang akan dilantik, Andi Bau Akram Maksum DAI mengatakan, hal utama yang ingin dilakukan adalah melestarikan nilai-nilai budaya dan menjaga agar kearifan lokal tetap diterapkan di kehidupan sehari-hari. Tak kalah penting, Bau Akram menginginkan, agar Mamuju sebagai daerah heterogen tetap nyaman dan tentram. Baik sebagai tempat tinggal, mencari nafkah, investasi dan lain sebagainya.

Ia mengaku, ketika sudah menjadi orang Mamuju, wajib menjaga sikap toleransi yang sudah diturunkan pendahulu. Sehingga warga Mamuju tetap bisa kompak dan berkehidupan lebih baik. “Mamuju ini heterogen. Semua agama, ras dan suku ada di sini. Kami mau Mamuju tetap menjadi Sapo Kayyangna To Mamuju. Artinya kita berhimpun di dalamnya dan merasakan semua kenyamanan, keamanan dan ketentraman di dalamnya,” kata Bau Akram, saat dikonfirmasi, Selasa 14 September.

Selain itu, pemerintah dalam membangun masyarakat di Mamuju. “Kerajaan selalu menginginkan warganya sejahtera,” ujarnya. Bau Akram mengaku, pelantikan bakal dihadiri semua keluarga besar kerajaan di Mamuju. Meski, prokes tetap diutamakan. (ajs/dir)

Komentar

News Feed