oleh

Pasar Kawasan Regional Lebih Besar dan Menjanjikan

ANTARANEWS.COM–Duta Besar Chile untuk Indonesia Gustavo Ayares menilai Indonesia perlu membuka pasar yang lebih luas ke suatu kawasan regional, bukan hanya ke sejumlah negara-negara non tradisional.

“Indonesia sebaiknya tidak hanya fokus ke negara non tradisional tapi juga ke kawasan regional yang pasarnya lebih besar,” katanya dalam diskusi Diplomasi Ekonomi Indonesia di Pemerintahan ke 2 Presiden Jokowi di Jakarta, Kamis 28 November.

Ia mencontohkan nilai perdagangan Chile dan Indonesia secara bilateral mencapai 290 juta dolar AS. Namun, jumlah itu tidaklah seberapa jika dibandingkan perdagangan dengan negara lain seperti Thailand yang sebesar 1,2 miliar dolar AS.

“Maka Indonesia harus terhubung dengan Amerika Latin secara keseluruhan, karena kita harus konsolidasi, bertransformasi agar bisa masuk rantai pasok global,” katanya.

Menurut Ayares, hal itu pulalah yang dikejar oleh Chile. Pasalnya, negara yang terkenal akan salmon, tembaga dan kopranya itu akan tertinggal jika tidak bertransformasi.

Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan ekonomi bagi negara berkembang seperti Chile dan Indonesia. Pasalnya, hal itu akan menjadi alat untuk memerangi kemiskinan.

“Kalian (Indonesia), punya unicorn. Kami tidak ada. Makanya kami senang mendengar Presiden Jokowi akan lebih terbuka dan memangkas regulasi. Pesannya hanya, harus global, inklusif dan inovatif,” kata Ayares.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM Indra Setiawan mengatakan Indonesia memang perlu melihat potensi pasar non tradisional.

Oleh karena itu, BKPM mengaku akan berupaya menarik investasi dari negara-negara yang belum masuk daftar 10 teratas investor seperti dari sejumlah negara di Eropa hingga Australia dan Amerika yang masih fokus menanamkan modal di sektor pertambangan.

Sedangkan Peneliti Indef Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia masih berada di level bawah dalam rantai pasok global sehingga perlu menarik lebih banyak investasi dengan teknologi yang lebih baik.

“Kalau kita mau menarik investasi kita harus mempertimbangkan soal kawasan regional, kebutuhannya serta menghubungkannya dengan bisnis startup yang ada di Indonesia,” katanya.

Bhima menilai hal itu menjadinpeluang dalam lima tahun mendatang di mana harga komoditas masih rendah dan tidak akan banyak investor yang akan menanamkan modalnya ke industri komoditas barang mentah seperti minyak sawit dan batubara. “Investor akan lebih memilih berinvestasi di startup dan ini jadi peluang,” katanya. (ant)

Komentar

News Feed