oleh

Pasangkayu Dilanda Kelangkaan Bahan Bakar

PASANGKAYU – DPRD Pasangkayu menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Senin 6 Desember.

RDP membahas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta masifnya pengisian BBM menggunakan jerigen. Rapat yang berlangsung di ruang aspirasi DPRD Pasangkayutersebut, hanya dihadiri satu pemilik SPBU dari empat stasiun di Pasangkayu. Juga hadir Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan.

Rapat berlangsung alot lantaran tidak adanya keterbukaan terkait jumlah kendaraan yang masif melakukan pengisian menggunakan jerigen.
Pemilik SPBU Bulu Cindolo, Hasrudin Sokong mengatakan, berdasarkan informasi yang ia terima dari depot di Donggala, Sulteng, kurangnya kuota yang disuplai karena faktor cuaca, sehingga kapal tanker yang melakukan pengantaran dari PT. Pertamina terlambat.

“Untuk pertalite, kami di SPBU Bulu Cindolo mendapatkan kuota 8 ton per hari. Kadang juga 16 ton. Namun, beberapa hari terakhir ini kuota tersebut tidak terpenuhi, sehingga terjadi kelangkaan,” kata Hasrudin.

Sementara, Solar dan Pertamax kuotanya tidak terbatas. Katanya, berapapun dibutuhkan, depot di Donggala pasti akan penuhi.

Khusus pertalite, belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kabupaten Pasangkayu. Selain itu, kendaraan yang melintas dari luar daerah juga berjumlah banyak, sehingga menguras jatah BBM. “Seharusnya di Sulbar ini ada depot tersendiri, sehingga tidak bergantung dari provinsi tetangga,” lanjutnya.

Ketua Komisi II DPRD Pasangkayu, Muslihat Kamaluddin, yang memimpin RDP tersebut mengatakan, kuota BBM dari depot ke SPBU di Pasangkayu berkurang.

“Seharusnya kendaraan pribadi dan plat merah itu menggunakan BBM jenis Pertamax, bukan pertalite. Sehingga kuota BBM yang seharusnya dinikmati masyarakat kalangan bawah, terpenuhi,” papar Muslihat.

Anggota Komisi II DPRD Pasangkayu, Yani Pepi Adriani, mengusulkan untuk setiap pengecer BBM harus memiliki badan usaha. Jika tak memiliki izin, jangan dibiarkan melakukan pengisian di SPBU.

“Kalau berbadan usaha, selain mempermudah masyarakat di pelosok yang membutuhkan BBM, juga berdampak kepada PAD,” sebut Yani.

Diharapkan pemilik SPBU memprioritaskan kendaraan umum saat melakukan pengisian ketimbang yang menggunakan jerigen. “Saya pernah mengisi BBM jauh malam, tapi yang di prioritaskan pengisian jerigen dan sempat saya marah-marah baru dilayani. Jadi saya harap, hal seperti ini tidak terjadi lagi,” pungkas anggota dewan lainnya, Lubis. (asp/jsm)

Komentar

News Feed