oleh

“Paparandang di Litaq Mandar”

JIKA sejarah perlu dicatat dan memang harus, maka kita pun bertanggung jawab terhadapnya. Ulama-ulama di masa silam, selain menjadi tokoh agama, juga menjadi mentari yg turut menyumbangkan cahaya dalam pengetahuan dan serta patut diperhitungkan dalam pendidikan pun kehidupan.

Oleh: Aad Mandar

Sunan Kalijaga misalnya, yang terkenal sangat dekat mengantarkan masyarakat melalu falsafah kehidupan masyarakat Jawa saat itu, dengan pendekatan seni dan budayanya. Begitupun Sunan Bonang, hingga KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah yang kemudian masyhur dengan gelar Sang Pencerahnya.

"Paparandang di Litaq Mandar"

Saya perkenalkan sosok “Papparandang” Ulama masyhur dari tanah Mandar, KH. Muhammad Tahir yang kelak mendirikan masjid Imam Lapeo dan kemudian dikenal dengan julukan Imam Lapeo dan diyakini sebagai waliyullah dari Jazirah Mandar.

Bagi saya, sebelum melukis sosok beliau dengan membaca berbagai karomah dan cerita yang tertutur di masyarakat.

Saya kemudian memberanikan diri menyebut beliau sebagai “Papparandang di Litaq Mandar” sebagai representasi bagaimana peran beliau menjernihkan keimanan masyarakat Mandar dengan perjuangannya dalam berdakwah di tengah masyarakat saat itu dengan suasana yang keruh. Untuk itu, patut kiranya kita kenang dan teladani di keruhnya zaman milenial saat ini. (*)

Komentar

News Feed