oleh

Pantang Menyerah

-Kolom-1.888 views

NAMANYA Ishak, mahasiswa Universitas Terbuka (UT), Program Studi Akuntansi. Sejak pertama saya datang ke Majene, kisahnya sudah saya dengar dari teman-teman kantor.

Setamat SMA, Ishak diterima bebas tes di ITB. Namun saat masuk semester 5 di ITB, ia terpaksa putus kuliah dikarenakan Ayahnya meninggal dunia.

Ia yang sebelumnya sudah menjadi piatu, harus pulang kampung. Sebab sepeninggal kedua orangtuanya, ia menjadi tumpuan harapan bagi 9 adik-adiknya.

Tiada lagi Ayah dan Ibu. Membuatnya di usia mudah, sudah harus memikul beban berat, menggantikan peran orang tuanya.

Karena cerdas, ada Alumni ITB yang sebenarnya berkenan membantunya agar Ishak tetap melanjutkan kuliahnya di ITB. Namun ia tetap memilih pulang kampung di Polewali.

“Alumni ITB tersebut juga menawarkan rumahnya untuk saya dan adik-adik tempati di Bandung. Tapi tentu tidak segapang itu, memboyong adik-adik ke Bandung butuh pertimbangan yang matang” kisahnya saat pertama bertemu dengan saya.

Walaupun Ishak kekeh untuk pulang kampung, sang Alumni ITB tetap membantu Ishak. Bersama alumni lainnya yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, mereka patungan mendirikan rumah layak huni bagi Ishak dan adik-adiknya.

Sejak saat itulah Ishak menjalankan peran sebagai Ayah sekaligus Ibu bagi adik-adiknya.

Namun dengan kondisi yang serba kekurangan, Ia tidak lantas berputus asa. Bahkan saat mendengar UT membuka pendaftaran mahasiswa baru, Ia pun mendaftar dan akhirnya kuliah di UT.

“Kata Om saya di UT kita bisa kuliah sambil bekerja, sistem kuliahnya yang fleksibel membuat saya punya banyak waktu mencari pekerjaan,” kisahnya.

Saat ia mendaftar di UT Majene, teman-teman staf UT Majene pun terharu mendengar kisahnya. Saat itu mau diuruskan beasiswa Bidikmisi atau beasiswa CSR UT, namun syarat tahun lulusnya sudah lebih dari 3 tahun. Tidak memenuhi lagi syarat.

Akhirnya teman-teman sepakat, beban SPP Ishak mereka yang tanggung. Bukan hanya itu, teman-teman juga rutin setiap bulan patungan untuk uang bulanan Ishak, agar ia dan adik-adiknya dapat tetap bersekolah.

Sekarang Ishak sudah semester 6. Sementara adik pertamanya (anak kedua) saat ini sedang menempuh S2 di IAIN Pare-Pare.

“Saat S1 dulu ia mendapat beasiswa, dari beasiswanya tersebut adik saya menabung sedikit demi sedikit sehingga bisa terkumpul untuk mendaftar S2,” kisahnya.

Adapun Adiknya yang lain, ada yang masih SMA, SMP dan SD. “Kalau yang bungsu belum sekolah,” lanjutnya.

Agar dapat hidup bertahan hidup, Ia kini berbisnis Gula Aren dan berternak Sapi. Usaha itu dirintis bersama temannya.

“Teman yang belikan sapinya, jadi saya yang merawatnya, jika beranak maka anak pertamanya jadi milik saya, selanjutnya beranak lagi akan jadi milik teman, begitu seterusnya secara bergantian,” ujarnya penuh semangat menceritakan bisnisnya.

“Saya tidak ingin hanya mengharapkan belas kasih keluarga dan orang lain, maka saya harus berusaha tetap kerja,” jelasnya menutup perbincangan kami saat itu.

Terimakasih Ishak, kau telah mengajarkan kami arti perjuangan yang sesungguhnya. Semoga sukses selalu untukmu dan untuk adik-adikmu. (***)

Komentar

News Feed