oleh

Panen Perdana Pengembangan Klaster Udang Vannamei

PANGKEP–Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan meresmikan panen perdana Program Pengembangan Klaster udang Vannamei yang dikelola kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Sahabat Solo di Kampung Solo, Kelurahan Mappasaile, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Selasa 10 Desember.

Pada peresmian panen perdana udang Vannamei itu diawali dengan penandatangan nota kesepahaman antara pihak BI Sulsel dan Ketua Pokdakan Sahabat Solo disaksikan Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KpW BI Sulsel Endang Kurnia Saputra di Pangkep, Selasa, mengatakan, selain bertugas sebagai bank sentral juga membantu perkembangan ekonomi di daerah. Karena itu, pihak BI melakukan pembinaan dan pendampingan kelompok masyarakat di lapangan.

Khusus untuk bantuan kepada kelompok petambak di Pangkep, lanjut dia, diberikan dalam bentuk modal, bibit maupun tenaga ahli. Sedang pemilihan pada Sahabat Solo karena dinilai memiliki motivasi dan itikad untuk bekerja. ”Dengan sistem baru yang diperkenalkan ini diharapkan pola lama yang biasanya hanya menghasilkan 800 kilogram per hektare (ha), semoga kedepannya bisa menghasilkan 8 ton per ha,” kata Endang.

Menurut Endang, Kabupaten Pangkep aktivitas perekonomiannya tergolong baik sehingga pertumbuhannya mencapai 7,1 persen menghampiri pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tercatat 7,7 persen.

Hal itu dibenarkan Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid pada kesempatan yang sama. Dia mengatakan, Kabupaten dikenal sebagai penghasil ikan bandeng dan udang. Karena itu, pihaknya senantisa mendorong para petambak untuk mengubah pola pikir dalam membudidayakan perikanan air payau ini.

”Biasanya masyarakat baru mau berubah kalau melihat contoh, jadi dengan tambak percontohan binaan BI ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi petambak lainnya menggunakan sistem mekanisasi dan intensifikasi,” katanya

Sementara itu Ketua Pokdakan Sahabat Solo, Firman mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih mendapatkan pembinaan dari BI Sulsel. Dari pengalaman dan praktik yang diperoleh ini nanti akan ditularkan ke kelompok lainnya.

Sebelumnya, jelas putra daerah ini, petambak hanya menggunakan pola tradisional dalam membudidayakan udang di tambak tanpa terpal dan tidak menggunakan kincir air untuk sirkulasi oksigen, sehingga hasilnya hanya rata-rata 1,5 ton per hektare. Sementara dengan pola baru dengan kincir air dan terpal, maka diyakini dapat menghasilkan sedikitnya 3 ton hingga 4 ton per ha.

“Untuk hasil produksi kami tidak susah lagi mencari pasar, karena perusahaan eksportir PT Bomar sudah menandatangani nota kesepahaman sebagai mitra pembeli udang kami,” katanya. (ant)

Komentar

News Feed