oleh

Panasnya Harga Minyak Goreng Picu Inflasi Mamuju

-Opini-3.468 views

MINYAK goreng adalah komoditas yang paling mudah kita temukan di dapur. Sebagian besar aktivitas para ibu di dapur ditemani oleh komoditas ini. Apalagi jika menu yang disiapkan diolah dengan cara menggoreng.

Oleh: Dina Srikandi, SST., M.Si
– Statistisi pada BPS Sulbar

Sehingga jangan heran bila harga komoditas ini mengalami kenaikan cukup tinggi, maka para ibu rumah tanggalah yang paling merasakan dampaknya. Tentu saja dengan dana belanja yang tetap, kenaikan harga minyak goreng akan memaksa para ibu mengatur ulang dana belanjanya.

Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar yang biasanya digunakan menggoreng. Di Indonesia, minyak goreng yang paling sering digunakan adalah yang berasal dari lemak tumbuhan yaitu minyak goreng sawit.

Kondisi ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara penghasil sawit, minyak ini juga cukup ideal dari segi harga dan ketersediaan. Jika harus mengimpor jenis minyak nabati yang tidak bisa diproduksi di Indonesia, tentu membutuhkan biaya yang besar.

Ini akan mempengaruhi harga jual, sehingga hanya dapat dikonsumsi golongan masyarakat tertentu. Apalagi, minyak goreng sawit memiliki banyak keunggulan dibanding jenis-jenis minyak lain dan cocok dengan kebiasaan menggoreng yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan makanan.

Dari berbagai industri produk makanan dan minuman, minyak goreng merupakan salah satu industri makanan dan minuman yang mengalami perkembangan sangat pesat. Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi keluarga yang digunakan untuk keperluan sehari-hari sehingga peluang bisnis nya cukup menarik bagi produsen.

Harga Minyak Goreng di Mamuju

Mamuju sebagai salah satu kota IHK atau kota Inflasi juga ikut merasakan dampak kenaikan harga minyak goreng. Pada 1 Desember 2021, BPS Sulbar mengumumkan secara resmi Inflasi Mamuju November 2021 sebesar 0,33 persen dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah minyak goreng.

Minyak goreng mengalami inflasi sebesar 15,27 persen yang memberikan andil sebesar 0,27 persen terhadap inflasi Mamuju. Hal ini merupakan kali pertama sepanjang tahun 2021 komoditas minyak goreng muncul sebagai komoditas utama penyumbang inflasi.

Harga minyak goreng mulai menanjak naik sejak dua bulan lalu, namun baru memberikan dampak signifikan pada pembentukan inflasi Mamuju pada November 2021. Hal ini disebabkan pada bulan sebelumnya masih ada pedagang yang menjual stok lama, sehingga secara rata-rata kenaikan harga minyak goreng hanya memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen.

Penyebab Naiknya Harga Minyak Goreng

Salah satu penyebab naiknya harga minyak goreng adalah naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar internasional. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementrian Perdagangan (Kompas.com).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan harga CPO dunia pada September 2021 mencapai US$1.235 per ton. Harga ini mengalami kenaikan jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi US$1.226 per ton.

Kenaikan harga CPO ini ditengarai disebabkan menurunnya produksi CPO di sejumlah negara pemasok, termasuk Indonesia. Produksi CPO Indonesia sebesar 4.176 ribu ton pada September 2021 atau turun sebesar 1 persen dibandingkan produksi bulan sebelumnya. Akibatnya pasokan (supply) CPO yang terbatas mengganggu rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng.

Selain itu, besarnya nilai ekspor minyak sawit Indonesia juga turut memberi andil. Hal ini sejalan dengan data ekspor yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 15 November 2021, dimana nilai ekspor produk industri pengolahan naik 3,61 persen pada bulan oktober 2021 dengan nilai ekspor sebesar 16.066,5 juta US$ dibandingkan bulan September 2021 sebesar 15.507,2 juta US$ yang disumbang oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit.

Bila harga minyak goreng terus mengalami kenaikan dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan harga pada barang-barang hasil industri pengolahan yang salah satu bahan baku utamanya adalah minyak goreng.

Menjelang natal dan tahun baru, permintaan CPO biasanya akan melonjak, yang imbasnya dapat menyebabkan harga minyak goreng akan terus terkerek naik. Menghadapi hal ini pemerintah harus terus berupaya menjaga pasokan dan harga minyak goreng dalam negeri. Sebagai upaya mewujudkan hal tersebut, pemerintah perlu meminta kepada asosiasi dan produsen minyak goreng sawit agar tetap memproduksi minyak goreng baik curah maupun kemasan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memberikan stimulus kepada produsen minyak goreng berupa subsidi kenaikan harga bahan baku/CPO atau subsidi kenaikan harga minyak goreng ke konsumen yang ditanggung oleh pemerintah.

Untuk minyak goreng kemasan dapat diproduksi dalam bentuk kemasan sederhana sehingga harganya mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (***)

Komentar

News Feed